Pecinta Alam Dan Gerakan Lingkungan

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.” Soe Hoe Gie. 

534911_333677573409043_1179392674_nDi era tahun 1960-an, siapa yang tidak kenal dengan Soe Hoe Gie di Universitas Indonesia. Begitupun dengan Pecinta Alam sekarang, pasti mengetahui Soe Hoe Gie. Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. 

Secara empirik gerakan radikal mahasiswa  menentang  rezim Sukarno dimulai pada tanggal 10 Januari 1966. Mahasiswa  turun ke jalan dengan jargon-jargon yang diusung   bertuliskan tentang  tuntutan amanat penderitaan rakyat. Bukan yel-yel tentang parpol dan kehebatan sang tokoh-tokoh tertentu, melainkan hujatan-hujatan kepada menteri-menteri yang korup.  Mahasiswa mendatangi  gedung-gedung  tempat bercokolnya para menteri kabinet dan mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong sambil menyodorkan tiga tuntutan pokok (tritura) yaitu (1)  pembubaran PKI Sekarang Juga, (2)  ritul kabinet Dwikora dari menteri-menteri goblok dan Gestapu, (3) cabut peraturan –peraturan Pemerintah  yang Menyulitkan rakyat ( Soe Hok Gie, 1995: 6).

Soe Hoe Gie dan kawan-kawannya sengaja membentuk organisasi Pecinta Alam pada saat itu: karena faktor internal (keinginan anggotanya yang memiliki kesamaan minat), dan faktor eksternal yaitu politik kampus yang terlalu banyak di boncengi oleh kepentingan-kepentingan eksternal dan beraroma “Tai Kucing”. Sehingga, mereka ingin tetap menjadi kelompok independen dengan metode nya sendiri dalam pergerakan untuk menanamkan doktrinisasi cinta pada tanah air.

“Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal akan objek nya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat di tumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Soe Hoe Gie).

Veronica A. Kumurur MSi, juga mengajak organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), untuk bertindak kritis terhadap berbagai produk kebijakan pemerintah di bidang lingkungan saat ini. Pernyataan ini disampaikan oleh Veronika A. Kumumur saat workshop mengenai peningkatan kualitas dan peran mahasiswa pencinta alam (MAPALA), yang diselenggarakan oleh Pusat Peneliti Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Universitas Pattimura Ambon, di Ambon.

Selain itu, Veronica Kumurur juga menyinggung soal prinsip dasar pengelolaan lingkungan alam, yaitu terjalin nya interaksi yang baik antara subsistem alam, subsistem buatan dan subsistem sosial. Jika interaksi itu tidak terjadi, maka hal itu diyakini oleh Veronica sebagai penyebab terjadinya bencana alam, pencemaran, dan kemiskinan.

Kondisi lingkungan saat ini sangat memprihatinkan, yang dipengaruhi beberapa faktor: Perkebunan skala besar, seperti kelapa sawit, dan koorporasi pertambangan. Hal itu mengakibatkan berbagai macam realita sosial: Perampasan tanah petani, intimidasi, diskriminasi, kriminalisasi, pemukulan, hingga pada penembakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Bukan tanpa fakta, di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah misalnya, gunung yang berdiri kokoh, kini telah gundul akibat eksploitasi sumber daya alam, yang katanya dapat mensejahterakan rakyat. Begitupun nasib Cagar Alam Morowali, yang hingga saat ini telah kehilangan “kesakralannya” akibat masuknya Izin Usaha Pertambangan di areal cagar alam itu, yang di legitimasi oleh Bupati Morowali.

Dimana posisi Organisasi Pecinta Alam ditengah kehancuran lingkungan dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat itu? Dimana para penerus Soe Hoe Gie yang kritis dan beridealis tinggi itu? Kemana mereka? Seharusnya organisasi pecinta alam mampu mengadvokasi kasus-kasus lingkungan yang semakin marak terjadi saat ini.

Tulisan ini bermaksud untuk sedikit mengkritik organisasi pecinta alam, walaupun esensi dari pecinta alam itu sendiri, masih banyak yang belum memahami. Titik berat dalam organisasi pecinta alam: adalah sebuah organisasi yang mampu menyelamatkan lingkungan dari keterpurukan. Dari berbagai agenda global yang berbau neoliberalisme. Setidaknya, mampu mengadvokasi segala kebijakan-kebijakan pemerintah yang memang tak berpihak kepada rakyat. Terdapat banyak kasus di lapangan, bahwa rakyat di tembak, di pukul,  didzalimi, tanahnya di rampas dan lain sebagainya. Dan kasus itu terjadi, ketika kaum proletar itu mempertahankan hidup dan kehidupannya. Yang memang benar-benar telah merusak martabat dan hak asasi manusia, juga tak lain dalam agenda merusak lingkungan. Esensi itu, yang kemudian di nobatkan pada kader-kader, atau bahkan lembaga pecinta alam, melakukan suatu tindakan kongkrit yang mampu menghalau agenda tersebut.

Iwan Fals, dalam sebuah lagu nya menyebutkan, “Lestarikan alam hanya celoteh belaka, lestarikan alam mengapa tidak dari dulu?” yang kemudian, jika di cermati secara logika, bahwa ada campur tangan sepenuhnya oleh organisasi pecinta alam. Karena melihat dari nama saja sudah mengarah pada akan cinta-nya kepada alam. Lalu..!! sikap yang ditunjukkan selama ini? Seharusnya apa yang di alami oleh masyarakat Morowali: terjadi banjir ketika eksploitasi tambang tengah berlangsung, terdapat kritikan-kritikan organisasi pecinta alam, atas kerusakan tersebut.

Pun, penulis adalah anggota salah satu organisasi pecinta alam, yang masih banyak belajar, dan mengembangkan diri, dalam kasus-kasus advokasi atas kerusakan lingkungan: akibat ulah dari perusahaan tambang, dan atau perkebunan kepala sawit. Sehingga, penulis bisa di kategorikan mengkritik diri sendiri juga.

Terima kasih.
Bantaya Lanoni, 30 Januari 2013
Referensi:
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20101215/mapala-dituntut-kritis-terhadap-kebijakan-di-bidang-lingkungan.html

Leave a Reply