Air Tercemar: Kami Gagal Panen Lagi

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

DSC_0221Hamparan sawah begitu luas ketika kami memasuki Desa Petunasugi. Nampaknya, masyarakat di sana lagi panen. Padinya sudah menguning. Burung-burung gelatik terbang—mampir di ujung padi yang hampir merebah. Burung itu bermain sesuka hatinya, di tengah-tengah petani yang sedang membungkuk–memotong batang-batang padi. Mereka lihai memainkan sayap kecilnya itu.

Gapura berdiri kokoh terlihat dari kejauhan. Nampaknya, gapura itu berdiri sepuluh tahun silam. Entahlah!  Cuaca panas. Matahari begitu menyengat. Keringat menggantung di kening Opik. Kelihatannya ia gerah. Namun, semangat Opik begitu berkecamuk. Ia selalu saja memberikan satu tafsiran. Tak lebih. Itu terlihat dari raut wajahnya. Tampan dan meyakinkan.

Tak seperti biasanya. Ketika kami berkunjung dari kampung—kekampung, yang masyarakatnya lagi panen padi—menunjukkan wajah gembira. Namun disini—di Desa Petunasugi ini, wajah itu seolah muram. Bukan karena pengaruh teriknya sinar mentari yang menyengat di siang itu. Bukan pula karena kelaparan. Tapi karena, hasil panennya kali ini—turun drastis. Kami mencoba menghampiri salah seorang petani setempat, guna mencari tahu kenapa bisa gagal panen.

“Selamat siang pak!” aku mencoba menyapa Pak Moi, sambil menjabat tangannya dengan tangan kanan.

“Selamat siang…!! Selamat siang…!!” balas Pak Moi. Kemudian Pak Moi berujar lagi, “Kalau boleh tahu, kalian dari mana?”

“Dari Palu pak, kami mahasiswa,” jawab Dino.

“Dalam rangka apa kemari? Lagi Kuliah Kerja Nyata?”

“Bukan pak. Bukan,” tegas Opik. Opik kemudian menjelaskan lebih lanjut. “Itu pak. Yang itu, Dino, ia mahasiswa pertanian. Kalau saya mahasiswa tehnik,” sambil menunjuk kami satu persatu. “Kami datang kemari menemani Dino. Ia sempat baca di surat kabar lokal, bahwa Desa ini lagi dilanda gagal panen. Betulkah begitu pak?” lanjut Opik

“Ooohh…!! Bapak sangka kalian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Memang, di sini lagi gagal panen,” tukas Pak Moi, ia kemudian menyambarkan telapak tangan kanan ke jidatnya. Ia seolah menyesalkan sesuatu.

“Kenapa bisa gagal panen pak?” aku mencoba bertanya lagi.

Pak Moi belum menjawab. Ia masih terdiam. Telapak tangan masih bersandar di jidatnya yang agak mengkilap itu. Matahari semakin menyengat. Terlihat, butiran keringat masih saja menggantung di ujung kening Opik. Ia gerah.

Pak Moi kemudian bersuara lagi.

“Entahlah. Semua padi kami  terlihat kerdil. Padahal, dahulu, padi tidak sekerdil itu. hasilnya pun melimpah. Namun, para petani di sini menduga, bahwa itu disebabkan oleh mengkeruhnya air sungai yang masuk di areal sawah kami. Air itu bersumber dari gunung. Di gunung sana ada aktifitas pertambangan. Ada perusahaan tambang di sana. Limbahnya di buang ke sungai. Mungkin itulah penyebabnya.”

Pak Moi berdiam lagi. Matanya berkaca-kaca. Sedih. Ia seolah menyesal, memasukkan air yang keruh itu ke sawahnya. Tapi tidak. Tak ada sumber air yang lain. Satu-satunya sumber air, dari situ. “Kuala Raja” namanya. Tiba-tiba Pak Boi datang menghampiri kami yang sedang berbincang-bincang. Ia langsung menyambarkan pantatnya ke lantai keramik berwarna merah. Ia kelihatannya lelah. Ia menyapa kami satu persatu.

“Ada apa? Apa yang kalian diskusikan? Tanya Pak Boi, dengan nada senduh agak parau. Ia sangat akrab. Seolah-olah ia sudah mengenal kami.

“Mereka ini mahasiswa dari Palu. Mereka jalan-jalan kemari, karena sebelumnya telah mengetahui, bahwa petani disini lagi gagal panen,” jawab Pak Moi.

“Oooohhh, begitu?”

“Iya.”

“Iya pak. Betul apa yang di katakan Pak Moi,” kata Opik, yang disusul oleh gumpalan asap rokok, kemudian berubah menjadi bentuk-bentuk lingkaran setengah jadi—bertebaran di udara sana. Opik menciptakan polusi udara lagi.

 

*******

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Kami sudah selesai makan ala kadarnya, yang disajikan oleh keluarga Pak Moi. Matahari masih saja menyengat. Panasnya seperti tak berbeda dua atau tiga jam yang lalu. Tak ada awan hitam yang menggantung di langit sana. Semuanya berwarna biru—mengkilau penuh misteri.

Perbincangan dimulai lagi.

“Pak Moi punya berapa hektar sawah?” Tanya Dino memulai.

“Kalau sawah bagian bawah sini, sekitar dua hektar, kalau yang di atas sana hanya satu hektar,” jawab Pak Moi, sambil menunjuk arah sawahnya di kejauhan sana.

“Panen lalu, lahan sawah tiga hektar itu berapa ton hasilnya, Pak Moi? Dino kembali membeberkan pertanyaan.

“Mencapai tiga ton.”

“Sekarang?”

“Kalau sekarang, mencapai dua ton saja agak susah.”

“Karena faktor kerdil itu yah pak?”

“Iya.”

“Lalu jalan keluarnya seperti apa pak? Jika tidak dicarikan jalan keluar, maka petani di sini akan merugi terus, pak,” aku mencoba membeberkan pertanyaan dan pernyataan.

“Sampai sekarang pemerintah daerah belum berbuat apa-apa. Padahal petani disini sudah tiga kali mengadukan ke pemerintah tentang permasalahan ini: Bagaimana caranya air yang keruh itu tak mengalir kesawah kami. Atau setidaknya, limbah perusahaan tambang itu, tak di buang ke aliran sungai.”

“Dulu, air itu bisa di pakai mandi, mencuci, bahkan dipakai untuk minum. Tapi sekarang kalian lihat, air itu sudah keruh. Jangankan di pakai minum, pakai mencuci pakaian saja sudah tak layak,” cetus Pak Boi.

Seketika kemudian terdiam. Pasukan burung-burung gelatik tadi—terlihat menyambar di dedaunan—serupa daun jampu mente. Mungkin mereka bosan bermain di hamparan padi itu. Suasana menjadi hening. Seketika, pot bunga milik istri Pak Moi tiba-tiba pecah, diikuti oleh detak jam dinding dari arah ruang tamu. Detak jam dinding itu memberitahukan kami, bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Artinya, Pak Moi harus pergi kesawahnya lagi. Menghabiskan sisa kerja pagi—hingga siang tadi. Tapi, Pak Moi masih tetap duduk dan bercengkerama dengan kami. Dengan kami yang baru saja ia kenal. Ia mencurahkan segala isi hatinya. Ia seolah mengecam aktifitas perusahaan tambang di hulu sana. Ia seolah ingin mengusirnya. Ia juga mengecam pemerintah yang tak mempedulikan mereka, yang sudah tiga kali panen penuh dengan kerugian besar.

“Dari pengalaman bapak, berapa ongkos; mulai dari menanam hingga panen per hektar?” tanya Opik.

“Panen kali ini kan sudah ketiga kalinya gagal, atau rugi. Pada saat masa-masa jayanya itu, biasanya aku menghabiskan dana tiga juta per hektar,” tegas Pak Moi.

“Sekarang, berapa banyak biaya di pakai pak?”

“Sekarang, lima juta saja tak mencukupi. Karena padinya betul-betul kerdil, jadi harus di beri doping setiap tiga hari sekali.”  

“Belum lagi harus diberi pupuk. Kalau dulu, pupuknya biar hanya sedikit, hasilnya pasti melimpah. Tapi sekarang, harus diperbanyak pupuk—hasilnya juga tak memuaskan, bahkan mengalami kerugian. Bagus kalau kembali modal. Tapi ini betul-betul rugi,” lanjut Pak Moi.

“Sumber pendapatan lain ada nda pak?”

“Kalau dulu, kakao di sini booming. Tapi, di pertengahan tahun 2009, di serang hama, dan tak produktif lagi, bahkan ada yang mati. Jadi, petani-petani di sini hanya mengandalkan sawah. Kalau di sini ada laut, yah alternatifnya, kami pasti jadi nelayan. Hehehehehehe….!!!”

Pak Moi kelihatannya bingung. Tapi ia masih sempat mengeluarkan leluconnya. Ia tertawa terbahak-bahak. “Hahahahahaha.” Petani di desa itu memang penuh anekdot yang luar biasa. Terlalu mainstream jika belakangan ini pemerintah tak berpihak kepada petani. Bahkan, di mulai dari era orde baru. Maklum saja, di hulu sana, ada perusahaan tambang, yang memiliki modal besar. Penguasa dan pengusaha berafiliasi satu sama lain. Kuncinya itu.

 

*******

Padahal, desa, menurut bang Iwan dalam sebuah lagunya adalah “sebuah kekuatan ekonomi bagi kota.”

“Perusahaan tambang itu hanya menguntungkan sepuluh orang, tapi telah merugikan seribu orang. Padahal petani-petani disini juga membayar pajak setiap tahunnya. Kenapa pemerintah tak membela kami?” keluh Pak Moi. Wajahnya senduh. Mendung tak bermentari.

“Sabar yah pak!” cetus Dino.

“Sabar apa maksudnya? Sudah tiga kali panen kami mengalami kegagalan. Dan, indikasi terkuat adalah pengaruh air bercampur limbah itu.”

“Maaf pak. Bagaimana kalau kita aksi demonstrasi ke kantor pemerintah saja? Siapa tahu, dengan jalan itu, sawah-sawah petani disini bisa terselamatkan.”

“Ide yang menarik sepertinya, Dino. Kapan bisa kita lakukan?”

“Kita harus mendiskusikan dengan petani-petani lain pak.”

“Baiklah kalau begitu.”

 

Bantaya Lanoni, 30 April 2013

Discussion

Leave a Reply