Organisasi Kampus, Perlukah?

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

Dalam Konteks Berkehidupan, Berbangsa, dan Bernegara, Mahasiswa Selalu Dianggap Sebagai Sosok yang Dapat Berpikir Kritis, Realistis, dan Dialektis. Bahkan Tak Jarang Sering Radikal dan Revolusioner, (Ari Sulistyanto, 1994).

734797_331653713611429_348006915_nMahasiswa memang sering diidentikkan sebagai Agen of  Change dan Agen of Social Control. Jika merujuk pada pernyataan Ari Sulistyanto, maka seorang mahasiswa berpikir kritis jika ia mengetahui keadaan sosial disekitarnya. Juga, apa yang dikatakan oleh seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia di tahun 60-an, Soe Hoe Gie; “Kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal objeknya, dan mencintai tanah air Indonesia, dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda, harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu Kami naik gunung.” Maka bisa dikatakan bahwa mahasiswa organisatoris-lah yang bisa berbuat seperti itu. Mengapa? Karena mahasiswa berorganisasi peka dengan keadaan sosial, baik di dunia kampus maupun di masyarakat luas. Berbeda dengan mahasiswa yang bukan berorganisasi di kampus, adalah monoton dan setia terhadap kegiatan akademik diluar dari kegiatan organisasi.

Di dunia kampus, terdapat banyak organisasi, atau yang biasa disebut sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), baik ditingkat Fakultas maupun Universitas. Organisasi kampus itu terdiri dari beberapa macam, diantaranya: Pramuka, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA), Seni, Olahraga, Menwa, Pers Mahasiswa, Bela Diri, dan UKM-UKM lainnya. Juga terdapat beberapa himpunan dari berbagai fakultas. Dari situ mahasiswa bisa memilih dan mengembangkan dirinya sesuai minat dan bakat nya masing-masing.

Organisasi kampus, memang mempunyai peranan yang sangat vital, juga mencetak berbagai bentuk karakter mahasiswa. Namun, tidak sedikit mahasiswa  yang belum menyadari akan pentingnya sebuah organisasi kampus. Padahal proses pengembangan diri bukan hanya didapat di bangku kuliah, melainkan banyak terdapat di organisasi. Di bangku perkuliahan, biasanya kita sering mendengarkan ceramah dari seorang Dosen, tak ubah nya seorang guru SD mengajarkan beberapa orang siswanya. Ada juga, hanya membuat tugas makalah atau membuat resume tentang mata kuliah tertentu. Sehingga, mahasiswa menjadi praktis dan bahkan cenderung pragmatis dalam mengikuti perkuliahan.

Ada lagi yang lebih memprihatinkan, bahwa banyak dari mahasiswa hanya untuk menghabiskan waktunya akan hal-hal yang kurang bermanfaat; shooping di Mall, main kartu di kos-kos-an, dugem bersama pacar, dan sebagainya.

Mahasiswa sering beranggapan, bahwa berorganisasi hanya dapat menghambat proses percepatan penyelesaian studi. Ada juga yang beralasan, bahwa berorganisasi di kampus itu, hanya membuang-buang waktu, tenaga dan uang. Stereotip seperti itu tentunya sangat keliru, sebab belum ada survei mengatakan, bahwa mahasiswa berorganisasi adalah mahasiswa yang paling lambat menyelesaikan studi nya. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang tidak berorganisasi di kampus, 5 sampai 6 tahun menyelesaikan masa studi nya, menghabiskan waktu dimana mereka? Yang berarti bahwa mahasiswa organisatoris bukanlah suatu alasan mutlak bagi lambatnya penyelesaian studi. Itu tergantung dari individu masing-masing. 

Mahasiswa memerlukan organisasi di dunia kampus, sebab tak selamanya mahasiswa bergelut di dunia kampus. Setelah selesai, mahasiswa akan terjun langsung di kelompok masyarakat dimana mereka berasal. Jika tidak mempunyai pengalaman tertentu, maka mahasiswa tersebut akan terasa “kaku” di masyarakat. Terjun kelapangan kerja—pun tak mempunyai pengalaman tertentu. Karena di kampus hanya bersentuhan dengan perkuliahan. Setidaknya mahasiswa berorganisasi di kampus mendapatkan banyak manfaat: Memperluas pergaulan, meningkatkan wawasan, membentuk pola pikir yang lebih baik, menjadi kuat dalam menghadapi tekanan, media pembelajaran beragam aspek kemampuan dan intelektual, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, melatih leadership, belajar mengatur waktu, memperluas jaringan, dan mengasah kemampuan sosial.

Menurut Arbi Sanit, ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka terhadap permasalahan kemasyarakatan, sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka.  Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda.  Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.

Hal diatas menggambarkan seorang mahasiswa yang aktif di sebuah organisasi. Walaupun, ketika semester 6 mahasiswa di perhadapkan dengan masyarakat, namun itu hanya beberapa bulan saja, itupun hanya berkaitan dengan mata kuliah yang telah ditetapkan oleh birokrasi kampus.

Merubah Paradigma Berpikir

Ironis tentunya, ketika seorang mahasiswa memandang, bahwa berorganisasi hanya menghabiskan waktu, pikiran, serta dana. Logika itu yang semestinya harus diubah. Tak perlu ada yang di khawatirkan ketika kita aktif dan berproses di sebuah organisasi kampus.

Tak lebih kalangan mahasiswa di Universitas Tadulako, yang sebagian besar Mahasiswa nya memandang bahwa mahasiswa hanya lebih berorientasi, bergelut dan fokus dengan perkuliahan setiap harinya, mereka lebih bersifat apatis terhadap persoalan–persoalan dan gejolak yang terjadi di kalangan masyarakat baik dari segi ekonomi, hukum, politik dan sebagainya. Hal itu disebabkan oleh mahasiswa yang belum memahami fungsi Mahasiswa sesungguhnya.

Paradigma cara berpikir mahasiswa seharusnya di ubah, jika dalam konteks Tri Dharma Perguruan Tinggi point ketiga menyatakan, “Pengabdian Kepada Masyarakat,” didefinisikan sebagai Kuliah Kerja Nyata, maka menurut penulis, hal itu sangat keliru. Karena di nobatkan kepada mahasiswa itu bukan saat menyandang almamater biru bertuliskan Mahasiswa “KKN” melainkan menampung dan membantu segala persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Jika seluruh mahasiswa hanya fokus di bangkuh perkuliahan dan mengejar target penyelesaian studi, maka siapa yang peduli dengan masalah-masalah sosial masyarakat? Tentunya kita, mahasiswa, sebagai Agen Of Social Control. Preseden tentang cara berpikir mahasiswa bahwa organisasi itu sangat tidak penting, bukanlah hal yang tabu. Semenjak penulis masuk di kampus Universitas Tadulako, terdapat banyak mahasiswa yang hanya membuang waktunya secara Cuma-Cuma, dalam artian tindakan negatif seakan hadir dalam kehidupan kesehariannya.

Dan penulis juga sering menjumpai mahasiswa aktivis, yaitu mahasiswa organisatoris. Mereka lebih aktif dan lebih revolusioner serta menanggapi hal-hal yang terjadi di masyarakat. Berbeda dengan yang bukan mahasiswa organisatoris, lebih mementingkan ego atau lebih suka melakukan aktifitas hura-hura. Apapun yang mahasiswa organisatoris lakukan adalah mengedepankan intelektual, sebagai intelektual muda. Berdebat secara ilmiah tak luput dari mahasiswa organisatoris.

Jika merunut apa yang dikatakan Soe Hoe Gie Prototipe aktivis model ini menjadi menarik tatkala alur cerita nya mengusung ide sederhana: seorang mahasiswa yang tertarik dengan kondisi sosial masyarakatnya ketika itu, dan giat dalam melakukan campaign atas apa yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran. Contoh aktivis kampus model inilah yang mendekati “kesejatian” seorang aktivis kampus.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa, apalagi mahasiswa baru? Yaitu dapat mengembangkan diri melalui UKM atau organisasi kampus yang tersedia.

Bantaya Lanoni, 30 Januari 2013
 

Discussion

Leave a Reply