Ekspedisi di Rimba Gunung Hitam

DSC_0104

Judul                            : Berkelana Dalam Rimba

Penulis                         : Mochtar Lubis

Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit              : 2002

Jumlah Halaman      : xii + 186 hlm: 21 cm

 

Di pegunungan bukit barisan, Daerah tengah Pulau Sumatera, terdapat rimba Gunung Hitam. Orang-orang kampung setempat menyebutnya seperti itu. Karena batu-batu di gunung dan di dalam sungai yang mengalir di dalam rimba gunung hitam itu: umumnya berwarna hitam. Rakyat di sekitar hutan gunung hitam sangat enggan memasuki hutan lebat itu. “Hutan sakti” katanya, yang di penuhi oleh orang bunian, dan orang halus yang dapat menghilang. Di ceritakan kepala kampung, kepada Paman Rokhtam dan beberapa anak muda yang ingin menjelajahi gunung Hitam itu, bahwa dahulu anak-anak kampung yang pergi ke hutan; hilang tak pernah kembali lagi. Di ambil orang bunian.

Kepala kampung memaksa, agar jangan pernah pergi ke rimba gunung hitam itu. “Nanti celaka kalian semua,” kata kepala Kampung itu. Namun, Paman Rokhtam yang seorang ahli pertanian lulusan Institut Bogor itu hanya tersenyum kecil dan melanjutkan perjalanan menuju ke rimba gunung hitam, bersama enam anak muda: Rais, Poni, Aisa, Ayang, Adnan, dan Pentil.

Namun, di balik keberanian mereka itu, juga terdapat rasa takut yang terselubung. Ingat kata kepala kampung, bahwa di hutan rimba hitam itu ada ular besar, harimau, dan hewan buas lainnya. Tapi, rasa takut itu mencoba mereka kubur dalam-dalam. Dan akhirnya, mereka menemukan sebuah dunia baru: ratusan kumbang kecil berwarna coklat—hitam berjalan seakan tak tentu arah—hilir—mudik tak ada putus-putusnya. Mereka seolah terkejut, karena atap dunia mereka terbuka dengan tiba-tiba; cahaya yang lebih terang menembus kegelapan dunia mereka.

Cerita tentang Gunung Rimba Hitam, telah di kulas oleh  Mochtar Lubis dalam bukunya berjudul “Berkelana Dalam Rimba”. Mochtar Lubis, Lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Pada tahun 2002 Mochtar Lubis membikin sebuah buku berjudul “Berkelana Dalam Rimba”, yang sebelumnya merupakan pengembangan rangkaian cerita: “Mengembara di Rimba Gunung Hitam”. Buku ini di tujukan untuk anak-anak muda, dalam bentuk cerita yang mengasyikkan, dan memberikan pada pembaca muda: pengertian mengenai alam, lingkungan hidup, dan kehidupan berbagai margasatwa di dalam hutan belantara, padang, dan semak belukar.

Mochtar Lubis, dalam bukunya itu mengharapkan, sesama mahkluk Allah: antara manusia dan margasatwa, akan timbul rasa sayang. Karena kehidupan margasatwa sebenarnya berkaitan erat dengan kehidupan manusia sendiri dan kepunahan hutan dengan segala isinya, akan menimbulkan bencana dan malapetaka yang amat besar bagi kehidupan manusia. Mengharapkan agar generasi muda mencintai alam dan semua isinya, dan akan ikut melindungi alam dan segala penghuninya: margasatwa, tumbuhan, pepohonan, dan juga manusia itu sendiri. 

Mochtar Lubis juga, memberikan gambaran tentang kesadaran tentang kehidupan margasatwa dan hutan belantara, kesadaran tentang keindahan dan kecantikan yang terkandung dalam rimba belantara; sinar pagi menimpa bunga anggrek macan yang mekar tinggi di atas pohon raksasa, gemerlapan air berkilauan menceracah di selah batu dan kerikil di sungai, kilat perak sisik ikan dalam air jernih di singgung sinar matahari, panas api mendiang di waktu malam, ketegangan menemui bekas telapa harimau di tengah hutan di waktu gerimis, dan air mata menetes menggenangi lubang jejak harimau—yang menunjukkan sang harimau belum jauh pergi.

Selain dari mengajarkan kita untuk cinta kepada Margasatwa, buku itu juga mengajarkan kita untuk membuat simpul yang mudah, namun kuat. Pun, mengenal makanan yang bisa di makan di hutan Rimba.

Pengalaman pengembaraan dalam buku itu merupakan pengalaman Mochtar Lubis dan kawan-kawan dalam hutan—hutan di Sumatera yang mereka jelajahi, untuk mengumpulkan anggrek. Rasa kemenangan pun telah menundukkan kemalasan dan keletihan serta keengganan melakukan perjalanan berat dalam diri. Tiadalah dapat di beli dengan uang seberapapun banyaknya.    

Bantaya Lanoni, 5 Mei 2013

Discussion

  1. Felicity
      • Felicity

Leave a Reply