Penghianat Itu Bernama Pak Awi.

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

DSC_0108Senin sore—di penghujung Maret tahun itu, hujan tak juga reda—membasahi tanah yang berabu penuh debu. Tanah yang gersang itu kini tergenangi oleh air hujan: tanah menjadi basah. Pohon mangga, ubi, kelapa, jambu, pepaya menyambut gembira turunnya hujan. Pohon-pohon itu; kini jauh dari kehausan yang mendera. Awan gelap menyelimuti kampung yang damai dan kaya akan sumber daya alamnya. Semoga saja banjir tak datang.

Para petani sawah kini telah pulang dari sawahnya. Raut wajah menampakkan gembira. Walau lelah, para petani belum langsung beristirahat. Mereka senang membersihkan selokan yang kotor di saat hujan turun.  Namun, tidak bagi Pak Kahar. Selama beberapa bulan terakhir, Pak Kahar kelihatan murung. Pikirannya semakin tak menentu. Pak Kahar tidak membersihkan selokan di depan rumahnya, seperti apa yang dilakukan oleh petani lain.

Dengan sigap, Pak Kahar segera mengganti pakaiannya yang basah itu. ia lalu membuat segelas kopi. Pak Kahar memang lelaki pecandu kopi. Sejak nenek Abel—ibu Pak Kahar—meninggal dunia 10 tahun silam, semenjak itu pula ia suka meneguk kopi—hingga sekarang.

Matanya berbinar. Di balik jendela kaca rumahnya, ia membolak-balikkan lembaran buku—kiriman teman dari kota. Kelihatannya ia semakin gelisah. Lalu, Abel—anak Pak Kahar menyapanya dengan penuh kehati-hatian.

“Pak, apakah bapak yakin, perusahaan tambang yang akan memporak-porandakan gunung Takudan itu, mengakhiri niatnya?”

“Anakku. Dalam hidup, kita harus optimis. Tak bisa pesimis. Kita harus melawan perusahaan tambang itu dengan cara kita sendiri.”

“Caranya?”

“Abel, di kampung ini mayoritas petani. Dan, kampung di pesisir sana, mayoritas nelayan. Mereka harus di panggil untuk melawan. Sebab, mata pencaharian mereka juga akan terancam. Dan, itu pasti!”

“Abel belum mengerti Pak!” Abel menunjukkan wajah kebingungan. Ia tak tahu alur pemikiran bapaknya. Abel berusaha meraba-raba, namun pikirannya tak mampu, maklum ia baru kelas dua SMA.

“Kita, petani lainnya, dan nelayan di bawah sana, itu harus mengorganisasikan dirinya. Kita harus bersatu Bel. Mungkin teman-teman sekolahmu bisa di ajak juga.”

Abel kemudian pergi meninggalkan bapaknya. Tak mengeluarkan sepata-kata pun. Abel anak pertama Pak Kahar. Ia selalu menuruti  apa perkataan bapaknya.

Hari sudah mulai gelap. Hujan belum berhenti mendera. Sepertinya hujan balas dendam. Pak Kahar masih sibuk membolak-balik lembaran buku itu. Ia selalu optimis untuk mengusir perusahaan tambang itu. pikirannya mengatakan, ‘perusahaan tambang mencari rezeki, namun petani dan nelayan juga mencari rezeki. Perusahaan tambang hanya menguntungkan beberapa orang saja, namun jika perusahaan tambang itu beroperasi, maka ribuan orang akan rugi dan menderita.’  

 

*******

“Ini sebuah tantangan berat tentunya. Kita melawan orang-orang yang berduit,” kata Jumran. Jumran salah satu tokoh pemuda yang berpengaruh di kampung itu. Selain gemar memainkan si kulit bundar di tengah lapang. Ia juga senang demonstrasi, yang akhir-akhir ini marak terjadi di sekitaran daerahnya itu.

“Bukan hanya pengusaha yang kita lawan, tapi juga penguasa, yang telah memberikan izin,” sambung Pak Dika. Salah seorang petani, yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun II di kampung itu.

“Kemarin malam, aku diskusi dengan Pak Awi. Katanya, ia juga menolak perusahaan tambang itu,” ujar Pak Kahar.

“Ia juga mengatakan penolakan itu kepadaku. Iya. Waktu kami bertemu di sungai, ia mengatakan hal itu. Namun, ada beberapa kalimat yang aneh menurut pendengaranku saat itu. katanya, ‘jika perusahaan itu masuk, maka lapangan pekerjaan akan terbuka.’ Lalu, aku menganalisanya, pikiranku berkata, bahwa Pak Awi sepakat dengan masuknya perusahaan tambang itu,” kata Jumran, menunjukkan wajah memerah—penuh amarah.

“Logika seperti apa yang ia pakai? Di kampung ini kan mayoritas petani. Semua punya lahan pertanian. Tak ada yang menganggur. Lalu, untuk apa membuka lapangan pekerjaan lagi? Ada apa pula ini?” sambung Pak Dika, dengan semangat. Ia lalu meneguk kopi yang tinggal setengah gelas.  

Diskusi di pagi itu semakin serius. Kebiasaan mereka, sebelum masing-masing mengunjungi lahan pertanian, senang berkumpul—diskusi sambil meneguk segelas kopi. Yang pastinya, sebelum matahari memancarkan cahayanya di kampung itu, satu-persatu kumpul di rumah Pak Kahar. Jadi, setiap pagi, Ema, istri Pak Kahar, harus sibuk menyediakan minuman hitam itu kepada para tamu. Pak Kahar, adalah seorang petani, yang di segani karena kecerdasan dan keberaniannya melawan perusahaan tambang, maka tak heran orang-orang di kampung itu senang berkumpul dirumahnya.

Termasuk Pak Awi. Ia adalah kepala kampung—di kampung itu. Setelah  kemarin malam Pak Awi diskusi dengan Pak Kahar, hatinya terusik. Ia takut permainan ini akan terbongkar. Rencana perusahaan tambang itu beroperasi, ada campur tangan Pak Awi. Sebagai pemegang kekuasaan di kampung itu,  Pak Awi menerima dan mengizinkan perusahaan tambang, tanpa ada musyawarah dengan warganya. ‘Celaka. Jika para petani di kampung ini tahu aku mengizinkan perusahaan tambang itu beroperasi di sini, maka habislah!” pikir Pak Awi.

 Namun, Pak Awi selalu mengkampanyekan kepada seluruh warganya, bahwa ia juga menolak perusahaan tambang itu. Setiap ada pertemuan di kampung itu, Pak Awi harus menghadirinya. Ia harus tahu perkembangan perlawanan para petani.

*******

Suatu malam, ba’da Isyah—pertemuan di gelar. Orang-orang pada berkumpul di balai pertemuan: tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, dan para tokoh-tokoh masyarakat lainnya, terlihat sangat antusias. Tak luput—kepala kampung, Pak Awi, hadir dalam pertemuan itu—beserta para jajarannya.

Ada beberapa orang yang  memegang buku dan pena dalam pertemuan itu. Semua memasang wajah serius.  Mereka betul-betul ingin melawan ekspansi pertambangan itu. Mereka tak menginginkan pertanian mereka akan gagal, seperti yang terjadi di daerah lainnnya. Mereka tak menginginkan lingkungan mereka rusak.

Gedung yang bisa menampung seratusan orang itu, seketika diam. Hening. Semua kursi terisi. Beberapa tokoh masyarakat duduk di depan—berhadapan dengan peserta diskusi lainnya. Termasuk kepala kampung.

“Bapak, Ibu sekalian, malam ini kita kembali mendiskusikan apa yang telah meresahkan kita akhir-akhir ini. Sebelum kita menyesal di kemudian hari—alangkah baiknya kita cegah dari sekarang atas ekspansi pertambangan yang berencana mengeksploitasi sumber daya alam di kampung kita. Masalahnya adalah: merusak lingkungan,” Pak Kahar memulai  pendiskusian tanpa basa-basi.

 Pak Kahar melanjutkan. 

“Jadi, Bapak, Ibu tugas kita adalah mempertahankan apa yang menjadi hak kita. Ingat Bapak, Ibu, perusahaan tambang itu, adalah milik asing. Yang pasti, keuntungan sebesar-besarnya adalah milik asing. Bukan kita. Disinilah rasa nasionalisme kita di uji. Mempertahankan tanah air kita. Kita hanya di bodohi oleh mereka: penguasa dan pengusaha. Jangan percaya iming-imingan, Bapak, Ibu.”

Wajah Pak Awi memerah. Ia kelihatannya tersinggung. Ia mencoba menyembunyikannya. Namun, Jumran cepat menangkap. Keyakinannya semakin teguh, bahwa Pak Awi sepakat dengan perusahaan tambang itu.

Gedung bergerumuh. Peserta diskusi banyak yang angkat tangan, seraya menyampaikan pendapatnya masing-masing. Namun, Pak Awi langsung mengendalikan situasi. Ia lalu angkat bicara.

“Bapak, Ibu, walau bagaimana pun, kita harus bersama-sama melawannya. Hutan kita di sana, pasti akan luluh—lantar di porak-porandakan boulduzer sebesar gedung ini,” ujar Pak Awi.

Pak Salam, seorang guru Sekolah Dasar di kampung itu, bergurau, “Jika tak diberikan izin dari pemerintah desa, maka perusahaan itu tidak akan masuk. Pasti sudah ada lisensinya.”

“Iya, pasti sudah ada,” sambung salah seorang petani dari belakang—kursi paling akhir.

Wajah Pak Awi semakin memerah. Bagai buah manggis yang sudah matang. Mendengar ucapan Pak Salam tadi, ia seolah di tampar oleh tangan sebesar kaki gajah. Suasana gedung semakin riuh. Pak Awi keluar dari arena diskusi. Ia sudah tak tahan. Semua peserta diskusi merasa heran. Dan, Jumran semakin teguh dengan keyakinannya. Pak Awi Penghianat.

 Sebenarnya, orang-orang  di kampung itu sudah curiga. Pak Awi, selalu keluar kampung. Pergi ke kota. Terdengar kabar, bahwa Pak Awi ikut sosialisasi perusahaan tambang itu di kota. Perusahaan tambang itu tidak buat sosialisasi di kampung mereka. Sosialisasinya hanya di kota. Dan,  mengundang para pejabat saja.

“Pasti sudah ada ‘apa-apanya’ dengan Pak Awi. Dia pasti sudah dijanjikan sesuatu,” bisik seorang petani kepada petani lainnya.

“Iya. Pantas saja ia berlagak aneh akhir-akhir ini. Jarang pula di rumah. Ia menghianati kita. Padahal dia kepala kampung, yang harus mengikuti aspirasi rakyatnya,” balas petani lainnya.

“Nampak jelas, bahwa Pak Awi memiliki hubungan erat dengan penguasa itu.  apa yang Pak Salam katakana tadi benar adanya,” sambung petani lainnya.

Jumran kemudian bergumam. “Pak Awi, pemimpin kita itu telah menghianati kita.”

“Kita tetap akan melawan, termasuk melawan para penghianat,” ujar Pak Kahar.

“Setuju” teriak serempak peserta diskusi dalam gedung itu.

Bantaya Lanoni, 27 April 2013

 

Leave a Reply

Penghianat Itu Bernama Pak Awi.

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

DSC_0108Senin sore—di penghujung Maret tahun itu, hujan tak juga reda—membasahi tanah yang berabu penuh debu. Tanah yang gersang itu kini tergenangi oleh air hujan: tanah menjadi basah. Pohon mangga, ubi, kelapa, jambu, pepaya menyambut gembira turunnya hujan. Pohon-pohon itu; kini jauh dari kehausan yang mendera. Awan gelap menyelimuti kampung yang damai dan kaya akan sumber daya alamnya. Semoga saja banjir tak datang.

Para petani sawah kini telah pulang dari sawahnya. Raut wajah menampakkan gembira. Walau lelah, para petani belum langsung beristirahat. Mereka senang membersihkan selokan yang kotor di saat hujan turun.  Namun, tidak bagi Pak Kahar. Selama beberapa bulan terakhir, Pak Kahar kelihatan murung. Pikirannya semakin tak menentu. Pak Kahar tidak membersihkan selokan di depan rumahnya, seperti apa yang dilakukan oleh petani lain.

Leave a Reply