Hujan

Bagian I

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

DSC00552Siang itu, gerimis masih saja mendera tanah gersang penuh kaktus. Kendaraan beroda dua tak berani keluar dari kandang nya. Setuju atau tidak setuju, orangnya pun tak berani keluar jika tak memakai pelindung. Payung. Dan, itu pasti. Petir-petir masih menyambar di hamparan atap-atap bercatkan merah, seakan-akan petir itu menunjukkan keangkuhan nya. Lorong kecil itu berbecek. Lorong, yang di tempati oleh seorang wanita berambut lurus itu, tersambung dengan lorong yang sering di lewati oleh Harun. Harun salah satu mahasiswa di perguruan tinggi ternama di kota itu.

Di teras yang tak begitu luas, Harun duduk di atas motornya. Menghisap sebatang rokok, yang diproduksi oleh PT. KLS. Lemah, lesu, Harun di siang itu. Ia seakan tak ingin hengkang dari motor yang sering mencium aspal itu. Kondisi nya agak berbeda—tiga puluh enam jam yang lalu: bersemangat, riang dan penuh dengan senyuman. Ia, seakan melihat awan, yang tak ingin berpisah dari kelompok-kelompok lain. Awan itu bersatu, menutupi matahari yang ingin menampakkan wujud nya.

Lemari kayu, dari dalam kamarnya  berbunyi. Sepertinya, tikus-tikus lagi bercanda, dan saling kejar.  Tikus-tikus itu, memang nakal. Suatu malam Harun sedang tidur. Ia tertidur, dengan buku Sang Pemimpi, tergeletak, tepat di perutnya. Dua ekor tikus, datang menemui Harun. Mereka saling kejar di sekitar tempat tidur Harun. Dan, akhirnya tikus-tikus itu sepakat, bahwa finish  mereka adalah tepat di mulut Harun. Harun kaget, terbangun. Sesegera mungkin ia mengejar tikus-tikus kotor itu. Diraih nya sapu. Tapi, tikus telah menghilang dengan sekejap.

Harun masih terduduk kaku. Menunggu hujan reda, adalah hal yang mustahil di siang itu. Sebab, awan tak ingin menghindar, dan masih senang menghalangi sinar matahari. Seketika, Payung biru terlihat dari sela-sela daun, mirip daun cempaka. Payung, dengan khiasan bunga-bunga melati nan melankolis itu, di bawah oleh seorang wanita berambut lurus, setengah pundak. Wanita itu berjalan dengan santai nya, ia seakan tahu, bahwa Harun mengawasi nya dari kejauhan. Rambut yang lurus, sehabis di rebounding, di kipas-kipaskan nya, ke kiri—ke kanan, agar terlihat menarik, dan yang pasti, Harun tertarik  akan hal itu.

Sungguh. Harun terbelalak. Mulutnya menganga setengah. Air liur nya berjatuhan. Seakan, ia melihat bidadari turun dari langit lapisan tujuh—berjalan  di atas pelangi, yang penuh  dengan warna keindahan. Menaruh kesan mendalam tak ada nomor duanya. Wanita itu semakin dekat. Dekat. Dan dekat. Harun gugup. Baru kali ini, ia melihat wanita seperti itu. Anggun, menawan, putih bersih, jernih, seperti air di pegunungan Sojol.

Hujan tak kunjung reda. Harun ingin memanggil wanita itu. Walau, hanya sekedar kenalan. Tapi, ia tak sanggup. Payung tak tersedia di rumahnya. Ia tak mungkin keluar, sebab pasti akan basah! Pikirannya hanya melayang, hingga menembus ke nirwana.

Wanita itu belok ke kiri, ia segera menuju ke kios Zambrut.

Namun, Harun. Ia masih saja terdiam di tempat semula. Hatinya bergejolak dan memberontak. Tapi, pikirannya berkata lain. Pikirannya berkata, masih menunggu moment. Wajar. Sangat wajar, hati Harun seperti itu. Karena, memang wanita itu sungguh tak ada bandingannya. Perdebatan antara hati dan pikiran, membuat Harun semakin tak karuan. Menuju pada suatu metamorfhosis. Lagu-lagu munafik dan pengecut, yang dulu andalan nya, kini menjadi sebuah tabib palsu dalam gelombang telinga nya. Sepertinya, tak ada muara dalam diri Harun, bercabang. Ia kemudian meneguk segelas kopi, yang di tanam dari tanah penuh bebatuan. Dalam kurung waktu yang singkat, segelas kopi itu telah habis. Ia tak sadar secepat itu habis.

Dan akhirnya, Moment  itu telah datang. Hujan telah reda. Wanita itu keluar dari rumahnya.  Berjalan, menuju kearah kios zambrut tadi. Harun baru saja selesai mandi. Ilmu penakluk wanita telah ia pasang: Bersiul-siul. Lalu, Harun kembali duduk di teras rumah. Tak lama kemudian, wanita itu keluar dari kios zambrut.

“Hai!” sapa Harun.

“Hai juga,” jawab wanita itu.

“Boleh kenalan nda?”

Wanita itu terdiam, tersipu malu. Mukanya agak memerah. Maklum, ia sangat jarang di sapa oleh pria.

“Heiiiii,” tegas Harun.

“Yahhh..!!!! eehh. Boleh..boleh…”

“Saya Harun,” sambil mengajukan tangan kanan kearah wanita itu.

“Saya Santy,” suara itu sungguh halus, se halus tepung terigu, yang tak pernah terendam air.  

“Ohh.. Santy!” Yes. Ternyata namanya Santy. Kata Harun dalam hati sambil menjauhi Santy, yang juga pada saat itu, berbalik arah menuju lorong ke arah rumahnya. 

Hati Harun berbunga-bunga. Ia bagaikan di taman bunga Edelweis. Sasaran berikutnya adalah nomor Handphone Santy. Itu sasaran selanjutnya. Yah! Ia sudah menjadwalkan seperti itu. Namun,  deadline waktu belum ditentukan nya.

 

Bantaya Lanoni, 15 April 2013

Discussion

  1. Kiyat JD

Leave a Reply