Jail

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

sdddSore menjelang malam. Penghuni sekretariat salah satu organisasi pemuda di jalan Roviga, satu-persatu secara bergantian masuk ke kamar mandi. Kebiasaan itu sudah berlangsung beberapa bulan belakangan.

Para pemuda-pemudi, yang sengaja menyewa rumah seharga tiga juta rupiah pertahun itu, menjadikannya ajang perkumpulan. Mereka manfaatkan dengan berbagai macam kegiatan: diskusi, baca buku, nulis, dan, sekedar main kartu remi—tapi bukan main judi, alias pakai uang. Kondisi demikian, membuat mereka akrab satu sama lainnya.

Ruli, telah selesai mandi. Setelah mandi, ia memodifikasi tubuhnya seperti perempuan. Maksudnya, perempuan, pada umumnya, ketika selesai mandi, maka ia segera memakai gincu, bedak, parfum, dan lain sebagainya. Begitupun Ruli.

Setelah semuanya telah mandi, Dino kemudian menyusul. Dino, jika mandi, pasti lama, maka mereka buat kesepakatan, bahwa Dino harus mandi paling akhir. Dino, bisa mandi berjam-jam lamanya. Entah apa  yang ia lakukan di kamar mandi, yang kloset nya tak berfungsi bagus.

Mungkin, ini adalah satu hal—berdosa yang sering mereka lakukan adalah; ke masjid bukan untuk shalat, melainkan buang air besar. Semoga, nantinya,  mereka tidak akan kualat. Hehehe….!!

Di dapur seketika terdengar suara belanga berjatuhan kelantai keramik. Telah berminggu-minggu, belanga-belanga itu tak terpakai. Maklum, Dino, tiga minggu yang lalu mendapatkan kiriman amplop dari kampung, berisikan kertas “anti air”. Berpuluh-puluh lembaran kertas berwarna merah itu. Maka, setiap hari—setiap tiba waktu makan, sasaran mereka adalah warung Arema—sekitar lima ratus  meter dari sekretariat itu. Berbagai anekamacam makanan tersedia di sana: bakso, nasi campur, nasi kuning, gado-gado, dan mie rebus.

Adli segera bergeser, mengecek dapur—kucing sengaja mengobrak-abrik belanga. Kucing-kucing itu memberontak meminta makanan. Seolah kucing itu keheranan, mengapa akhir-akhir ini, belanga tak pernah duduk di atas kompor lagi. Mengapa tak ada sisa-sisa tulang untuk para kucing yang lihai menangkap tikus. Mengapa tak ada sisa-sisa nasi di tempat pencucian piring. Kucing marah. Mereka lapar.

*******

Kini, sebulan telah berlalu, masih seperti biasanya, para kaum intelektual muda, yang tergabung dari berbagai perguruan tinggi itu, masih mandi secara bergantian. Namun, kiriman Dino hampir ludes, di kantong celana sebelah kanan, tersisa dua ribu rupiah, sedangkan kantong sebelah kiri tersisa Sembilan ribu rupiah. Yang lain, pun tak ada uang. Kiriman belum datang juga.

“Sebentar lagi diskusi akan di mulai,” tegas Andre.

“Lalu, ada apa dengan diskusi?” tanya Ruli, yang saat itu sibuk di depan cermin sebesar laptop empat belas inci. 

“Kita kan dari siang belum makan!” jawab Andre dengan sedikit lemas.

“Iya. Aku juga lapar. Cacing-cacing dalam perutku sudah memberontak. Seperti kucing saat mengobrak-abrik belanga beberapa hari lalu,” ujar Dino. Dino kemudian melanjutkan.

“Aku ada modal sedikit. Tapi, ini harus dipikirkan lagi: apakah digunakan untuk beli makanan, atau kita pakai beli kopi dan gula?”

Dodi, yang sebelum azhar tadi telah tidur melengkung seperti kawat besi terkena panas—terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena mendengar kata “makanan”. Dodi terlihat jelas sangat lapar. Ia kemudian bergumam:

“Menurutku, belikan kopi dan gula saja.”

“Kopi dan gula membuat perut kita kenyang?” tanya Andre dengan sedikit sinis.

Di tengah percakapan itu. Tiba-tiba Anti datang. Ia membawa tas plastic berwarna hitam—sedikit berminyak. Rupanya, isi tas  plastic itu berbagai macam gorengan: tahu isi, bakwan, molen, terang bulan, dan tempe penyet.

Beberapa pemuda penghuni sekretariat langsung melahapnya tanpa ampun.

“Lumayan. Sedikit mengganjal perut yang kosong,” ujar Dodi, yang langsung berdiri dan melahap gorengan itu.

“Bisa bertahan esok pagi sepertinya,” sambung Dino.

  

 *******

Keputusan terakhir, adalah uang yang ada dengan Dino itu, harus di belikan kopi dan gula. Memang, para penghuni sekretariat itu rata-rata pecandu kopi. Ketergantungan akan kopi membuat toples di dapur tak boleh kosong akan kopi dan gula. Itulah rahasia di balik kebersamaan mereka. Minum kopi—segelas berlima.

Bahkan tak segan-segan, Pak Sukri, tentangga sekretariat mereka, sering di mintakan kopi dan gula. Ketika kopi dan gula telah ludes, maka tugas Doni adalah berkunjung kerumah Pak Sukri; sekedar berbincang dan berujung pada permintaan akan kopi dan gula.

Kawan-kawan mereka, satu-persatu sudah berdatangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.20 wita—pertanda diskusi akan di mulai sepuluh menit kemudian.

“Ruli, tugas kamu memasak air,” perintah Dino.

“Yang lain lagi dong, yang masak air. Masa aku terus yang buat,” keluh Ruli, seolah ia merasa tertindas. Ruli kemudian bergurau lagi:

“Ini bukan zaman feodal. Atau kamu ingin kembali ke zaman itu? Ini zaman modern bro. Tu si Dodi, yang semenjak tadi sore tidur terus. Kebetulan kopi buatannya menusuk lidah bro….”

“Kenapa mesti aku?” ujar Dodi.

“Kalian tak ada yang mau membuat kopi? Aku hanya memasak air saja. Selanjutnya terserah kalian, siapa yang membuat kopi!” ujar Dino yang penuh dengan kekesalan.

Dino kemudian mengambil korek api dan menuju ke dapur. Ia segera menyalakan kompor, yang minyaknya tinggal sedikit. Jika di paksa, maka di khawatirkan kompor itu meledak.

 

*******

Air telah mendidih. Di tengah; Dino, Ruli, Anti, Andre, dan yang lainnya malas membuat kopi. Dodi berinisiatif membuatnya.

Diskusi telah di mulai. Sementara, Dodi masih sibuk menyiapkan kopi. Menurut mereka—para pecandu kopi, bahwa diskusi harus di temani kopi. Entahlah!

Tiba-tiba, otak kotor Dodi bergelimpangan. Ia ingin membuat sesuatu, agar kawan-kawannya tak melupakan kejadian malam itu. Setan-setan jail berbisik berjuta-juta kali, agar Dodi melakukannya. Sementara, para malaikat di telinga kanan Dodi, mengatakan, bahwa jangan melakukan, apa yang di bisikkan oleh setan penghuni neraka itu.

Dodi pusing. Ia keluar sejenak. Memerhatikan kawan-kawannya yang lagi diskusi serius. Tapi sesekali stagnan.

Dodi berhasil membuat kopi. Di sana ia telah menyediakan enam gelas kopi. Tapi, satu gelas—kopi tercampur garam. Ia segera menyajikannya kepada kawan-kawannya yang lagi dikusi. Agar tidak menjadi senjata makan tuan, maka Dodi sudah lebih dulu mengambil segelas kopi, yang tentunya bercampur gula pasir.

Segeralah kawan-kawannya mengambil masing-masing. Tapi, seperti biasa, segelas kopi dua sampai lima orang meneguknya. Dodi, Anti, dan Icang; segelas kopi.

Dodi tersenyum lebar. Agar tak ketahuan, maka ia segera ke dapur dengan cepat. Ia tertawa terbahak-bahak di sana. Dodi tahu, gelas yang berisi; air, kopi, dan garam itu,  berada di depan Ruli, Andre, dan Dino.

Situ kamu dapat,” ujar Dodi dalam hati.

Ruli, yang semenjak tadi sudah tak sabar membasahi ketenggorokannya dengan kopi, langsung menyambar gelas—mendahului Andre dan Dino. 

“Cuuueeeettttt…..cuuuuuueeeetttt…….cuuuuuuueeeeettttt……” Ruli meludah-ludah. Wajahnya mengkerucut. Ia menutup mata. Seperti menahan sakit. Lalu, ia segera membuka mata. Pandangannya langsung mengarah ke Dodi. Dodi, yang lagi duduk paling belakang, dengan cepat mengarahkan jari telunjukknya kearah bibir. Memberikan arti, bahwa jangan beritahu kepada yang lain.

Ruli segera keluar dari arena diskusi. Di luar, ia dengan puas meludah.

Sementara, Dino, yang semenjak tadi serius mengikuti arah diskusi—kini, gilirannya menyambar gelas. Dino meneguk.

“Hhhhhhmmmmmmppppppppppp……” Dino menahan nafas. Lidahnya dengan cepat mengetahui, bahwa kopi tak seharusnya di campur dengan garam.

Dino tak menelan kopi itu. Ia segera menyusul Ruli, yang masih di luar. Kawan-kawannya yang lain tak mengetahui itu.

Kini giliran Andre. Tanpa ada rasa dosa. Andre langsung menyambarnya.

“Hhhhhhhmmmmmmmmppppppppp……..,. Ccccccuuuuiiiitttttt….ccuuuuuuiiitttt…” Andre menahan nafas, lalu meludah.

“Kenapa kamu meludah di sini, Andre?” kata Icang.

“Kooo…….kooooo!!!!” Andre seolah tak mampu berkata-kata.

“Kenapa Andre?” tanya Anti keheranan.

“Kopinya di campur garam,” teriak Dino dari luar.

“Hahahahahahahahahha.,.,.,. hahahahahahahahaha.,.,.,. hahahahahahahahah,.,.,.” suasana diskusi menjadi ajang perlombaan tawa.

Sementara, Dodi—tertawa terguling-guling dibelakang Icang. Ia berhasil menjaili kawan-kawannya. Dodi memang Jail.

 

Bantaya Lanoni, 12 Mei 2013

 

Leave a Reply