Bandit-bandit Berandal

DSC00267Sebenarnya, sudah berkali-kali Edo memimpin diskusi tentang perlawanan investasi pertambangan, yang beroperasi di kampungnya. Namun, kali ini Edo membikin diskusi kembali  di dalam gedung itu. Gedung yang tak begitu luas—namun cukup menampung sekitar 50-an orang. Banyak pemuda dan pemudi sedang berkumpul: menunggu datangnya sinar mentari terbit. Mata mereka memerah, tak meredam akibat begadang. Seonggok kisah pilu yang sedang mereka diskusikan. Menuai kontroversi. Bising tak karuan di gedung itu. Sepertinya mereka membahas soal bandit-bandit berandal, yang siap menghancurkan tanah kelahiran mereka.

Edo, dengan ciri khas retorikanya, mencoba meyakinkan Pemuda—pemudi itu, bagaimana caranya membendung langkah para bandit-bandit berandal! Begitupun sebaliknya, para bandit-bandit mencari cara untuk menahan penolakan atas usaha mereka; usaha penolakan aktifitas pertambangan. Banyak yang sudah pemuda-pemudi lakukan atas penolakan aktifitas pertambangan—yang  di sokong oleh para bandit-bandit berandal. Namun, tanggapan yang berpariatif pun berdatangan; yang kemudian berujung pada teror psikis. Tak hanya itu, usaha-usaha untuk menggagalkan usaha para pemuda-pemudi itu, semakin massif: tak pernah menghadiri kegiatan yang di buat oleh pemuda-pemudi itu.
“Sepertinya, kita harus mencari langkah taktis, untuk menunjang perlawanan kita, jangan sampai perusahaan pertambangan itu, mengobok-obok tanah kita; tanah kelahiran kita,” ungkap salah satu Pemuda, dalam ruangan itu. Suaranya agak menggebu-gebu, seakan-akan tersentuh oleh kemenangan mutlak.
“Iya! Serangan bandit-bandit itu, menghancurkan psikologis kita. Apalagi ada dari kita yang masih baru bergabung. Kita harus kuat. Jangan kalah kuat dari mereka; para pengkhianat nenek moyang kita,” balas pemudi, yang juga dengan suara yang menggebu-gebu.
“Lalu, langkah taktis itu apa? Apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus mencari dukungan. Bisa dari masyarakat, mahasiswa, atau LSM. Langkah itu yang harus kita lakukan. Setidaknya dengan dukungan massa seperti itu, nyali mereka ciut. Saya yakin itu,” jawab pemuda, dengan gaya rambut sedikit cepak, berjenggot agak kemerah-merahan.
“Tapi, para bandit-bandit berandal itu lebih kuat dari kita. Meskipun, kita sudah bergabung dengan apa yang anda sebutkan tadi. Bukankah itu suatu langkah yang konyol?”
“Konyol? Apanya yang konyol? Apa salahnya kita mencoba! Bukankah kita sedang berusaha, agar para bandit-bandit pengkhianat nenek moyang kita, terduduk kaku—akibat kalah.”
Bandit-bandit berandal, yang kemudian di sokong oleh pengusaha kaya raya, yang berasal dari kejauhan, yang tak dikenal oleh orang-orang kampung sekitar. Bahasanya pun tak dikenal. Janji-janji manis yang di sebar oleh pengusaha penghancur bumi, ke berbagai penjuru telinga para bandit-bandit berandal, menjadi “jalan menuju surga”, untuk mengambil langkah strategis menyambung hidupnya. Itulah yang kemudian menjadi mata pencaharian “kotor” para berandal-berandal itu. Penghianat, pengecut, adalah bahasa yang pantas bandit-bandit berandal sandang.
Perjalanan panjang, eksperimen-eksperimen dalam menyusun strategi taktik yang pemuda-pemudi dalam gedung diskusikan itu, telah melalui banyak intrik-intrik. Yang melahirkan suatu paradigma baru dalam tatanan sosial-politik. Itulah sebabnya, mereka disebut sebagai provokator ulung tak bermoral.
Namun, perubahan sosial-politik di daerah itu, berubah drastis, ketika pengusaha pertambangan masuk berlahan-lahan. Tanpa memperkenalkan diri pula. Sehingga, orang-orang kampung yang tak tahu-menahu, tentang perusahaan tambang—bingung, pusing hingga ke langit lapisan enam. Itu berarti sebaliknya—bukan pemuda-pemudi itu yang merubah tatanan sosial, tapi para bandit-bandit berandal itu.
Kebencian, telah merasuki otak para bandit-bandit berandal itu, kepada pemuda-pemudi, yang berbakat dan punya potensi untuk maju. Hingga pada suatu hari, Spanduk penolakan akan usaha pertambangan, yang tak pernah bersalam masuk ke kampung mereka, di hilangkan, tak tahu kemana rimba nya spanduk itu. Belakangan, diketahui, bahwa yang menghilangkan spanduk ketidaksetujuan perusahaan tambang beroperasi di kampung mereka, adalah bandit-bandit berandal, yang haus akan sokongan para pemodal.
Sikap ketidakprofesionalitas, yang ditunjukkan oleh para bandit-bandit berandal; adalah sikap kekanak-kanakan.
“Kita harus mencari data valid soal pertambangan ini. Kita harus bagi tim, entah berapa tim,” kata seorang pemuda, yang duduk disamping kursi sofa, hasil produk kaum kapitalisme.
“Iya! Saya sepakat dengan itu. Sebaiknya, kita bentuk tim. Saran saya kita bentuk dua tim saja. Ada yang di hulu dan ada yang di hilir,” ungkap lelaki paruh baya. Jika ia berbicara, maka ia menutup mata.
 
Bantaya Lanoni, 22 Januari 2013

Leave a Reply