Lapar

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*****

318116_416725038411445_29075159_nMalam itu, aku masih saja belum mengantuk. Tiba-tiba aku terkaget: melihat sesosok bayangan laki-laki berdiri di balik pintu. Dalam suasana yang demikian, Aku mencoba berpaling wajah dengan senduh penuh ketakutan.  Dengan wajah yang tak ramah, aku membuka pintu: setelah mendengar suara ketukan.  Ternyata itu Talai. Talai  menatapku dengan sinis. Seolah dia menganggapku sebagai musuh nomor  tujuh puluh tujuh.           

Aku berteman dengan Talai semenjak lima bulan yang lalu. Kami bertemu di sebuah café ternama di kota itu. Hingga sekarang, pertemanan itu terus berlanjut. Sampai-sampai Talai menemukan jodohnya, setelah kuperkenalkan dengannya. Sekitar sebulan yang lalu.

“Tas itu milik istriku, kenapa bisa di sini?” Tanya Talai kepadaku.

Situasi menjadi tegang. Dan, tas berwarna ungu kebiru-biruan itu, terletak di atas meja, tepat di bawah lampu philipis  yang sudah memudar. Cahaya lampu itu hanya mampu menyinari lima kali lima meter.

“Siapa yang memindahkannya ke sini? Surudut?” lanjut Talai. Matanya sedikit melotot, layaknya anjing sedang mengintai tulang-belulang di pembuangan sampah berbau amis. Talai mencoba mengancamku.   

“Aku tak tahu—menahu soal tas itu. Pasti Surudut juga tak mengetahuinya, sebab seharian dia tak menampakkan batang hidungnya di rumah ini. Seharian dia mengikuti kakak sepupunya. Katanya mengambil kabel di kampung sebelah.”

“Terus siapa yang memindahkannya ke sini? Kan tidak mungkin setan dari neraka lapisan ketujuh!”

Aku terdiam, terpaku—membeku. Alam bawah sadarku tak berfungsi. Aku baru saja mendengarkan ucapan yang membuat tenggorokanku tak ingin tersentuh nasi dan air. Dia sangat kejam. Juga membuat kencingku tak keluar semalaman. Selama lima bulan aku berteman dengan Talai, baru kali itu Talai memarahi—hingga hampir menuduhku—memindahkan tas kesayangan istrinya. Dalam hatiku berkata, untuk apa setan dari neraka lapisan tujuh jauh-jauh kemari, hanya untuk memindahkan tas murahan itu. Hanya untuk merugikan setan-setan itu saja. Lebih baik setan-setan itu, menggoda ustad yang paling alim di kampung sebelah: itu lebih menguntungkan mereka!

Tak ada jawaban yang pasti kuberikan kepada Talai. Dia marah. Seketika aku terdiam. talai juga diam. Wajahnya terlihat resah. Penuh emosi. Sepertinya ada masalah besar yang menimpahnya malam ini. Jika memang ada. Keinginanku jangan di sangkut—pautkan dengan tas—hingga memarahiku.

Sambil memapahkan langkah, Talai keluar sambil membawa tas kesayangan istrinya itu. Baru setengah perjalanan menuju gerbang pagar rumah, tiba-tiba Surudut memompa gas motor warisan ayahnya semenjak lima tahun lalu, dari sebuah lorong sebelah kiri rumah kontrakan kami. Talai langsung menahan Surudut.

“Hei Surudut, kau kah yang memindahkan tas istriku ini?”

“Haaaaaaaaaa?” sambil menarik-narik gas motor warisan ayahnya itu.

“Bunuh dulu kontak motormu itu, agar terdengar jelas apa yang saya katakan.”

“Haaaaaaaaa! Apa?”

Aku hanya tersenyum melihat tingkah Surudut. Pendengarannya masih normal. Mungkin dia hanya ingin membuat emosi Talai semakin tinggi. Aku saja yang jauh dari mereka: mendengarnya lebih jelas. Suara Talai semakin membahana saja. Surudut langsung mematikan kunci kontak motor warisan ayahnya itu.

 “Apa yang kamu bilang tadi?” Tanya Surudut.

“Tas. Tas ini. Apakah kamu yang memindahkannya ke meja itu?” kata Talai sambil menunjuk kearah rumah.

“Aku? Aku yang memindahkan tas itu? memindahkan ke meja? Meja yang mana?” Tanya Surudut, sambil memperlihatkan wajah penuh  kebingungan.

“Aaaahhhh..,! sudahlah. Bicara denganmu, buatku naik emosi.” Sambil berjalan, Talai melambai-lambaikan tas kesayangan istrinya. Dia pergi—menghilang termakan gelap.

Surudut sejak lama berteman denganku. Sejak kami kelas satu SMP. Kampungnya dan kampungku hanya berjarak empat kilo meter. Setiap pagi, kami melatih otot paha kami dengan mengayuh sepeda dari masing-masing kampung. Di sekolah aku bersama Surudut sering mengutang kue panada dan donat di warung belakang sekolah milik Pakemma.

 

*****

Surudut agak sedikit jail. Tingkah jailnya dia berlakukan hanya untuk teman-temannya, termasuk denganku. Kedatangan Surudut sangat mengejutkan aku di malam itu. Tak seperti biasanya Surudut datang jam begini. Menurut Surudut dengan waktu yang masih pukul Sembilan malam, di anggapnya terlalu dini untuk pulang kerumah. Dan, dia mencoba menghampiriku.

“Bung, sudah makan?” Tanya Surudut kepadaku.

“Setelah seluruh isi dapur saya obrak-abrik, ternyata tak ada yang bisa di andalkan di situ.  Yang ada hanya bawang dan kemiri. Mau di apa itu?”

“Kenapa tidak merebusnya?”

“Gila!”

“Hahahahahaha.”

“Lalu?”

“Aku dapat rezeki waktu jalan tadi. Kakakku memberikan aku uang. Mungkin cukup mengisi perut malam ini! Masih ada beras?”

“Habis.”

Trus?”

“Rebus bawang dan kemiri!”

Waduuhh…..!” Surudut menunjukkan wajah kebingungan. Tak ada wajah kepalsuan. Sepertinya dia juga lagi lapar malam ini. Dia mencoba menerawang bayangan tubuhnya yang terpecah menjadi tiga. Mungkin dia sedang mencari ide: di mana bisa mendapatkan beras. Untuk mengisi perut malam ini, tak mungkin meminta tolong kepada Talai, sebab dia sedang marah; itu hal yang mustahil.

Surudut masih saja menerawang. Sesekali dia menengok keatas. Sesekali kekiri. Sesekali kekanan. Tiba-tiba Surudut tersenyum, serasa memberikan isyarat, bahwa aku harus ikut dengannya.   

Gemetar seluruh sendi tubuhku. Baru sekarang aku merasa, laparnya “bukan main” ini. Sementara aku tak tahu sama sekali—kemana sebenarnya Surudut membawaku pergi. Sambaran angin malam menambah sendi tubuhku semakin bergetar. Surudut tak juga mengerem motor warisan ayahnya. Hanya masuk lorong—keluar lorong.

Dan ternyata, aku baru ingat; Surudut membawaku ke sebuah warung, di mana kami sering mengutang. Kedatangan kami di warung itu, membuat tuan warung mengerutkan jidat. Dalam pikirannya: pasti dua anak kos ini datang mengutang lagi.

Surudut langsung memesan makanan dua porsi. Sementara angin malam terus menghembus, perlahan-lahan  menusuk hingga tembus ke sum-sum. Suara tuan warung pun telah meredup dan tenggelam dalam dingin. Para pengunjung warung terkesima dan seketika terdiam. Semua diam. Hanya beberapa serangga malam yang terbang melintas lampu-lampu yang berjejer lima di dalam warung. Terang namun sepi. Butiran-bituran embun bergulir di atas sadel motor. Namun, mendadak tergantung. Beku. Cacing dalam perut memberontak lagi.  Namun, semesta begitu hening. Tak ada suara lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kini hanya kami berdua pelanggan yang tersisa dalam warung itu. Pesanan tak kunjung datang. Cacing dalam perut semakin memberontak.

Bang, pesanan kami mana? Sampai kapan kami harus menunggu? Perut sudah keroncongan nih,” Tanya Surudut. Nadanya agak sedikit marah.

“Tunggu sebentar. Nasinya masih sementara di masak. Sabar yah,” jawab tuan warung, tanpa rasa dosa.

Astaghfirullah. Kapan kita makan kalau begini?” sanggah Surudut. “Lapar.”

 

Bantaya Lanoni, 5 April 2013

Leave a Reply