Melawan Perusak Hutan

Judul Buku      : Qozan; Kembalikan Hutanku
Penulis             : Imogail Zam-Zami Djalaluddin
Terbit               : Tahun 2011
Penerbit           : Republika Penerbit
Jumlah             : vi+ 350 halaman.
 

imagesHutan, sebenarnya, mempunyai beberapa fungsi, di antaranya: sebagai penyangga air, sebagai sumber ekonomi, berperan melindungi tanah dari erosi dan longsor, dan lain sebagainya. Namun, apa yang terjadi jika hutan di babat habis oleh orang yang tidak bertanggung jawab?

Dalam sebuah Novel, “Qozan: Kembalikan Hutanku”, menceritakan tentang si anak pemberani. Qozan. Novel tersebut di buat oleh Imogail Zam-zami Djalaluddin. Awalnya, menceritakan tentang orang-orang kota yang arogan. Mereka menghancurkan hutan adat  pedalaman rimba Raya di Sulawesi Tengah, yang di tinggali oleh Qozan bersama masyarakat adat kesukuannya. Dan akhirnya, banjir bandang pun datang, wabah penyakit ikut menyerang, bencana datang silih berganti. Bahkan, ayah dan ibu Qozan meninggal, karena tertimpah pohon yang di tebang oleh para perusak hutan itu.

Para penebang pohon itu hanya menciptakan kesulitan bagi  suku mereka Qozan. Selain dari menghancurkan keanekaragaman hayati, mereka juga menikahi gadis di perkampungan adat itu, lalu mereka pergi begitu saja, ketika para gadis itu sedang hamil.

Padahal masyarakat kesukuannya menganggap, bahwa hutan adalah rumah tempat tumbuh, dan sebagai kebesaran adat mereka. Mereka sangat menghujat para perusak hutan yang sama sekali tidak memikirkan nasib anak—cucu mereka. Pun juga, tak pernah memikirkan akan kelestarian hutan. Kaker Qozan, sebagai kepala Suku, menyebut para perusak hutan itu “orang-orang jahat”.

Qozan, yang semenjak lahir berada dalam komunitas kesukuannya itu, agak sedikit ragu dengan adatnya, yang semenjak turun—temurun mereka lakukan. Memberikan sesajian untuk roh—leluhur mereka. Qozan memberontak. Walau hal itu hanya sebatas hati dan pikirannya. Qozan beranggapan, bahwa cara menghentikan para penebang pohon secara liar itu, bukan dengan mengadakan upacara sesajian. Qozan lebih memilih-meminta bantuan kepada orang-orang kota. Qozan pergi sendiri hanya untuk memperjuangkan kelestarian hutan dan adat kesukuannya.  

Namun sayang, ketika Qozan kembali lagi ke hutan—sebagai paru-paru dunia itu. Dia tak lagi menemukan rumah adat, rumah mereka tempat tinggali dulu. Tak menemukan seorang pun di situ. Hutan telah gundul. Kampung mereka juga sudah tak ada. Yang tertinggal adalah kuburan ayah dan ibunya.

Kelebihan dalam novel tersebut adalah, membuat pembaca menjadi terinspirasi atas perlawanan Qozan yang menggebu-gebu. Hal lainnya adalah kita menjadi termotivasi untuk tetap menjaga hutan demi kelestarian lingkungan. Hutan menurut qozan adalah paru-paru dunia.

Namun, dalam novel tersebut, memuat hanya sekitar tiga bab saja menceritakan soal hutan. Lebih banyak menuliskan tentang keindahan pantai di Desa Enu. Seolah-olah, ketika Qozan mendapatkan teman di Enu, Qozan lupa akan hutannya yang semakin hari semakin di babat oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab itu. Meskipun, Qozan mendapatkan pengalaman cara mengusir para penghancur karang di laut lepas.

Selamat Hari Bumi, 22 April 2013.
Salam Lestari.
Bantaya Lanoni, 22 April 2013
 

Leave a Reply