Jangan Benturkan: Antara Hujan Dan Perasaan

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

“Sudah saya bilang kepadamu: jangan benturkan antara hujan dan perasaan”

DSC_0683 - CopyLelaki tampan berambut lurus, membukakan pintu terlihat bingung begitu melihat saya. Pastinya, dia juga sangat terkejut melihat saya berada, tepat di depan matanya secara tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan menunjukkan ketidaktanggungan yang serius, dan pastinya dia tidak bersandiwara. Dia langsung mempersilahkan saya untuk masuk. Tanpa keragu-raguan, saya langsung memilih sebuah kursi di antara enam kursi yang tersedia di ruang tamu.  

“Nikmat rasanya duduk di kursi ini, sambil menikmati segelas kopi,” singgungku.

Dia pun lalu dengan sigap  mengarahkan badannya menuju ke dapur untuk mengikuti, apa perkataanku tadi. Sepertinya dia agak memahami kejutan ini. Pasti hatinya di selimuti oleh keharuan yang sepertinya tak bisa di ungkapkanya dengan kata-kata.  Dia juga butuh minum kopi di sore ini. Sore yang indah setelah beberapa jam di guyur hujan lebat.

Dia kawan baik saya, namanya Kiyat. Sebenarnya dia lahir di kampung ini, namun semenjak sepuluh tahun lalu, orang tuanya pindah ke daerah arah Barat pulau Sulawesi, maka ia mengikuti orang tuanya. Lama kami tak bertemu—nanti hari ini. Saya mengetahui kedatangannya setelah kakaknya berkunjung ke rumah. Ia tinggal di rumah kakanya.

”Siapa yang memberitahumu, bahwa saya ada disini?” Tanya Kiyat

”Tak perlu di jawab.”

”Kenapa? Saya butuh jawaban itu.”

Saya hanya tersenyum. Menengok keluar, memandangi langit di sore itu. Pemandangannya cukup menarik. Jarang saya mendapatkan suasana seperti itu. Kecanggungan masih saja terjadi. Tak ada obrolan yang terjadi. Masing-masing memandang pada objek yang berbeda.

“Sepertinya Air di dapur sudah mendidih,” kataku

“Oh iya, hampir lupa.”

“Bukan hampir lupa, tapi sudah lupa,” tantangku.

“Haaa… sudahlah! Dari duhulu, kamu suka mendiskriminasi saya. Apakah kamu datang, selain mengejutkan saya, juga datang untuk melanjutkan diskriminasi itu?”

“Sudahlah. Kamu buat saja kopi itu.”

Bertemu dengan dia, mau tidak mau, atau suka tidak suka, pasti teringat kembali suatu kenangan dahulu. Kenangan yang mungkin tak pernah saya lupakan, yang mungkin menjadikannya pria sejati. Pastinya, dia masih mengingat kenangan itu, dan mungkin efeknya lebih mujarab lagi.

Sore itu, saya berada di sini. Di sampingnya. Melihat dia. Memperhatikan bola matanya yang semakin sayup. Raut wajahnya tak ada yang berubah; masih seperti dulu. Yang ketika dia tersenyum, maka bibirnya melebar, dan matanya ikut tersembunyi. Kopi sudah tersedia, masing-masing satu gelas kami berdua. Di arah kiri di mana kami duduk, kakaknya santai merokok. Semenjak tadi kakanya juga menikmati segelas kopi, dan hingga saat ini tinggal setengah gelas. Asbak yang tersedia, hampir penuh oleh puntung-puntung rokok dengan berbagai macam merk. Di saat-saat seperti itu, adalah saat apa yang kami lakukan semenjak sepuluh tahun yang lalu. Keharmonisan semakin lekat.

Hari sudah gelap. Jangkrik semakin banyak yang menggelitik telinga. Saya memaksanya untuk pergi ke suatu tempat, di mana anak-anak muda di kampung itu berkumpul. Namun, di tolaknya mentah-mentah.

“Saya ingin pergi ke suatu tempat,” katanya.

“Pergi kemana?”

“Usahlah kamu tahu itu. Yang jelas, saya sudah punya janji malam ini, pada seseorang yang saya anggap sebagai penyemangat hidupku.”

“Cuaca lagi mendung kawan. Mungkin saja, sebentar lagi akan hujan,” kataku.

“Saya tak peduli itu! Jangan benturkan antara hujan dan perasaan,” sanggahnya.

“Kamu Puber?”

“Haaah..!! Umurku sudah lewat dari masa puber, berani sekali kamu bilang begitu kepadaku!”

“Sudahlah, apa lagi yang ingin kamu klarifikasi? Kamu ingat tidak, sepuluh tahun lalu, kamu tidak seperti ini. Mungkin hormon-hormon dalam tubuhmu sudah siap untuk berproduksi, sehingga telah muncul perasaan suka terhadap lawan jenismu! Bukankah itu masa puber?”

Sambil menggerutu tak senang. Kiyat kemudian berjalan keluar rumah, menuju ke areal pasar, beberapa puluh meter dari rumah itu. Dari kejauhan saya melihatnya dengan seksama. Rasa hatiku menjadi tak tenang. Saya berpikir, bahwa Kiyat sedang marah, ketika mendengar perkataanku tadi. Aaahh! Tidak. Kiyat tidak seperti itu. Mungkin dia hanya memperlihatkan sensasi aneh kepadaku. Dia hanya sendirian di sana. Duduk terdiam menikmati sisa rokok yang di bawahnya ketika berada denganku tadi.

Saya menuju ke arah pintu rumah itu, membawa kopi dan mengangkat, untuk mengingatkannnya, bahwa kopi belum habis. Kiyat berbalik. Dia sepakat denganku, untuk menghabiskan sisa kopi, dan melanjutkan perbincangan.  Hanya beberapa menit Kiyat duduk—suara adzan di masjid telah menggerumu.

“Lalu, apa yang membuatmu ingin sekali bertemu dengan pujaan hatimu itu?” tanyaku.

“Sudah Saya bilang tadi, dia itu adalah perempuan yang membuat saya menjadi semangat. Hari-hariku menjadi berarti setelah mengenal dia,”

“Berarti selama ini, saya tak punya arti?”

“Ini soal lain kawan, dia itu lawan jenis saya. Dan semua laki-laki pasti membutuhkan perempuan, untuk dijadikan pendamping hidupnya.”

“Kamu mau  nikah?”

“Saya belum berpikir kesitu kawan. Masih jauh. Perjalananku masih jauh. Saya mesti menyelesaikan kuliahku dulu.”

“Terus?”

“Iya. Seperti apa yang di lakukan Soekarno saat memperjuangan negeri ini kawan. Perempuan dia jadikan sebagai alat perjuangan untuk memerdekakan Indonesia. Perempuan sungguh sangat berarti baginya, bagi Soekarno.”

Tak lama kemudian, hujan sudah turun. Rasanya belum terlalu lama kami berbincang di rumah ini. Pikiranku terfokus pada seorang perempuan yang memaksa hati Kiyat untuk keluar meskipun hujan.  Sungguh sulit melukiskan apa yang ada di pikiran Kiyat. Namun, saya bisa melukiskan, bahwa Kiyat sedang di teror dengan perasaan yang mencekam. Dan, akhirnya hujan pun semakin deras.

“Kamu tetap nekat ingin keluar malam ini?”

“Iya,” jawabnya.

“Hujan di luar semakin deras kawan.”

“Sudah saya katakan dari tadi, ‘jangan benturkan antara hujan dan perasaan!”

Saya terdiam. Sepertinya dia lagi marah. Dia betul-betul ingin keluar.

“Baiklah,” sanggahku.

 

Bantaya Lanoni, 22 Maret 2013

Leave a Reply