Hingar Bingar, Ibu Pengais Sampah

285776_2852577372480_785069408_nDiantara barisan-barisan orang kaya, ternyata masih ada sederetan kaum-kaum miskin di pinggiran kota Palu. Dari berbagai ciri khas dan gaya berpakaian mereka, seakan-akan tidak mempunyai keluarga. Mereka memang tidak seberuntung para pengusaha kaya, atau anggota legislatif, apalagi seberuntung Aburizal Bakrie. Namun, satu hal yang perlu diacukan jempol pada mereka, adalah bertahan hidup walau dalam kemiskinan. Dan mencari rezeki dengan cara yang halal. Bukan seperti elit-elit politik ditingkat legislatif dan eksekutif saat ini.

 Ibu yang umurnya sekitar 50-an tahun itu, tidak kenal lelah dalam pencarian nafkah, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Diinginnya malam serta curah hujan yang deras tidak menghalangi langkahnya untuk mencari sesuap nasi. Perjuangan itu bukanlah sekedar perjuangan biasa, bagiku. Namun, sekedar menepis kelelahan tumit kaki dijalanan aspal, bisa memberikan inspirasi yang luar biasa dalam bertahan hidup diperkotaan. Ternyata bukan hanya di alam bebas, dihutan belantara, bisa ada aplikasi survive,diperkotaan pun bisa menemui hal itu. 

Ibu Nani, adalah salah satu orang yang tidak beruntung itu. Ibu yang mengaku tidak mempunyai suami ini, mengais rezeki dengan mengumpulkan botol dan gelas aqua bekas. Kemudian beliau menjual barang-barang bekas itu, untuk sesuap nasi. Dengan bermodalkan karung berwarna putih, ibu Nani mulai melangkahkan kaki diikuti dengan tenggelamnya matahari hingga subuh. Ibu Nani sengaja mengais rezeki dimalam hari. Sebab, ia tidak mampu menahan cahaya matahari dengan mata telanjang.

Kurang lebih 20 tahun, ibu Nani mengais rezeki digerombolan sampah, bahkan sampah berbau amis pun tidak diperdulikan sama sekali. Tentunya waktu 20 tahun,  bukanlah waktu yang relatif singkat. Jika dibandingkan dengan umur manusia, mungkin manusia itu sudah duduk di bangku kuliah sekarang. Semangat hidup dan perjuangan keras selalu menyelimuti jiwanya yang sepi.  Ibu Nani, yang badannya semakin hari semakin kurus itu berdomisili di jalan Tombolotutu. Bisa kita bayangkan jauhnya, ketika ia mencari sesuap nasi sampai ke pasar Inpres Palu barat. Hal ini pun ia lakukan hampir setiap malam.

Bukankah orang kurang beruntung seperti ibu Nani, adalah tanggung jawab pemerintah? Bukankah sepantasnya ibu Nani bukan berkeliaran dijalan memikul karung setiap malamnya itu, mempunyai bantuan sosial? Dimanakah mata, telinga dan, hati pemerintah saat ini? Bukankah ibu Nani dan senasib ibu Nani adalah salah satubarometer keberhasilan kepemimpinan mereka?

Perjuangan ibu Nani dimalam hari, sungguh tidak sebanding dengan daya tubuhnya yang lemah. Tentunya angin malam yang sering memudahkan masuknya penyakit itu, menjadi teman baik ibu Nani, dengan mencari titik-titik rezeki dipersimpangan jalan kota Palu. Hal ini tentunya bukan asumsi, melainkan fenomena fakta yang terjadi disekitaran kota Palu. Palu yang kaya akan sumber daya alamnya, tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Bukan sebagai paradoxbagi ibu Nani, bukan pula takdir yang telah ditentukan. Namun, nasibnya yang belum beruntung dan, menunggu “keberuntungan.”

Faktor Malas? 

Kakinya yang sedikit agak pincang, bukan pula menjadi penghambat, apalagi menghentikan langkahnya dalam pencarian sampah. Walaupun mengais rezeki digumpalan sampah, yang dianggapnya sebagai “emas.” Namun, disisi lain para pengais sampah itu, telah membantu Dinas Kebersihan Kota Palu, untuk membersihkan sampah-sampah yang berserakan.

Sangat menyedihkan jika kita melihat ibu Nani dari dekat. Tubuhnya yang kurus, hitam dan, wajahnya yang peluh nampak keriput. Seakan-akan meminta tolong dan ingin mengatakan, “bantu ibu mengangkat karung ini.” Senyumannya yang terpancar dan, dibalik tubuhnya yang lugu, kurus dengkil, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya. “ingin mengeluarkan air mata kesedihan.”

Dalam dekapan karung putih itu, juga terlihat kelelahan, namun tidak bagi dirinya. Penghasilannya pun tidak lebih dari 50.000/hari. Jika dikaitkan dengan regulasi sebenarnya, setiap orang diatas umur 14 tahun, berhak mendapatkan tanah seluas 2 hektar. Namun, ironisnya ibu Nani sama sekali tidak mendapatkan hak itu. Dimanakah regulasi berpihak? Baru-baru ini telah disahkan UU pengadaan tanah untuk publik. Berarti, bahwa yang memiliki money saja yang berhak memiliki tanah. Bagaimana dengan nasib ibu Nani dan senasib ibu Nani? Tentunya mereka-mereka ini adalah tumbal dari regulasi itu, yang sama sekali tidak berpihak pada mereka.

Ibu Nani tidak bisa dikategorikan orang-orang pemalas. Terbukti, ia, ibu Nani, mencari sesuap nasi dengan cara mengais gumpalan sampah berbau amis selama 20 tahun. Ibu Nani salah satu aktor dari sekian banyak pengais sampah di kota Palu. Sebab, lapangan pekerjaan tidak pernah disediakan oleh pemerintah. (Persembahan; Sebuah Cerita dari teman baru, Titha Tasri Kadasse.)

Discussion

Leave a Reply