Kakao Lenyap, Sawit Datang

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

DSC_0018Hampir di semua wilayah di Pulau Sulawesi  telah di derah oleh krisis pertanian kakao. Hal itu, disebabkan oleh serangan hama, yang menjalar dari pohon hingga ke cabang-cabangnya, sehingga pohon kakao tersebut sudah tak produktif lagi. Bukan tak mungkin, jika para petani tak mempunyai dua mata pencaharian nya, maka untuk menyambung hidup, bisa mengkerutkan jidat. Apalagi, cuaca di tahun ini, sudah tak menentu, akibatnya para petani bingung menentukan waktu untuk bercocok tanam.

Seperti yang dirasakan oleh masyarakat di Desa Kaluku Nangka Kecamatan Bambaira Kabupaten Mamuju Utara, Propinsi sulawesi Barat. Para petani kewalahan untuk mencari pengganti tanaman produktif seperti kakao yang bernilai ekonomis tinggi. Sehingga para petani memutuskan untuk mengganti lahan perkebunan kakao, atau mencari lahan baru dan di tanami kelapa sawit. Mereka menganggap, bahwa kelapa sawit cukup bernilai ekonomi tinggi, yang akan dipasarkan ke perusahaan. Yang nilai jualnya cukup berpariatif, sekitar Rp. 1.000-1.500/kg.

Ini yang kemudian menjadi satu tantangan besar bagi tanaman-tanaman yang tergabung, atau dekat dengan lahan perkebunan kelapa sawit, sebab tak mampu berjuang untuk berebutan air dengan kelapa sawit. Sawit Sangat rakus air. Petani kakao bernomor “satu” itu dengan sekejap mengalihkan mata pencaharian nya, yang kemudian di jadikan langkah alternatif untuk berjuang menempuh hidup bersama keluarganya.

Sejak pertengahan tahun 2009, tanaman kakao, yang dulunya menjadi tanaman unggulan petani Kaluku Nangka, kini sebagian kecil yang mampu berproduksi. Juga penyakit-penyakit yang merasuki tanaman kakao, tak mampu terdeteksi oleh para petani, bahkan dari dinas pertanian. Faktor cuaca, yang kemudian menjadi suatu diagnosa bagi para petani.

Tak jarang yang menyalahkan cuaca, yang tak menentu: hujan dan kemarau. Padahal seperti biasanya, pada awal dan akhir tahun, hujan mengguyur hampir setiap hari, sedangkan pada pertengahan tahun, kemarau selalu menemani. Namun, beberapa tahun terakhir, cuaca sewaktu-waktu dapat berubah, bahkan dalam hitungan menit. Itu yang kemudian, membuat petani kakao bingung, dan tak mampu memprediksi cuaca, seperti sebelum-sebelumnya.

Petani kakao beralih menjadi petani sawit, yang juga di dukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Dan potensi Sumber Daya Manusia nya pun mendukung. Apalagi pemerintah daerah lebih gemar membuat kelompok-kelompok tani dan kelompok ternak, sehingga mudah menyalurkan bantuan. Ada apa dengan kelompok itu? Suatu pertanyaan besar, yang harus di jawab secara kritis.   

Ada apa dengan kakao saat ini? Apakah ada yang dengan sengaja untuk mematikan langkah produktifitas kakao, sehingga petani beralih menjadi petani kelapa sawit? Yang juga mereka tak tahu resiko yang dihadapinya ke depan.

Seorang petani Kakao Desa Kaluku Nangka, pernah mengatakan kepada penulis, bahwa “Awalnya, menurunnya produktifitas kakao hingga tak berproduksi lagi, di sebabkan oleh racun rumput. Racun rumput itu yang sering di gunakan oleh petani di sini, maka kami menganggap, bahwa racun itu yang membuat kakao sulit untuk berproduksi lagi. Juga, pupuk organik bantuan pemerintah setempat, yang kami anggap pula sebagai degradasi produksi kakao saat ini.”

Bisa di pastikan, bahwa tiga hingga lima tahun kedepan, petani kakao akan meratakan pohon kakao nya dan mengganti nya dengan kelapa sawit, sebab sawit sangat menjanjikan. Apalagi pemerintah memfasilitasi dengan memasukkan perusahaan kelapa sawit. Itu yang kemudian membuat petani menjadi tergiur, dan tak lepas dari pembicaraan sehari-hari mengenai sawit.

Di samping rumah, di kolong rumah, semua ada bibit dan tanaman sawit yang sudah berproduksi, bahkan sebagai penunjang hidup mereka. Gendera perang sudah di bunyi kan, matahari belum pula terbit, namun para petani sudah siap memikul sawit-sawit mereka ke ladang masing-masing. Aktifitas itulah yang saya jumpai selama saya di Kaluku Nangka.

Lalu apa yang menjadi masalah dengan peralihan para petani itu? Bukankah itu sebagai salah satu alternatif penyambung hidup mereka?

Kakao sebagai tanaman unggulan masyarakat Kaluku Nangka, menjadi kaku tak berbuah. Tak lebih daripada lalat yang terjebak dalam arungan kopi dalam gelas. Mencoba untuk keluar dari gelas itu, namun tak mampu. Begitupun dengan Kakao dan petani Kakao, tak mampu dan tak lihai dalam menyelamatkan dirinya sendiri dari terpaan hama-hama yang menghantam nya.

Dalam pelaksanaan perladangan nya, petani di Kaluku Nangka tak sama dengan petani di Pegunungan Lauje, berpindah-pindah tempat. Penguasaan tanah pun tidak secara kolektif, melainkan individualistis, dan bahkan penguasaan tanah jauh lebih banyak. Siapapun yang migran terlebih dahulu di Kampung itu, maka ia akan menguasai tanah sebanyak-banyaknya. Pada tahun 60-an saja, tak ada yang berani dan masuk,  karena kondisi nya masih status hutan belantara, nanti di akhir tahun 1970-an, kemudian masyarakat Mandar dari Mamuju, Polewali dan Majene, bahkan ada yang dari Bugis Makassar migran ke tempat ini.

Sebelumnya, penguasaan tanah di Desa ini, adalah penguasaan kolektif, yang di kuasai oleh suku Bunggu, suku Asli di Desa Kaluku Nangka. Penguasaan tanah hampir sama dengan penguasaan tanah di komunitas suku Lauje. Dalam tulisan Tania Li. Akumulasi tanah dan perpindahan kepemilikan.

Akumulasi tanah yang terjadi kemudian membuka pintu bagi investor dari luar masyarakat adat untuk melakukan pembelian tanah yang telah di tanami kakao. Perlahan namun pasti hal ini berlangsung hingga membuat penguasaan tanah di Lauje berada di tangan orang-orang yang sebenarnya berada di luar kelompok masyarakat adat Lauje. Inilah yang menimbulkan terjadinya diferensiasi akses tanah. Masyarakat adat yang semula memiliki hak atas tanah tersebut kini berada pada kondisi tak bertanah dan harus rela melihat kemajuan yang diperoleh oleh masyarakat luar dari hasil tanaman coklat (Li, Tania. 2002).

Petani di Dondo, Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, yang juga merupakan mayoritas petani Kakao, mengalami hampir sama dengan petani kakao di Kaluku Nangka. Sepertinya, pulau Sulawesi di tempa  bencana serangan hama pada tumbuhan produktifitas bulanan. Apa yang kemudian di sebut oleh Tania Li, tentang suku Lauje tersebut, merupakan langkah kongklusif untuk menjelaskan jejak-jejak kolonial di masa penjajahan, juga munculnya migran-migran dari dalam maupun luar sulawesi. Adalah awal dari kemunduran penduduk asli, yang tidak mampu bertahan dengan kondisi yang ada sekarang. Tindakan itu, di tunjukkan dengan dorongan emosional dalam status sosial.

Discussion

Leave a Reply