Reformasi 1998

Judul Buku      : 1998

Penulis             : Ratna Indraswari Ibrahim

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun terbit    : 2012

Tebal                : 322 Halaman

 

indexSeperti yang di ketahui, bahwa latar belakang dari runtuhnya rezim otoriter, Soeharto; karena terkungkungnya sebuah demokrasi, kebebasan, dan terjadi kesenjangan sosial—ekonomi. Sehingga berbuntut pada aksi massa secara besar-besaran, yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan penghilangan beberapa aktivis.

Ratna Indraswari, dalam sebuah novelnya yang berjudul ”1998”, menceritakan gejolak itu. Seorang perempuan bernama Putri, anak Walikota Malang yang kuliah di Universitas Brawijaya. Putri, anak walikota Malang, pertengahan 1996 masuk kuliah di Universitas Brawijaya di Malang. Ia menjalin pertemanan dengan Neno, Heni, Marzuki, Gundul, Rudi dan Zizi. Sejak awal jumpa, Putri merasa perlu menulis tentang mereka. Neno paling menyedot perhatian Putri. Keluarga Neno hangat. Ini berlawanan dengan atmosfer rumah dinas orang tuanya.

Putri tak bisa menghindari arus demonstrasi mahasiswa. Kehidupan kampus yang tenang mendadak panas dengan munculnya beberapa mahasiswa membawa poster: menuntut Soeharto turun. Sebagai  generasi a-politik, Putri merasa aneh melihat teman-teman kuliahnya kehilangan kejenakaan dan menjadi super Idealis. Mereka sudah membakar foto presiden yang sudah berkuasa selama 30 tahun lebih itu. Salah seorang yang menarik perhatian Putri adalah Neno: aktifis kampus, yang sering demo bolak—balik Malang—Jakarta.

Hubungan Putri dan Neno semakin dekat, namun dalam salah satu aksinya, Neno di kabarkan hilang. Putri Khawatir, karena Neno termasuk daftar orang yang akan di hilangkan. Putri pun berupaya melacak keberadaan Neno, kekasihnya. Tapi, tak kunjung berhasil menemukan Neno. Setelah lulus kuliah, Putri pun pindah ke Amerika Serikat: kuliah S2.

Dalam sebuah chatting, kabar lengsernya Soeharto terdengar oleh Putri. Soeharto telah mundur pada 21 Mei 1998. Ia pun memutuskan kembali ke Malang dan menemukan kenyataan, bahwa tak seorang pun mau bertanggung jawab atas penculikan mahasiswa. Kemelut politik telah reda, namun Neno yang tak pernah di temukan menyisahkan kemelut tersendiri di hati Putri. Semua lembaga cuci tangan. Ibu-ibu yang kehilangan anaknya tetap gigih menuntut hak. Belum ada kepastian. Padahal sudah tahun 2001. 

Novel ini, juga menceritakan Pak Suryo, yang di tahan selama 20 tahun tanpa di adili di pengadilan. Dia salah satu orang yang ditakuti oleh kekuasaan orde baru, sehingga dia harus menjadi tahanan politik. Rakyat sudah tak percaya lagi dengan Partai yang berkuasa. Orang-orang di kabinet pembangunan telah banyak mengundurkan diri.

Novel 1998 adalah karya terakhir Ratna Indraswari Ibrahim, yang berpulang pada 28 Maret 2011. Tragedy orang hilang pada masa 1998 membuat Ratna mendokumentasikannya dalam bentuk novel. Novel ini bisa di katakan sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang akan selalu menolak untuk lupa atas tragedy yang disisakan pada tahun 1998 itu.  

 

 Bantaya Lanoni, 9 April 2013

Leave a Reply