Duh, Biaya Pendidikan, Mahal!

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

safDi sore itu, air hujan masih saja menggenangi  kubangan hasil galian sapi kampung beberapa bulan lalu. Seperti biasanya, jika hujan, anak-anak seusia Sekolah Dasar senang bermain sepak bola di tengah lapang. Mereka senang menggulirkan bola di atas pusaran air setinggi lutut mereka. Hal itu tentunya, membuat mereka bahagia—di masanya. Dan, akan mereka kenang jika dewasa nanti.

Melihat anak bermain itu. Rumin, sama sekali tak mengkedipkan mata. Hampir saja, Rumin ikut bermain dengan anak-anak kampung yang sedang berbahagia itu. Untung saja, ia langsung teringat, bahwa ia sedang dalam proses penyelesaian studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Palu. Artinya, ia sudah tak pantas bermain dengan anak-anak Sekolah Dasar itu.

Hari ini, adalah hari ke Sembilan, Rumin berada di kampung. Selama itu pula, Rumin hampir tak mengkedipkan mata ketika melihat anak-anak bermain, sebab, hujan setiap sore mengguyur kampungnya yang terletak di pesisir itu. 

Rumin berencana pulang ke kampung untuk mencari uang, guna menyelesaikan studinya. Jika ia terus-terusan di kota, maka tak ada penghasilan yang di dapatkannya. Tapi, jika di kampung ini, Ruman bisa saja menjadi buruh—tani di kebun Pak Samsir. Pak Samsir adalah seorang petani kaya. Tanahnya luas. Di atas tanah itu, di bumbui oleh berbagai macam tanaman: Kakao, kelapa, Cengkih, dan tanaman bulanan lainnya. Ada sekitar dua puluh buruh yang bercokol di kebun Pak Samsir.

Ayah Rumin sebenarnya punyai harta, namun, Rumin sendiri heran. Sebab, selama ia lulus SMP, tak ada sepersen pun uang menghampiri Rumin. Rumin berhijrah ke Kota Palu, karena Paman Rumin, Asis, mengajaknya untuk melanjutkan sekolah SMA. Sejak itu pula Rumin tak mendapatkan kiriman uang dari kampung. Paman Rumin pun tak membiayai  Rumin. Ia seperti hidup sebatang karang di Kota Palu. Dana untuk sekolah, hingga ia melanjutkan kuliah pun dari hasil keringatnya sendiri.

Setiap hari—setiap pulang sekolah, kerja Rumin adalah mengumpulkan sampah: gelas dan botol aqua, atau sejenisnya. Agar tak di ketahui teman-teman sekolahnya. Ia berpura-pura menendang—mencicil botol aqua itu, hingga ke rumah pamannya. Ketika sudah mencapai sekarung, maka Rumin akan menjualnya di rumah Mas Sukri. Hasilnya pun tak memuaskan, biasanya Rumin mendapatkan sekarung hanya 25.000 rupiah saja. Uang itulah yang ia gunakan—jajan di sekolah. Untuk biaya sekolah, Rumin harus bersusah payah mencari kerja lain sepulang sekolah; kerja di mebel milik Pak Utin. Tapi itu tak mencukupi. Pekerjaan rutin itu, ia lakukan hingga kuliah.

Hari mulai gelap. Aku mencoba menghampiri Rumin. Meskipun ruangan itu di sinari oleh cahaya yang redup, tapi aku mengetahui, bahwa di balik  matanya telah tersimpan kesedihan yang mendalam. Sorot matanya yang tajam, namun penuh dengan kekosongan—optimisme telah menggulungi jiwa Rumin. Setiap alunan katanya, tak mengandung arti optimis. Ia pesimis.

“Aku tak mengerti, mengapa biaya pendidikan begitu mahal. Aku juga tak mengerti mengapa ayahku tak pernah mengongkosiku untuk menempuh pendidikan ini. Aku tak mengerti!” keluh Rumin. ia berbisik di telinga kiriku sambil melipat pakaian yang baru di jemurnya beberapa hari. Hujan tak berkawan dengan jemurannya.

“Kamu bersabar saja Rumin, dan terus berusaha. Aku minta maaf. Aku tak bisa membantu banyak atas masalah pendidikan mu ini,” ujarku.

Rumin kemudian bergumam, “aku tak mempersalahkanmu yang tak membantuku. Tapi, aku masih berkutat atas ketidakmengertianku selama ini. Atas orang tuaku yang tak membantuku. Aku harus bergelut sendirian. Dan itu, sejak aku lulus SMP. Kenapa coba?”

“Kamu sudah mencoba ceritakan ini kepada orang tuamu?” tanyaku.

“Sudah!” jawab Rumin.

“Tapi, mereka hanya berjanji  untuk membantuku. Sampai sekarang, janji itu tak kunjung di lunasi.”

“Pamanmu?”

“Pamanku hanya sibuk di dunia politiknya.”

Pak Asis, Paman Rumin, memang  beberapa tahun silam terjun di dunia politik. Bahkan, tiga tahun lalu, ia pernah bertarung dengan calon-calon lain menjadi anggota legislatif. Tapi kalah. Kata tim suksesnya, Pak Asis kalah karena saingannya memakai politik kotor, “serangan fajar” dan money politik. 

 *******

Sebenarnya, Rumin sudah mengurus beasiswa di sekolahnya dulu. Tapi tak tembus. Di kampusnya, juga tak tembus. Dengan semangatnya untuk meraih cita-citanya ia terus bergelut dengan sampah-sampah.

Rumin, juga telah mengirimkan proposal penyelesaian studi ke Pemerintah Daerah. Pun juga, gagal.

Di tengah kebisuan ruangan yang mencekam, Arun datang, dengan membawa kabar, bahwa minggu depan ia akan ke Palu—melanjutkan pendidikan menengah atas di sana. Arun berharap, agar Rumin, bisa menemaninya ke Bumi Kaktus itu, karena Arun sama sekali belum pernah ke sana.

“Rumin, mungkin pendapat kita berbeda. Aku berpendapat, bahwa kualitas pendidikan di kota dan di desa itu berbeda. Dan, itu yang membawaku untuk menempuh pendidikan di kota—sama seperti kamu,” tegas Arun di ruangan yang remang-remang itu.

“Itu tidak masalah, Arun. Yang masalah adalah, biaya. Biaya pendidikan saat ini, sangat mahal, Arun. Belum lagi ongkos di sana. Di kota itu, serba membutuhkan uang. Dan, aku sudah mengalami semuanya,” kata Rumin.

“Kan bisa mengurus beasiswa?”

“Beasiswa?” Rumin mengerutkan jidat. Ia seolah teringat atas perjuangannya mengurus beasiswa, namun selalu gagal. Rumin, kemudian berujar lagi.

“Arun, mulai dari SMA hingga kuliah, aku berjuang mengurus beasiswa, tapi gagal. Aku tahu, perjuanganku tak di landaskan oleh Do’a. Tapi, bukankah, para pengambil kebijakan itu, seharusnya tidak mensasar para sanak keluarganya, atau anak temannya, untuk mendapatkan beasiswa?”

“Seharusnya kamu berpikir lagi untuk melanjutkannya di kota, Arun,” gumamku.

“Padahal, dalam konstitusi, Undang-undang Dasar 1945, sudah tertuang sangat jelas, khususnya, Pasal 31 ayat 2 dan 4,” kata Rumin.

“Bagaimana bunyinya, Rumin?” tanya Arun.

“Di Ayat 2, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; sedangkan di Ayat 4, Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional,” jelas Rumin.

Arun, dengan tinggi badannya mencapai 160 centimeter itu, mencoba menerawang, bagaimana kejamnya hidup di kota. Bagaimana jika ia kehabisan uang. Bagaimana, jika ia tak melunasi Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Ia juga mencoba menerawang tentang keadaan ekonomi keluarganya, yang akhir-akhir ini sering mengalami gagal panen.

“Aahhhhh…. Mendengar ceritamu, Rumin, aku seolah mengurungkan niatku melanjutkan sekolah,” ujar Arun.

“Kenapa Arun?” tanyaku.

“Keluargaku pasti tak mampu mengongkosiku.”

“Arun, tak gampang menempuh pendidikan di negeri ini. Biayanya cukup mahal. Banyak menguras kantong, dan tabungan kita bertahun-tahun. Tapi Arun, sejak aku SMA hingga kuliah, aku berjuang sendiri untuk mendapatkan biaya. Tragis memang,” kata Rumin. matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin meneteskan air mata. Tapi, ia malu.

Rumin mencoba tegar, di tengah hantaman badai biaya pendidikan. Cita-citanya untuk menjadi seorang ekonom—adalah satu dorongan yang sudah melemah di jiwanya.

             

*******

            “Kekayaan di negeri ini, di iringi oleh keantabarantaan regulasi yang ada. Membuat pengelolaan pendidikan semakin amburadul. Biaya pendidikan semakin tahun makin naik. Sementara, kekayaan di negeri terus-terusan di jarah—hingga membuat ruang kelolah ekonomi rakyat hilang. Yang berbuntut pada keputusasaan orang tua akan menyekolahkan anak-anaknya,” kataku.

“Iya. Di Negara-negara lain, biaya pendidikannya murah, bahkan ada yang gratis,” ujar Rumin.

“Negara mana semua, Rumin?” tanyaku, dengan penuh keheranan. Masih ada juga Negara yang membuat kebijakan pendidikan gratis. Aku seolah tak percaya. Rumin, kemudian menjawab.

“Iya, di Finlandia biaya pendidikan S-1 hingga S-3 di gratiskan. di Swedia mulai dari SD hingga SMA `gratis’ tanpa di pungut biaya apapun. Malahan buku di pinjamkan dengan gratis, buku tulis serta pensil di beri secara gratis. Di Jerman, sekolah tanpa biaya dan cukup hanya duduk dan belajar di sana, tidak usah repot berapa besar biaya yang akan di keluarkan. biaya pen­didikan gratis di Jer­man berlaku untuk semua tingkat pen­didikan. Di Mesir, Al-Azhar menyediakan beasiswa dari tingkat sarjana hingga doktoral. Kemudian di Taiwan, Universitas di Taiwan tidak memungut biaya untuk mahasiswanya alias gratis,”  jelas Rumin.

“Wooooowwww…. Mungkin bagusnya kita menempuh pendidikan di sana saja.  Pasti, di Negara-negara itu, jarang bahkan tak ada yang putus sekolah. Kan gratis!” ujar Arun. Seolah ia punyai jalan mulus untuk keluar negeri.

“Bagus di sana. Di banding Negara kita yang carut—marut. Penuh dengan korupsi. Biaya pendidikan di korupsi. Bahkan, pengadaan Alquran saja, berani di korupsi. Jadi apa Negara ini nantinya?” kataku dengan penuh kesal.

“Usahlah di bahas itu. Yang jelas, ini nyata. Ini fakta. Pendidikan kita mahal,” kata Rumin, pun penuh kesal.

“Duh, biaya pendidikan kita memang sangat mahal yah?” kata Arun.

“Iya, Sangat mahal.”

 

Bantaya Lanoni, 18 Mei 2013.

Leave a Reply