Punah

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

Diselingi dengan gitar tua—Suling bambu berbunyi sendu di siang bolong. Kebun seorang petani yang sunyi senyap, seakan menjadi ramai, akan kehadiran kedua suara alat musik itu: Ular, burung, ikan-ikan di air, jangkrik, kupu-kupu, bahkan rusa yang ada disekitar kebun petani itu, ikut mendengarkan. Tak salah, pemain nya adalah pemain tua alias senior. Beda empat lusin dengan umur saya. Wajahnya pun berkeriput. Bersisik bagaikan ular. Namun ia punya keahlian. Memainkan gitar. Juga punya satu kebanggaan tersendiri. HAJI. 

Sikap dan perilaku nya semakin tegas saja. Jika ia dulu bercerita. Waktu ia kawin muda. Waktu ia panen raya di kebun kakao nya. Ia sempat memiliki 2 buah mobil dan tujuh buah sepeda motor. Bahkan hasil panen nya itu memberangkatkan ia ke Arab Saudi. Naik Haji.

“Sial” itu katanya.

Kemudian ia terdiam, memandangi langit-langit kosong hampa tanpa awan. Di sebuah gerobak hasil karya nya bersama dua ekor sapi nya. Ia masih saja diam, menikmati cerutu yang ia pesan dari pasar tradisional. Kemudian, ia memukul jidat nya sendiri dengan telapak kanan. Haji itu kelihatannya tak waras. Tapi ia masih waras. Iya, saya yakin itu. Haji itu, hanya mengingat masa lalu nya, masa kejayaan hingga memiliki mobil mewah. Namun, sekarang ia hanya bisa berbagi cerita, kepada orang-orang disekitarnya, atau orang yang baru ia kenal.

“Dulu, waktu saya baru memiliki 2 anak. Kebun kakao saya banyak. Di tumbuhi oleh ribuan bahkan ratusan ribu pohon kakao. Jika kering, timbangan nya mencapai 3 ton. Tapi sekarang……!!!! Sekarang kakao itu telah pergi dariku, telah menjauh dari orang-orang di kampung ini. Saya bersama orang-orang di kampung ini, tak tahu persis penyebabnya apa. Dan kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, setelah sebelumnya kami berusaha keras, untuk menolong, agar kakao-kakao kami tak kena penyakit, hingga menyebabkan kematian.”

Kemudian ia tersenyum pasrah. Cerutu yang tadinya di hisap, kini telah habis. Ia mengambil sebatang lagi. Dinyalakan nya korek. Di bakarnya ujung rokok itu. Berasap. Asap nya menggepul-gepul bagaikan asap yang keluar dari corong kereta. Tapi ia menikmati nya.

“Lalu, apa usaha Haji sekarang ini,” tanya ku, sambil pula mencoba meraih cerutu Haji itu.

“Ia. saya sadar, bahwa sekarang ini, Kakao-kakao saya sudah punah. Tak ada yang bisa diharapkan dari kakao-kakao itu. Sebagian kakao-kakao itu saya tebang, dan saya mengganti nya dengan sawit. Iya kelapa Sawit. Jadi, sekarang saya masih mengurus sawit-sawit itu, umurnya sudah tiga tahunan. Minggu lalu, saya sudah memanen nya. Mungkin minggu depan panen lagi. Hanya itu yang bisa saya harapkan, untuk melanjutkan hidup ku, dan juga anak-anak ku.”

Terdiam. Semua diam. Hanya dedaunan yang di hembus oleh angin, saling bergesekan, yang terdengar. Suling bambu dan gitar tua mencoba dimainkan lagi. Haji bersama seorang kawannya saling memberikan “kode” agar kedua suara musik itu, saling beriringan. Saya mencoba menyaksikan nya dengan seksama. Hanya kami bertiga di pondok  itu. Pondok milik pak Haji. Kami bertiga.

Hanya sebentar. Hanya satu buah lagu. Musik itu berhenti lagi. Kemudian Pak Haji tua itu tersenyum kepada kawan main nya. Juga kepada saya. Saya mencoba membalas nya. Begitu pun dengan kawannya itu. Pak Kasim namanya.

Pak Haji itu mulai bercerita lagi, “Saya sangat kasihan dengan Kakao-kakao saya. Sebetulnya saya tak tega menebang nya, namun apa boleh buat, takdir nya mungkin akan dipunahkan, dan di gantikan menjadi sawit. Karena itu sudah  satu-satunya jalan. Kalaupun langkah itu akan merugikan saya, yahhh..!!! saya menerimanya dengan ikhlas.” Pak Haji itu menengok ke atas. Memandangi atap-atap pondok berdaun jerami. Matanya tak berkedip. Berpikir sejenak. Lalu tersenyum. Pak Kasim ikut tersenyum. Tapi saya masih bingung, karena tak mampu menebak apa yang mereka senyumkan.

Awan bergerak dengan cepat. Matahari pun enggan memperlihatkan sosok nya. Cuaca agak gelap. Dan semuanya terdiam. Tak ada asap rokok di pondok itu. Iya..!! tak ada. Sapi-sapi Pak haji juga agak terdiam, tadinya sapi-sapi itu mengunyah rerumputan. Bercokol diantara gerobak, yang kemanapun mereka bawa, dan atas perintah Pak Haji. Jika pak Haji menarik tali sebelah kiri, maka sapi-sapi itu akan berbelok ke kiri. Sapi itu adalah budak dari Pak Haji.

Ketekunanlah yang membawa Pak Haji berhasil sebagai petani. Walaupun saat ini, ia sangat kebingungan untuk menghadapi kehidupan yang nyata kedepan nya. Setiap pagi, sebelum matahari terbit dari ufuk Barat. Pak Haji, dengan sebilai parang dan para budak nya, hendak pergi mencari sesuap nasi. Dan pulang, ketika matahari berada di tengah-tengah bumi. Itu hanya pulang sebentar. Mengisi perut yang sudah keroncongan. Satu atau dua jam kemudian, Pak Haji pergi lagi bersama dua budak nya. Pak Haji sungguh tekun menghadapi lika-liku jalan. Jika dulunya ia diatas “angin”, membawa mobil mewah nya kemana saja yang ia inginkan. Tapi sekarang ia bepergian hanya dengan dua budak nya itu. Sapi.

Tangga telah di dirikan. Suara musik tak lagi terdengar di areal kebun itu. Pak Kasim, membetul-betulkan tangga itu hingga lurus dan bisa dinaiki. Jika tangga itu diluruskan, maka ia akan roboh kebelakang. Maka ujung tangga itu di sandarkan di pohon kelapa, kemudian bagian ujung bawah diberi jarak, 3-4 meter dari pohon kelapa, agar tangganya tak roboh. Saya, bersama Pak Haji, menyimak pak Kasim dengan serius, tak ada suara. Dedaunan kelapa bergoyang, di sambar oleh angin, yang juga tak begitu kencang. Namun, mampu menyibukkan pak Kasim dalam memperbaiki tangga itu. Lalu, Pak Kasim menunduk sejenak. Kemudian ia menengok ke atas: memastikan, bahwa tangga itu tak akan roboh: ke kiri atau ke kanan. Terlihat Pak Haji mengeluarkan cerutu nya, ia langsung membakar nya. Pak Haji itu menikmati nya dengan khidmat. Kemudian, gumpalan-gumpalan asap keluar dari mulut dan hidungnya. Hanya sesaat cerutu telah habis di hisap nya. Lalu ia mengambil dan mengisap yang baru lagi: putus-sambung.

Ceramah agama, seketika mengalir lewat di telingaku. Namun hanya sebentar. Pak Haji itu mengalihkan pada saat-saat kejayaan nya waktu dulu. Waktu ia masih memiliki banyak pohon Kakao.

Pak Haji, menurut mulutnya itu, menurunkan ketekunan nya dalam mencari nafkah, guna menyambung hidup itu kepada anak-anaknya.  Bukan kali pertama saya menemukan orang seperti Pak Haji ini. Di sebuah kampung. Jauh dari keramaian kota, dan kebisingan mobil-mobil mewah para pejabat. Terdapat seorang yang pernah menceritakan profil hidupnya soal bertani. Ketekunan nya sebelas-dua belas dengan Pak Haji. Sosok tubuhnya yang kurus kerempeng, seakan tinggal kulit yang melapisi tubuhnya itu. Sama. Persis sama. Mereka, seperti yang dikatakan oleh Soekarno adalah kaum proletariat, namun, setengah feodal, sebab sedikit-banyak menguasai tanah dari  petani-petani lain. Ibrahim nama Pak Haji itu. Sejak kepunahan Kakao nya, ia bersama dua ekor sapi nya, pergi pagi-pulang sore; ke kebun.

Bantaya Lanoni, 9 Januari 2013

Discussion

  1. Trackback: Petani dan Punahnya Kakao – Fhay Hadi Mei 25, 2016

Leave a Reply