Hujan

Bagian II

*******

64409_416725185078097_1763449875_nSepertinya bulan ini musim penghujan.  Dari kemarin hingga hari ini—hujan selalu mendera. Kali ini tak ada petir yang berkeliaran di langit sana. Hiruk—pikuk kendaraan bisa di hitung jari melintasi lorong Blok B. Tempat Harun tinggal. Nampaknya hati Harun sedang Redup. Korslet.  Di sisi lain pikirannya selalu melayang-layang, bagai burung elang mencari mangsa di musim kemarau.

Sebenarnya Harun berniat menjajaki tanah bermodalkan payung yang di belinya pagi tadi. Dia berpura-pura lewat di mana Santy bertengger. Tapi hati dan pikiran Harun saling bertabrakan. Tak searah. Hatinya mengatakan, ‘jangan’ sementara pikirannya terus memaksa untuk ‘iya’. Perdebatan itu mengakibatkan Harun menjadi terbenganga. Belum lagi dia menyaksikan sepasang  kupu-kupu berwarna hijau bercampur kuning terbang dan hinggap di pohon kelor.

Pohon Kelor itu memiliki puluhan cabang. Tiap cabang memiliki ratusan bahkan ribuan ranting. Maka di ranting-ranting itulah puluhan kupu-kupu, yang jika hujan redah, hinggap dan bermain ala kadarnya. Seketika, suasana menjadi berubah ketika pandangan Harun tertuju kearah barat—di sana ada wanita berambut lurus sedang berjalan. “Jelas. Sudah jelas dia Santy,” pikir Harun.

Harun segera mengambil payung, untuk menangkis gerimis-gerimis dari awan tebal di atas sana. Harun tahu, bahwa hujan itu berawal dari uapan-uapan air yang kemudian menggempul menjadi awan. Awan-awan itu menggempul-gepul hingga menjadi satu dan kemudian menjadi hitam—gelap, maka turunlah hujan.

Harun langsung turun kejalan. Meninggalkan teras yang semenjak tadi dia duduk. Dia segera menghampiri perempuan itu. dan, ternyata betul, dia adalah Santy. Dengan bermodalkan keberanian yang hanya secuil, maka Harun berinsiatif menyapa Santy.

Hai Santy! Apa kabar?”

Eeehhh.,. kamu Harun. Kabar baik.” “Kalau kamu?”

“Baik juga.” “hhhhmmmm…. Kamu punya nomor handphone nda?”

“Untuk apa?”

Yahhhh….. agar kenal lebih dekat!”

“Mesti  tukaran nomor  handphone?”

Harun seketika terdiam. Dia tak menjawab apa-apa. Dalam hatinya berkata, “pelit sekali nih cewe!” Tapi Harun tetap optimis. Mencari cara agar mendapatkan nomor handphone Santy.

Tiba-tiba hujan turun lagi. Deras. Sungguh deras. Keduanya berpisah. Harun tak berhasil mendapatkan nomor handphone Santy. Sedikit kecewa nampaknya. Dari raut wajahnya terlihat jelas, bahwa Harun kecewa.

Dari ujung jalan. Tepat di perempatan rumah pak lurah, Kiyat melaju dengan gesitnya. Motor Supra berwarna biru itu, meski peot  “minta ampun” tak di perdulikannya. Walaupun  dari kejauhan, pasti terlihat jelas, bahwa dia adalah Kiyat. Tandanya adalah; rambut bermodel “belah tengah”, tersisir rapi. Ala mandarin. Kiyat sesegera mungkin memasuki pintu pagar rumah. Kiyat basah. Suaranya agak parau. Pekik telinga mendengarnya. Belum lagi di tambah dengan petir yang baru hadir menyambar dan melingkar di balik gunung.  Suasana menjadi mencekam. Namun kehadiran Kiyat, menjadi satu pertanda kemenangan bagi hati Harun. Kiyat segera dia manfaatkan.

Kiyat berteman akrab dengan Santy. Sebab, dulu dia berdekatan kos dengan Santy. Namun, semenjak beberapa tahun yang lalu, Kiyat pindah. Tapi satu yang pasti. Nomor handphone Santy ada bersama Kiyat.

“Adakah nomor handphone Santy denganmu, Kiyat?” Tanya Harun dengan wajah penuh pengharapan. Berharap Kiyat memberikan nomor itu.

“Iya, ada! Kenapa?”

“Bagi dong!” pinta Harun.

“Untuk apa?” Tanya Kiyat, penuh keheranan.

Nda perlu kamu menanyakan hal itu. Yang jelas, payung itu—payung di samping kamu itu kupersiapkan untuk menangkis hujan agar dapat menemui Santy.”

“Apa hubungannya dengan payung?”

“Kiyat, payung itu yang menjadi jembatan, agar saya bisa menemui Santy. Dia sering ke kios Zambrut ketika hujan turun. Naahh, disitulah letak kesempatanku untuk menemuinya. Kamu tahu Kiyat, sudah berpuluh-puluh jam saya ingin mengantongi nomor handphone nya, namun belum saya dapat. Kamu bisa mengerti? Kamu bisa berikan?”

“Bisa….!! Bisa…!!”

Nampaknya Harun riang—gembira, layaknya anak TK yang  diberi  permen oleh ibunya. Seberkas kertas putih bertumpuk dibalik senyumnya. Wajahnya seketika bercahaya. Seolah-olah dia menemukan berlian di balik ember dalam sumur. Kini pertikaian antara hati dan pikirannya mulai berkurang. Dia memuja-muja Kiyat layaknya raja di zaman feodal.

“Kawan. Dunia  sudah semakin tua. Kita juga semakin tua. Namun, mumpung kita masih muda, mari kita lakukan apa yang kita kehendaki!” ucap Harun, setelah menerima nomor handphone Santy dari Kiyat.

“Lakukanlah sekehendak hatimu kawan, asal jangan merugikan dirimu, apalagi merugikan orang lain,” ujar Kiyat, sambil masuk kedalam rumah, hendak mengganti seluruh pakaiannya yang basah.

Cuaca masih mendung. Hari semakin gelap. Corong di masjid sudah meraung-raung. Suasana di jalanan semakin sepi. Tak ada harapan bagi Harun bertemu Santy di saat itu. Ingin mengirim pesan singkat melalui Short Message Service (SMS), namun Harun masih ragu.  

Bantaya Lanoni, 16 April 2013

Discussion

Leave a Reply