Ceramah Yang Membosankan

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

aggSemenjak aku berkenalan dengan lelaki setengah peot itu. Ia terus-terusan menceritakan tema yang sama. Setiap harinya, ia menceramaiku yang itu-itu saja. Jika, di lihat dari usianya yang mencapai 50-an tahun itu, sudah tentunya, ia telah banyak “makan garam”. Tapi, setiap ia bercerita: sungguh membosankan. Tak ada yang menarik. Aku hanya ingin ia menceritakan  suatu persitiwa tentang runtuhnya Soekarno, atau menceritakan tentang runtuhnya Soeharto. Atau setidaknya, menceritakan tentang bencana alam yang akhir-akhir ini menimpah negeri yang kaya raya.

Tidak. Ia sama sekali tidak menceritakan itu. Ia hanya menceritakan tentang pengalamannya soal pengelolaan dana satu milyar, yang harus di buat laporannya selama beberapa hari saja.

Saat itu, seorang kawan menitipkan amanah kepadaku, agar menjaga kantor yang di pimpinnya. Maksudnya, jangan tinggalkan kantor itu. Karena, menurut kawanku bahwa, akan banyak tamu yang datang ke kantor nantinya.  Semenjak itu pula, Mas Uri menemaniku sepanjang waktu. Mas Uri, lelaki yang aku kenal semenjak seminggu yang lalu itu—tulus  menamaniku dan memberikan ceramah yang monoton dan tak berkualitas setiap harinya.

Dengan rambutnya yang sedikit ikal, badannya kurus, tapi perutnya agak buncit sedikit. Bukan busung lapar tentunya. Hehehehe. Tak ada angin—tak ada hujan. Central Processing Unit (CPU), yang ada dikantornya ia bawa ke kantor yang aku jaga itu. CPU itu, ia bawa kesana—kemari. Kerjanya setiap hari seperti itu. Aahhh, aku sempat pusing melihat tingkahnya yang aneh. Ingin bertanya kenapa CPU itu ia bawa kesana-kemari, tapi aku terperangkap dalam keragu-raguan. Aku biarkan saja ia bertingkah seperti itu. Aku hanya diam. Mata dan pikiranku hanya fokus pada layar laptop murahan yang dibelikan ayahku setahun yang lalu.

Sudah tiga hari aku menginap di kantor kawanku itu. Selama itu pula, Mas Uri membawa CPU nya kesana-kemari. Dan, semenjak itu pula ia mulai menceritakan pengalaman satu-satunya tentang mengelolah dana satu milyar.

“Sekarang sudah bagus. Teknologi semakin canggih. Kalau kami dulu, mana ada satu orang satu Komputer.“ ia mulai memekikkan suaranya. Sesekali ia berdesis seperti ular ingin memangsa musuhnya. Sesekali pula ia tertawa, padahal menurutku hal itu tak lucu. Aku semakin bingung saja.

“Pernah suatu hari.  Komputer di kantor tempat aku bekerja hanya satu unit. Sementara setiap orang harus membuat laporannya masing-masing. Dan, waktunya hanya tiga hari. Coba bayangkan itu.” Ia berdesis lagi. Kemudian Mas Uri mengambil rokok dan di bakarnya, lalu di hisapnya. Maka, melayang-layanglah asap ketika keluar dari mulutnya itu.

Sementara aku hanya diam. Mendengarnya dengan sepintas. Sudah dua hari Mas Uri menceritakan hal ini. Mungkinkah esok hari ia menceritakan tentang tema yang sama? Aahhhh, betapa sialnya telingaku, yang mendengarkan ceramanya yang membosankan itu.

Ketika, mentari sudah tak menyinari atap seng kantor itu, maka hal itulah pertanda, bahwa Mas Uri membawa CPU ke kantor, dimana ia bekerja.  Setiap hari seperti itu. Mungkin, CPU nya mahal, atau, mungkin saja CPU itu harta satu-satunya, sehingga ia harus menjaganya. Tak ingin lepas dari CPU itu. Aahhh, entahlah.

Aku mengetahuinya, ketika Ratna, Bidang keuangan di kantor kawanku itu sempat bercakap-cakap dengan Mas Uri. Ratna, memang sudah seminggu tak masuk kantor, karena sakit. Maka, di pagi itu, ia tiba-tiba muncul diikuti oleh derasnya hujan membasahi bumi. Dan, disusul pula dengan bunyi motor andalan Mas Uri memasuki pagar kantor—membawa CPU kesayangannya. Mas Uri hampir terjatuh. Aku mengintipnya dari balik jendela berhorden biru. Ia mengimbangi CPU nya agar tak jatuh. Mungkin keselamatan CPU nya di dahulukan ketimbang motor dan tubuhnya yang agak dengkil itu.

“Aduuuhhh, Mas Uri, mau dibawa kemana CPU itu?” gumam Ratna dari pintu masuk kantor itu.

“Biasa.”

“Biasa apa, Mas Uri?”

“Ia, Ratna, sudah berapa hari ini, Mas Uri selalu bongkar—pasang CPU nya di kantor ini. Aku tak tahu apa maksudnya,” bisikku kepada Ratna.

“Di kantorku, tak ada jaringan Wifi, jadinya aku nge facebook di sini saja. Sisisisisiissi…” kata Mas Uri sambil berdesis.

“Ohhhhh.,. berarti setiap hari Mas Uri membawa CPU kesana kemari hanya untuk itu. Hanya untuk facebook! Wooooowww.” Aku kembali berbisik dengan Ratna.

 

*******

Menjelang sore. Ratna telah pulang kerumahnya. Sementara, Mas Uri masih berada dalam ruangan, yang semenjak aku di kantor itu, tak pernah aku masuki. Suatu ketika, aku mengira, bahwa Mas Uri lagi ngobrol  denganku. Ia tertawa terbahak-bahak di ruangan itu. Samar-samar suaranya terlintas di gendang telingaku.

“Apa?” tanyaku kepada Mas Uri.

“Hahahahahahhaa.,…… Sisisisisisisisisisi…….” Suara Mas Uri.

“Maksud Mas Uri apa?”

“Hahahahahahahahaha.,.,.,.,.,.,.,.sisisisisisisisisisisisi.,.,.hahahahahahahahaha,.,. sisisisisisisisii.” Mas Uri hanya tertawa dan berdesis saja. Suara itu membahana keseluruh penjuru ruangan. Tak bernada. Tapi, kekuatan suara itu memaksaku untuk mengharuskan memasuki ruangan itu.

Setelah kubuka pintu. Mas Uri menengokku. Matanya setengah melotot. Kemudian ia kembali fokus pada layar desktop di depannya. Kuhampiri. Ternyata Mas Uri  sedang berinteraksi, yang katanya pacarnya di Saudi Arabia, melalui Web Camp. Aku menggelengkan kepala. Setengah percaya.

*******

Hari ini—hari ketujuh aku di kantor itu. Seperti biasanya, aku bangun jam setengah Sembilan. Sementara, kemarin Mas Uri tak membawa CPU kekantornya. Maka, CPU itu ada dalam ruangan—terpasang dengan rapi. Mas Uri bangun lebih dulu. Kulihat ia tengah duduk dengan gagahnya di depan layar desktop. Ia lalu menghampiriku, yang lagi duduk membaca Koran hari ini.

 “Janganlah terlalu serius, Talai. Sisisisisisi….Huuussssssttthussssttt,” kata Mas Uri.

Aku tak menghiraukannya.

“Aku menangani satu program saat itu. Uang yang aku pegang sebanyak seratus juta rupiah. Dan, itu yang aku buatkan laporannya, setelah selesai melakukan  program. Hanya tiga hari waktunya. Bayangkan itu, Talai. Bayangkan!” seru Mas Uri.

“Untuk apa aku membayangkan hal itu, Mas Uri. Apa untungnya buatku?” aku merengsek. Cerita ini, sebelumnya sudah aku dengar dari Diko, sebelum ia berangkat ke Morowali, untuk kepentingan Riset nya. Diko, sudah pernah membentak Mas Uri, ketika Mas Uri hanya terus-terusan mengangkat CPU nya kesana-kemari. Diko geram.  Diko,  salah satu staf di kantor yang aku tinggali.

Lelaki, yang semenjak kemarin tak mandi itu—menundukkan kepalanya. Setelah kuperiksa, ternyata ia lagi membaca pesan masuk di handphone nya. Lalu ia kembali bergumam. 

“Siapa yang tahan buat laporan selama tiga hari, kemudian komputer hanya satu unit. Dan, laporan itu, dibuat sebanyak sepuluh rangkap—berbeda-beda.”   

Kepalaku, seolah mengeluarkan tanduk bercabang bak tanduk kijang yang sudah berumur. Dan tandukku itu—akan menanduk Mas Uri yang  lagi berbicara dengan tema yang setiap hari sama. Aku juga ingin membentaknya. Tapi ia sudah tua. Usianya beda jauh denganku—lebih dari dua lusin. Aku hanya mengeluskan dada. Kemudian aku meneguk kopi. Aku tak mempedulikannya lagi. Tapi, telingaku selalu siap mendengarnya. “Aahhh, ceramah basi,” pikirku.

Tiba-tiba, lelaki berkumis dan berjenggot tebal masuk dan gabung di antara aku dan Mas Uri. Ia Bang Gali. Bang Gali cinta seni. Ketika membaca ataupun mendengar puisi-puisi bernuansa sastra Bang Gali, maka pembacanya pasti terenyuh—tersentuh oleh makna yang terkandung di dalamnya. Di setiap aksi—demonstrasi, baik petani maupun mahasiswa, Bang Gali sering membacakan puisi karyanya itu di depan khalayak.

Bang Gali, kelihatan risau. Saat kutanya, “Aku dapat ceramah yang membosankan dari istriku.” Tapi, dalam kerisauannya itu, ia masih saja menggumbarkan senyum manisnya, yang dibaluti oleh kumis tebal seperti kumis Saddam Husain. Dalam hatiku berkata, “Bang Gali, nasib kita sama. Aku juga dapat ceramah yang membosankan setiap hari.”

Bang Gali, sebenarnya sudah mengenal  Mas Uri. Bang Gali menyapaku.

“Apa kabar, Talai?”

“Baik, Bang Gali. Lama tak jumpa.”

“Iya, Talai. Kamu tinggal disini?”

“Iya. Sudah seminggu.”

“Diko dimana?”

“Diko ke Morowali, katanya ada riset. Mungkin sebulan ia disana. Ia pergi bersama Eki.”

Mas Uri memotong. “Diko hanya riset. Kalau aku lalu, mengelolah dana satu milyar. Hehehehe.,.,. huuuuuussssssiiittttttssssuuuuuuussstttt………!!!!”  

“Itu kebiasaan buruk Mas Uri. Tak ada yang lucu, selalu tertawa. Juga, ada desisnya lagi,” gurau Bang Gali. Bang Gali kemudian menyambar kopi yang tinggal setengah gelas di hadapanku. Ia meneguknya.

*******

Ceramah itu terus belanjut hingga aku tepat dua minggu menjaga kantor. Setiap kali bangun tidur. Ceramah itu langsung menyambar gendang telingaku hingga berjam-jam lamanya. Aku ingin mendengar ceramah-ceramah lain. Aku ingin mendengar ceramah yang berbeda-beda setiap harinya. Bukan soal uang satu milyar. Bukan soal computer satu unit. Bukan soal ekspedisi ke Buol. Bukan soal istri di Saudi Arabia. Membosankan.

Bantaya Lanoni, 10 Mei 2013

Leave a Reply