Anti, Lagi Galau

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

wsdgfhMinggu kedua bulan Mei tahun 2013. Anti selalu terlihat murung. Hari-harinya ia isi dengan ketidaksemangatan—seolah ia ingin mati saja. Malam itu, langit biru bertaburan bintang, yang paginya telah terjadi gerhana matahari.  Tapi, dengan suasana seperti itu, Anti masih saja merasa sunyi dalam kesenyapan hati yang melengkung seolah tak pernah lurus lagi. Telah berbagai macam cara, Devi menenangkan hati Anti, namun sia-sia. Anti memberontak.    

Sebelumnya, setiap hari jidat Anti mengerut—hampir tak pernah rata. Matanya yang indah—tajam seperti mata elang, kini telah meredup seolah-olah jiwa dan raga akan terpisah. Keantabarantaan hatinya, kini membuat semua tugas-tugas kuliah tak terselesaikan walau satupun. Ujian Mid Test minggu depan yang telah menanti tak dihiraukannya. Ia tak mempersiapkan bekal dalam otaknya untuk menghadapi ujian itu.

Devi adalah tetangga kos Anti, asal Sulawesi Barat. Devi, saat ini pacaran dengan sepupu Anti, yang juga lagi galau karena persoalan sepele. Semenjak itu pula, Devi dan Anti saling curhatan setiap malamnya. Malam yang kelam bagi mereka berdua.

Tapi, kali ini, masalah Anti  lebih besar dari Devi. Anti telah putus hubungan dengan pacarnya: Jarot. Hampir setiap malam ia mengungkung dirinya dalam kos berpetak dua belas itu. Devi kemudian bergumam penuh kesal.

“Anti, jika kamu terus-terusan seperti ini, maka bisa dipastikan, nilai kamu akan hancur. Janganlah kamu pikirkan terus—menerus si Jarot itu. Masih banyak cowok lain yang menantimu di luar sana. Apalagi; kamu cantik.”

Sementara, Anti masih menggenggam handphone nya—berharap ada pesan singkat masuk. Dan itu dari Jarot. Harapan besarnya, adalah; agar Jarot merubah keputusannya dua minggu lalu. Memutuskan Anti.

“Anti, kamu tidak kasihan dengan diri kamu? Tidak kasihan dengan teman-teman dekatmu—yang selalu mengkhawatirkanmu? Ayolah Anti. Kamu harus bangkit dari keterburukan ini.” Devi terus memaksa Anti untuk tetap semangat, seperti sebelum-sebelumnya.

”Aku sayang Jarot!” suara Anti begitu lembut—halus—mengalir seperti air darat menuju ke laut.

“Aku tahu, kamu sayang sekali dengan Jarot. Tapi sekarang posisinya lain. Dan, kamu tak harus terus-terusan seperti ini, Anti.” Devi bertambah kesal. Ia membentak Anti yang telah berubah tiga ratus enam puluh derajat. Devi seolah tak percaya. 

“Tapi kamu harus mengerti perasaanku, Devi. Kamu kan juga perempuan.” Anti balik membentak Devi.

Alunan cinta antara Anti dan Jarot telah tumbuh lima bulan yang lalu. Mereka menciptakan samudera luas hanya untuk mereka berdua. Anti kemudian berkata dalam hati, “aku rindu, sangat rindu kamu. Terasa sejak kau masih ada di dekatku.  Tak mudah aku melupakan dirimu. Apalagi di saat aku sendiri. Oohh.. jauh kau pergi tinggalkan diriku. Sepi hati ini membunuhku.  Kucoba untuk cari penggantimu,  namun tak ada yang sepertimu.”

Hari-hari bahagia telah berlalu. Kini, Anti telah sendiri dalam kesunyian yang mendera. Mengadu pada nasib yang serakah akan kedaulatan dirinya. Ia bagaikan Soekarno yang saat menjelang keruntuhan kekuasaannya—ditinggalkan oleh banyak kawan karibnya. Begitulah nasib Anti—yang terkadang mengeluarkan air mata—menetes ke pipi yang lembut itu. Hingga pada suatu hari, teman-teman sejawatnya merasa khawatir dan prihatin. Pun juga Devi, tetangga kos Anti.

“Heeii, kawanku, Anti, tidak juga seperti itu. Janganlah kamu operasi plastic ketika pisah dengan Jarot,” kata Asum, yang lagi memperingati Anti dengan aksi nekatnya itu.

“Ingin berteriak; aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” Anti tiba-tiba berteriak dengan suara; panjang, besar—membahana diseluruh ruangan lima kali lima meter itu. “Aku puas” lanjut Anti.

Devi, Ali, Masni, langsung berlomba—berlari ke kamar Anti. Di depan pintu, mereka mendapatkan Asum tengah berdiri kebingungan. Asum bingung—Anti berteriak sekuat tenaga, hampir mengalahkan toa di masjid sebelah kos.  

“Sudahlah. Anti lagi galau. Kalian pasti tak dipedulikannya,” kata Asum dari arah pintu. Ia pasrah.

*******

“Kasihan Anti. Hatinya terporak—porandakan oleh manusia yang berlainan jenis dengannya. Kini ia merontai-rontai seperti cacing lagi kepanasan,” kata Devi, teman curhatnya setiap malam. Tapi, kali ini, seolah Anti tak mendengar apak kata Devi.

“Iya. Aku takut ia gila,” sambung Asum, yang juga paham perasaan anti.

“Ahhhh. Ngaco!” Anti tiba-tiba menyambung percakapan Devi dan Asum.

“Kala uterus-terusan begini, kamu akan gila nantinya,” ujar Devi.

“Aku tak mau gila,” tegas Anti. “Aku hanya galau saja.”

“Tingkah kamu akhir-akhir ini, sudah setengah gila, Anti. Kamu harus tahu itu,” kata Asum penuh kesal. Matanya setengah melotot.

Suasana menjadi tenang. Anti juga telah tenang. Ia merasa terhibur akan kehadiran teman-temannya. Ternyata, masih ada yang pedulikan Anti. “Terima kasih yah teman-teman, kalian baik. Aku hanya depresi berat. Aku galau,” kata Anti yang sesekali meneteskan air mata kesedihan. Anti tersadar, ternyata ia  sudah diperalat oleh kecanduan cinta yang penuh dengan kepalsuan.

Bantaya Lanoni, 11 Mei 2013 

Leave a Reply