Puisi Dari Panggung Sederhana

*******

556173_229503057159829_332446822_nWaktu semakin berlalu. Para pemuda-pemudi itu tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Maklum, sebentar malam nanti, organisasi yang mereka besarkan selama ini akan bertambah usianya. Sebenarnya ada beberapa item kegiatan yang mereka buat: penampilan seni, kuliner, dan pameran.

Sikap patriotik pun semakin menggebu, dikala mereka lagi berkumpul dari berbagai kampung yang terinisiasi dari beberapa kecamatan. Mereka memang senang melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu. Tapi, bukan berarti mereka senang dengan hedonisme. Setidaknya mereka  menunjukkan kepada saudara-saudara mereka di kampung, bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang seperti itu. Sangat bermanfaat.

Kreatifitas mereka semakin terbentuk, setelah diadakan pertemuan selesai pembukaan kegiatan. Mereka juga akan menampilkan berbagai macam seni, tradisional asal kampung mereka, yang di tampilkan malam nanti.

Ken, adalah salah satu anggota yang menggagas kegiatan itu. pikiran-pikirannya cukup cemerlang, yang bisa diterima oleh semua anggota organisasi. Dia berasal dari desa pesisir. Ayahnya seorang nelayan. Bahkan, ketika hari libur di kampusnya tiba, maka Ken pulang kampung, dan menemani ayahnya untuk melaut. Ken berteman akrab dengan Jum. Nama panjangnya Jumrianto. Namun, mereka berbeda kampung, jika Ken tinggal di daerah pesisir, maka Jum tinggal di areal pegunungan.

Mereka berdua kelihatannya sibuk. Super sibuk. Semenjak berakhirnya pertemuan tadi, mereka silih berganti lewat di hadapan Anto. Dan, Anto melongo. Ita tiba-tiba menyapa Anto.

“Heii.. kenapa kamu hanya diam? Bukankah kita semua sedang sibuk?” katanya. Nada itu mengandung arti, bahwa Ita sedang marah. Ita sebenarnya menginginkan, semua anggota harus bekerja dengan maksimal. Sehingga tak ada yang “curi tulang”.

Anto masih saja melongo. Seolah-olah Anto tak mempedulikan apa kata Ita. Ita sedikit geram. Lalu, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Jendela dalam gedung itu cukup banyak, sehingga angin dapat leluasa masuk.

“Heeiii.. Nto! Kamu tega melihat teman-teman sibuk—capek  yah?” suara Ita bertambah besar.

“Iya. Dari tadi kulihat kamu hanya di depan pintu. Kamu bukan mandor kan?” sambung Ana. Dia membantu Ita untuk menekan moral Anto.

Ssssstttt…,!! Kalian tahu, di buku-buku cerita? Saya pernah membacanya waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar!” kata Anto, dengan suara sedikit pelan, namun memancing emosi mereka.

“Buku apa? Buku tentang Mandor?” Tanya Ita.

“Begini: dulu, jika para petani bekerja secara berkelompok di ladang, mereka membagi tugas. Ada yang mencangkul, ada yang menanam; ibu-ibunya memasak, ada yang mencuci piring, ada yang memainkann gitar, dan ada yang menyanyi. Jadi mereka berbagi seperti itu. Naahh.!! Fungsi orang yang memainkan musik itu menjadi penyemangat para pekerja.”

“Terus, apa hubungannya dengan kamu?” Ana kembali membeberkan pertanyaan.

“Saya, berdiri disini di ibaratkan para pemain gitar dan penyanyi itu. Dan menjadi penyemangat kalian yang sedang bekerja.”

Mereka berdua terdiam. Sementara yang lain tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Cuaca begitu panas. Mungkin otak Ita dan Ana juga mendidih akibat ulah Anto. Tiba-tiba suara adzan terdengar. Waktunya Dzuhur. Berlahan-lahan, mereka menyerang Anto lagi; dengan berbagai macam pertanyaan.

“Heeeii, Anto. Jika para pemain musik dan penyanyi itu adalah penyemangat bagi para petani, maka kamu di sini adalah pembuat emosi orang meningkat. Dan, kamu harus tahu itu.” tekan Ita.

“Iya, betul sekali,” tambah Ana.

“Kenapa?”

“Karena kamu hanya berdiam disini. Jangankan menghibur. Bergerak saja tak ada.” Tegas Ita sekali lagi.

“Betul sekali.”

“Ahhhh., kamu Ana, kuat sekali memprovokasi keadaan ini.”

“Kenapa memangnya? Apa yang di katakan Ita itu betul. Sudah berapa jam kamu di sini. Tak ada sama sekali yang kamu perbuat. Dasar pemalas.”

Hhhuufffff…. Kalian berdua ini memang kompak yah! Kritik kalian pedih. Menusuk Sampai ke jantung.”

Ahhhh., tak usah banyak basa-basi. Ambil ini. Berikan kepada Rina. Cepat yah!” pinta Ita. Sambil menyodorkan pot bunga. Pot bunga itu yang di jadikan salah satu pernak-pernik di panggung pentas seni malam nanti.

Lalu, Anto menuruti apa perintah Ita. Anto berjalan menuju ke arah Rina sambil tersenyum kecil.

  

 *******

Waktu terus bergulir. Semuanya semakin sibuk. Panggung sudah tertata rapi. Spanduk tiga kali tiga meter terpampang di depan—sebagai penghias dan memperjelas, bahwa ini kegiatan sungguhan. Musik electone telah meraung. Menandakan acara segera di mulai. Para undangan berdatangan—memasuki gedung balai pertemuan, yang di sulap menjadi ajang pertunjukan potensi diri. Ran, yang semenjak tadi terlihat rapi—sangat sibuk menuliskan sesuatu. Maklum, dia pembawa acara malam puncak di kegiatan itu.

“Kamejamu keren kali ini, Ran! Tumben kamu pakai kameja seperti itu,” ungkap Dudi di selah-selah kesibukannya.

“Kameja ini baru kubeli beberapa minggu yang lalu. Di pasar,” jelas Ran.

“Bolehlah! Saranku, kamu harus memakai kameja sejenis ini, jika ada acara resmi,”  sambung Ana yang duduk di kursi sofa.

Sementara, para konsestan pekan raya di malam itu terlihat melatih dirinya masing-masing. Bahkan ada yang meredam ke-gugup-an yang meramuk dalam raganya. Risa, adalah salah satu konsestan di malam puncak kegiatan itu. Dia akan menampilkan sebuah puisi yang baru di ciptakannya beberapa jam yang lalu. Risa hanya terdiam di sudut kiri gedung itu. Dia di temani oleh Ken yang juga pandai memetik gitar. Rencananya puisi Risa akan di iringi oleh petikan gitar ala Ken.  

Tarian tradisional asal daerah mereka sudah di pertontonkan. Gedung menjadi riuh—suara tepuk tangan terdengar dari seluruh penjuru  gedung. Penampilan kedua di malam itu adalah Rabana, yang di bawakan oleh para anak-anak Sekolah Menengah Atas. Riuh. Semakin riuh. Gedung semakin dipadati penonton.  

Suasana semakin membahana—dikala Risa telah naik panggung. Aroma mistik tercipta di gedung itu. Mata penonton seolah tak berkedip. Mulut seolah tak terbuka. Telinga seolah tak ingin mendengar apapun—selain dari puisi yang di dengungkan Risa di atas panggung sederhana itu. Pusat pikiran penonton di gedung itu hanya satu objek. Risa. Maklum, dia membawakan sebuah puisi yang baru kali ini di dengar oleh para pendengarnya.

Perang….. Perangggg….. perangggg….” Risa telah memulai puisi di bait pertama.

Semuanya tertegun. Diam. Sunyi—senyap. Ekspresi wajah Risa semakin meyakinkan penonton, bahwa dia benci dengan peperangan. Dia benci dengan kekerasan. Sementara, dia juga  kagum dengan pahlawan yang ada di daerahnya. Yang selalu  melawan ketertindasan, melawan kesewenang-wenangan, dan melawan ketidakadilan. 

Suara Rina semakin menggelegar. Arti dari puisi itu semakin menekan jiwa. Dia berhasil menghipnotis para penonton yang mendengar dan melihatnya. Tiba-tiba dia berlutut, seolah-olah memohon kepada seluruh manusia, bahwa perang harus di hentikan. Itulah pesan moral dari puisi yang di  ciptakan Risa: Pertikaian adalah sumber kesengsaraan.

Maka, wahai manusia, hentikanlah pertikaian itu. Hentikanlah peperangan itu. Karena perang hanya untuk menyensarahakan semua makhluk hidup di dunia ini.” Itulah petikan terakhir puisi Risa. Semua penonton bertepuk tangan. Tak terkecuali.

 

Bantaya Lanoni, 19 April 2013

 

Leave a Reply