Bertarung Dengan Kemiskinan

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

DSC_0135Semenjak ditinggalkan oleh suaminya tiga tahun silam. Mbak Mina harus menjadi kepala keluarga yang menanggung kelima orang anaknya. Setiap sebelum giliran atap rumah Mbak Mina di sinari oleh panasnya mentari—Mbak Mina harus bangun mendahului anak-anaknya. Ia harus mempersiapkan sarapan pagi ala kadarnya. Ambu—anak Mbak Mina paling sulung merasa prihatin dengan keadaan ibu dan keluarganya itu.

Ambu telah putus sekolah bertepatan dengan kepergian ayahnya. Saat itu, Ambu kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Itu keputusan yang paling pahit, yang pernah di tanggung oleh Ambu. Padahal, setahun lagi, Ambu akan lulus. Kemiskinan yang menjerat mereka mengakibatkan kedua adiknya juga putus sekolah—yang masih sekolah—di Sekolah Dasar. Dan akhirnya, Ambu harus mencari nafkah untuk membantu ibunya yang sudah tua itu. Rumah panggungnya yang hampir runtuh itu, tak dapat mereka perbaiki. Betapa runyamnya kehidupan keluarga Ambu.

Mbak Mina telah selesai menyiapkan sarapan. Itu tugasnya setiap pagi. Meskipun di derah kemiskinan yang berkepanjangan, Mbak Mina tak pernah luput memperhatikan anaknya. Sepiring—berdua adalah potret pertatapan muka mereka ketika makan. Lantai yang terbuat dari kayu telah di makan usia, seolah bosan di tindik oleh celana yang sudah seminggu tak pernah terganti. Sayuran bayam yang ditanam di pekarangan rumah, menu istimewah di pagi itu.

Aisyah, anak Mbak Mina paling bungsu—sering membuat Mbak Mina tersenyum—bahagia. Aisyah terlahir kedunia, ketika ayahnya telah pergi selama sebulan. Saat itu pula, Aisyah tak pernah melihat wujud ayahnya. Ambu, yang tak biasa sarapan pagi, semenjak tadi duduk termenung di balik jendela. Tatapan matanya seolah kosong memandangi pekarangan rumah yang tak begitu luas. Ia penuh keputusasaan. Ia berujar pada ibunya.

“Bu, kenapa kita masih terperangkap dengan kemiskinan ini?”

“Jangan kamu pertanyakan hal itu nak. Mungkin ini sudah takdir kita.”

“Rasanya Tuhan tak adil.”

Astaghfirullah. Jangan katakan itu nak. Kamu jangan menyalahkan Tuhan.”

“Tapi Bu!”

“Tapi apa? Tuhan sudah menggariskan semua ini nak. Jangan kamu sesali kondisi kita ini. Kita hanya mampu berdoa dan berusaha nak. Kamu mengerti kan?”

“Iya Bu.”

“Sekarang, kamu bersihkan pekarangan itu. Kamu anak yang baik, Ambu. Sabar yah!” Mbak Minah kemudian pergi. Ia melintasi lemari pakaian yang juga hampir roboh. Sementara, ke empat anak Mbak Mina sedang menikmati makanan di pagi itu.

Mbak Mina harus bergegas mengerumuni tumpukan-tumpukan sampah bersama para pengais sampah lainnya. Mbak Mina harus cepat dalam kompetisi itu. Jika tidak, maka ia tak kebagian jatah sampah yang bisa di jual kepada Pak Samsul. Hanya itu kerja yang tak membutuhkan keahlian menurut Mbak Mina. Di kampungnya, untuk mendapatkan pekerjaan bagi perempuan, sangat sulit. Apalagi Mbak Mina sudah usia lanjut. Dulu, almarhum suaminya, bekerja sebagai buruh—tani di kebun Pak Jalu. Itu pun, Pak Jalu membutuhkan suaminya ketika panen tiba—dua minggu sekali. Sekarang, Mbak Mina harus bersaing ketat dengan pemulung sampah lainnya, untuk mendapatkan setitik rezeki. Waktu almarhum suaminya masih hidup. Paling-paling Mbak Mina hanya menanam sayuran di pekarangan rumah.

Ambu, sebagai anak sulung Mbak Mina, harus ikut membantu memopang perekonomian keluarganya. Jika tidak, maka tak tahu apa yang terjadi kepada empat orang adiknya itu. mungkin setiap hari  adiknya menangis meminta makanan dan susu.

Suatu hari. Ketika Mbak Mina jatuh sakit, Ambu memilih untuk menggantikan ibunya mengais sampah bersama para pemulung lainnya. Parahnya, walau kerja seharian, Ambu tak mendapatkan apa-apa. Ia pulang dengan tangan hampa. Ia tak membawa uang dan makanan untuk ibunya yang sedang sakit, dan keempat adiknya yang sudah lapar. Mbak Mina tak tahan. Ia meneteskan air mata. Bukan karena ia sedang sakit. Tapi melihat keempat anaknya yang sedang menangis menahan lapar. Mbak Mina tak kuasa. Ia seolah pasrah. Tak ada yang membantu mereka.

“Ambu, anakku, kamu masih bisa bergerak kan?”

“Iya, Ibu, ada apa?” jawab Ambu, dengan suara yang terbata-bata. Ia juga tak kuasa. Air matanya jatuh ke lantai hingga menembus ketanah.

“Pergilah kamu ke rumah Pak Lurah. Minta bantuan kepadanya. Mintalah beras walau hanya semangkok. Pergilah Ambu, kasihan adik-adikmu semenjak pagi tadi menangis karena kelaparan.” Mbak Mina masih saja terbaring. Air matanya berderai hingga kepipi yang sudah mengerut itu.

“Baiklah Bu. Ambu minta maaf, karena tak membawa uang dan makanan ke rumah ini.”

“Sudahlah Ambu, itu berarti rezeki masih jauh dari kita. Bergegaslah nak!” seru Mbak Mina.

Ambu, meskipun dalam keadaan lapar yang mendera, ia sesegera mungkin keluar dari halaman rumahnya. Dua kilometer Ambu harus berjalan kaki—menempuh perbukitan yang gersang penuh kaktus. Rumah-rumah tak ada di kiri—kanan. Sinar mentari menyengat. Ambu seolah dehidrasi. Di persimpangan jalan menuju kampung tetangga—terdapat pipa air yang sedikit bocor. Ia kemudian menyambarkan mulutnya di bocoran pipa air itu.  Haus telah pergi.

 

 *******

Sesampainya di rumah Pak Lurah. Ambu segera memberi salam.

Assalamualaikum….

Tak ada jawaban.

Assalamualaikum…..

Masih tak ada jawaban. Sementara, cacing-cacing dalam perut Ambu semakin memberontak. Ia mencoba sekali lagi.

Assalamualaikummmmm…..

Waalaikumsalam…..” suara itu terdengar dari arah dapur.

Ambu senang. Ada harapan untuk mendapatkan beras. Ambu seakan berkata ‘Hal ini kulakukan dalam keadaan terpaksa.’ Padahal, ayahnya sudah mengajarkan kepada keluarga Ambu, agar jangan selalu meminta-minta. Berusahalah sendiri. Tapi ibunya yang menyuruh Ambu. Ambu tahu hal ini dalam keadaan terdesak. Di waktu yang sudah hampir sore itu, di mana lagi mencari rezeki? Lama Ambu menunggu orang yang membalas salamnya—untuk membukakan pintu. Ketika Ambu ingin duduk di kursi teras—tiba-tiba pintu terbuka.

“Kamu, Ambu! Ada apa?” Ibu Lurah menyapa  Ambu yang langsung berdiri tegak karena kaget. Padahal Ambu kelihatan lesu. Ibu Lurah seolah tahu, bahwa Ambu ingin meminta bantuan.

“Ini Bu…….”

“Ini apa?” Tanya Bu Lurah penuh keheranan.

Hhhhhmmmm……. Ada pesan dari Ibuku!”

“Apa itu?”

“Ibuku lagi sakit.”

“Terus?”

“Aku di suruh Ibu ke rumah Bu Lurah ini. Katanya, minta beras,” kata Ambu dengan penuh keragu-raguan.

Ibu lurah tertegun. Diam. Pantas saja, Ambu dari tadi kelihatan lemah.  Mungkin Ambu lapar. Bu Lurah kemudian menyuruh Ambu masuk ke dalam rumah.

Ketika keluar halaman rumah Bu Lurah, Ambu berjalan dengan senang—bukan kepalang. Adik dan ibunya pasti senang akan kedatangan Ambu membawa beras sekitar dua liter itu. Ia berjalan dengan semangat, meski lapar. “Betapa susahnya hidup dalam kemiskinan seperti ini. Mungkin lebih bagus hidup dalam penjara. Tiap hari, mungkin bisa makan tiga kali. Gratis lagi. Biayanya di tanggung Negara,” pikir Ambu kesal.

Setibanya di rumah—Ambu segera memasak dan menyidangkan nasi tanpa lauk-pauk kepada keempat adik dan ibunya yang sedang terbaring sakit. Ibunya senang. Beras yang di bawah Ambu, bisa bertahan sampai esok hari. Untuk menghindari kesedihan anak-anaknya, Mbak Mina mencoba menyembunyikan kegalauaannya. Perjuangan Mbak Mina untuk hidup di dunia ini, sungguh berat. Ia bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri.  Agar, beban hidupnya telah hilang di dunia. Tapi, ia berpikir panjang. Mbak Mina tak tega melihat anak-anaknya itu hidup sebagai yatim—piatu.

Ambu, dengan pikirannya yang agak kritis itu—malah berpikir; kenapa pemerintah tidak pernah perhatikan keluarganya yang miskin melarat? Kenapa dengan negeri yang kaya akan sumber daya  alam, tapi masih ada yang miskin seperti keluarganya di negeri ini? Bagaimana perasaan para pemerintah, yang melihat keluarga miskin seperti keluarganya?

Ibu Ambu yang sudah tua, pasti juga ingin menikmati sisa hidup dengan—hidup yang layak: makan—makanan yang bergizi, tinggal di rumah yang nyaman, bukan seperti rumahnya, yang jika disenggol sapi, akan roboh. Ambu berpikir kritis lagi: dimana semua sumber daya alam yang melimpah itu? Kemana semua para politikus yang mengobarkan janji-janji manis di saat kampanye? Semua tak ada. Ibu Ambu sedang sakit sekalipun, seolah tak ada yang membantu. Potret kehidupan dalam kemiskinan di negeri ini cukup memprihatinkan. Orang-orang seperti mereka, adalah orang-orang yang tersingkir dari kehidupan layak. Kedzaliman mewarnai kehidupan mereka. Penuh kenistaan. Bertahan ditengah kemiskinan—berjuang untuk hidup.

“Ambu,” kata ibunya yang sedang terbaring lesu.

“Iya Bu.”

“Jika sakit ibu berkepanjangan. Kamu harus bekerja ekstra untuk mendapatkan uang, nak. Kalau bisa, panggilah adikmu, Lala. Biar ia membantumu untuk mendapatkan uang. Biar kedua adikmu bisa makan walau hanya sekali dalam sehari.”

“Biar aku sendiri saja yang mencari uang bu. Jangan paksa si Lala untuk kerja. Ia masih kecil. Belum kuat untuk mengais sampah.” Ambu sedih. Ia tak kuasa menahan tangis. Ia seolah merasakan firasat, bahwa ibunya tak akan sembuh dari sakitnya.

 “Terserah Ambu saja. Yang penting Ambu mampu.” Mbak Mina pun meneteskan air mata. Ia sebenarnya membendung air mata itu agar tak keluar, tapi jebol.

Ambu berdiam diri di depan pintu di senja itu. ia seolah tak mengerti mengapa ada perbedaan di negerinya. Mengapa ada orang kaya dan miskin. Mengapa tak ada orang-orang yang menengok keluarganya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Ambu seolah pasrah dengan keadaan. Padahal ibunya tak malas mencari rezeki. Ia juga tak malas.

Bantaya Lanoni, 4 Mei 2013 

Leave a Reply