Di Balik Kabut Gunung Sojol

Bagian I

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*****

sdffbgnRumah tinggi terlihat dari kejauhan. Dedaunan kakao yang masih tersimpan embun pagi itu; sedikit lagi akan mengering. Dari ufuk barat, tepat di depan sekelompok lelaki yang senang bertualang: terlihat jelas sinar mentari. Pancaran sinar-sinarnya mampu menembus lipatan-lipatan daun kakao di atas kepala para petualang itu, hingga cahayanya memantul ke tanah yang lembab.

Deruh aliran sungai memekik telinga. Deras dan jernih. Batu-batu besar duduk dengan gagahnya di tepi dan di tengah sungai itu, seakan menuntun sungai untuk berhenti sejenak. Mengapung dan berkeliling di sekitarnya. Hanya ada dua bambu besar yang memotong; sebagai alat penyeberangan penduduk. Jika tidak berhati-hati menitihnya, maka bersiap-siap terjun—melayang ke sungai, dan beraduh fisik dengan bebatuan besar.

“Sungai ini sungguh bersih! Semoga kebersihannya tak akan terganggu oleh limbah-limbah perusahaan tambang. Seperti apa yang terjadi di teluk Buyat,” ungkap Anto, sambil memegang sebuah kayu kecil.

“Memang di wilayah ini akan ada perusahaan tambang?” selah Akbar, yang lagi berjalan di belakang Anto.

Akbar dan Anto, juga masuk dalam tim ekspedisi Gunung Sojol. Akbar di daulat sebagai ketua tim oleh kawan-kawannya dalam sebuah ekspedisi itu. Selain dia bijak—dia juga berani mengambil keputusan di saat panik.

Setelah terbentuknya tim ekspedisi Gunung Sojol Mapala Kumtapala Fak. Hukum Univ. Tadulako, maka segala keutuhan, keyakinan, serta totalitas dari wajah-wajah yang mereka tunjukkan  begitu terasa. Menjadi satu semangat yang tergempul dari dalam diri masing-masing.

Sepertinya masih terbayang—orang-orang yang mereka tinggalkan. Menunjukkan wajah: sedih, lesu, tangis, dan bahagia nampak, sekedar  mengiringi keberangkatan tim Ekspedisi. Memang, sejak keberangkatan dari pertigaan kampus Untad itu; bangga dan sedih bercampur menjadi satu, dari masing-masing anggota tim ekspedisi—pun orang-orang yang mengantarkannya.

Tibalah mereka di sebuah pondok tinggi itu. di penghujung Dusun Sipator Desa Siboang, di mana rumah itu terletak. Sekitar tujuh rumah yang menemaninya. Semuanya adalah orang Lauje—mayoritas pekerjaan mereka adalah petani. Petani tulen. Orang-orang Lauje itu migrant dari Kecamatan Palasa Kabupaten Parigi Moutong. Di sana banyak saudara-saudara mereka. Mereka tersebar di pegunungan Sojol. Hari sudah mulai siang. Akbar, selaku ketua tim siang itu, memutuskan untuk tetap menunggu Pak Guru.

Umur Pak Guru sekitar 80-an tahun. Kepalanya yang hampir semua, di bumbui warna putih itu, senantiasa berjuang dalam komunitas kearifan lokal mereka. Maka, siapapun yang berjumpa dengannya akan mendapatkan sebuah simpatik sebagai ciri khasnya. Dia di sebut sebagai Pak Guru, karena semenjak migrant ke kampung itu, dia mengajarkan Karate kepada penduduk setempat. Dari situlah gelar “Pak Guru” dia sandang hingga sekarang. 

Di usianya yang cukup tua itu, seharusnya dia sedang menikmati masa tuanya. Namun bagi Pak Guru, hal itu akan menyebabkan dia sakit-sakitan. Rambut putih di kepalanya, sama sekali tidak membatasi setiap aktifitasnya, saat turun dari rumahnya yang tinggi itu. Siapapun yang ingin menjajakkan kakinya di Gunung Sojol bagian barat itu, harus melapor kepadanya. Kepada Pak Guru.

Lenggak-lenggoknya saat berjalan, suaranya yang semakin di makan usia semakin tidak jelas, telinganya juga makin tidak mendengar, membuatnya tak Galau dalam menjalankan setiap aktivitasnya. Namun, satu hal yang perlu di acukan jempol untuk pak guru ini. Beliau selalu tabah dalam menghadapi hidup. Bukan karena dia pasrah, tapi lebih dari sekedar mencari sesuap nasi untuknya sendiri dan bala cici-cucunya yang nakal. Yang sesekali membuat pak guru bersuara besar, ketika cucunya bertingkah aneh dan tidak sepatutnya.   

Juga ada beberapa hal yang membuat kami terkagum-kagum padanya, adalah ketika jiwa dan raganya di korbankan untuk orang lain. Sifat kepahlawannya menyebabkan dia, pak guru, sebagai sosok yang pemberani dan patut di contoh.

Pak Guru memang sangat akrab dengan Gunung Sojol, pada tahun 1993 dan 1994, Pak Guru ikut berlibur dan memburu Triangulasi di puncak Sojol bersama para anggota Mapala Kumtapala. Pak guru sangat berjasa bagi Mapala Kumtapala. Bukan dari segi materi, namun dari berbagai hal. 

Pak Guru terlihat  terkejut, ketika sekelompok pemuda ramai di rumahnya.

“Bagaimana kabar Pak Guru? Kami ini, adik-adiknya Pak Jamal. Pak Guru dapat salam dari dia. Minggu depan dia ke sini,” kata Anggry, mengawali pembicaraan, setelah Pak Guru menghabiskan anak tangga rumahnya.

Oh iyooo! Sudah lama betul tidak ketemu dengan dia. So rindu juga saya dengan dia. Bagaimana kabarnya? Baebae juga dia di sana?” sanggah Pak Guru, sambil mengisap sebatang rokok.

Iye. Alhamdulilah baik-baik Pak Jamal di sana,” jawab Anggry.

“Pak Jamal yang suruh kami kemari, mau ketemu dengan kita.”

 “Dari mana kamu tahu, kalau saya ini, Pak Guru?”

“Sebelumnya, kami ini, sudah lihat fotonya Pak Guru, di album foto di sekretariat. Waktu itu Pak Guru sama-sama dengan Pak Jamal bapegang cangkul, pas kegiatan Baksos. Pak Jamal, banya baceritakan tentang Pak Guru.”

Ohhh..!!! Iyoo! Kalau nda salah, waktu itu di tahun 1997. Tapi, ada juga fotoku dengan Pak Jamal, kalau tida salah antara tahun 1993—1994. Tapi, waktu itu kegiatan pendakian.”

Semua seketika terdiam. berpikir, menerawang, mengingat-ingat foto-foto dalam album di sekretariat.

“Saya ingat Pa Guru! Pa Guru, waktu itu lagi pegang bendera, merah—putih!” seru  Farid.

Iyo. Saya ingat juga begitu,” kata Pak Guru, sambil berpikir-pikir. Apakah tebakannya itu benar atau tidak. Karena waktu itu, banyak foto-foto yang mereka ambil dalam pendakian. “Mungkin saja hanya satu itu, yang sempat di cetak,” pikir Pak Guru.

Esok harinya, kami memulai pendakian. Saat itu,  hujan membasahi bumi begitu derasnya. Padahal jalur yang rencana kami lintasi akan menyeberangi sungai.

“Pasti banjir,” kata Kiki.

Iyoo. Sepertinya begitu. Suara deras aliran sungai nda sebesar tadi. Itu pasti tandanya banjir,” kata salah seorang pendaki. 

“Jadi bagaimana le? Kita mau paksa  menyeberang kesana?” kata Kiki, sambil menunjuk ke arah seberang sungai, yang sudah tak sejernih tadi.

Ragu untuk melanjutkan perjalanan karena jalur yang di lewati menyeberangi sungai, dan saat itu banjir. Akbar selaku ketua tim, langsung mengambil sebuah keputusan.

“Kita nginap di sini saja le. Kebetulan di sana ada pondok petani,” kata Akbar sambil menuju ke arah Barat Daya, letak pondok itu.

Semua anggota tim terlihat setuju. Sebab, tak ada pilihan lain—selain menunggu air akan surut. Kata orang-orang di kampung sekitar, paling hanya beberapa jam airnya akan surut. Akhir-akhir ini memang banjir sering datang menghampiri. Maklum, musim penghujan.

“Saya harap, mulai saat ini kita jaga kekompakan di hutan ini le. Jadi, semua harus ambil bagian,” desak Akbar, dengan suara yang agak menggelegar.

“Siap, Pa Ketua,” dengan suara serempak.

Maka: Kiki, Sandy, dan Farid bergegas untuk mencari kayu bakar. Sementara yang lainnya ada yang mengambil nesting, trangia dan juga matras  yang ada dalam Carier.

“Kalau kayu basah seperti ini, maka caranya, kupas kulit kayu, supaya terlihat dan terasa kering. supaya nyala api akan membesar,” kata Farid, sambil memperliatkan kayu yang ada di tangan kirinya.

“Teori dari mana lagi kau dapat itu, Farid?” tanya Sandy, menunjukkan wajah keheranan.

“Bisa juga komiu buktikan. Karena ini pengalaman waktu saya di ajak kakekku ke kebunnya. Kakekku itu, dia tahu persis soal bakar—membakar kayu. Kakekku belajar dari kakeknya. Bahkan, dia ajarkan dan dia praktekan di depanku. Dulu, di bilang kakekku; belum ada minyak tanah, belum ada matchis, tapi dorang bisa bikin api, bahkan dia punya nyala, besar lagi!” terang Farid dengan penuh tantangan.

Iyoo… saya juga pernah baca di buku seperti itu. Dan, saya juga pernah dengar seperti yang kau bilang, Farid. Sama persis seperti yang kau bilang. Baaahhh… teori itu! Bisa kita bikin sebentar,” sambung Kiki. Mereka menggenggam masing-masing kayu di tangannya, sambil berjalan di tengah gerimis hujan.

Waktu semakin tak terasa. Hari mulai gelap. Jangkrik-jangkrik  mulai berdering sesuka hatinya. Burung-burung malam telah menyambar di gelapnya malam. Seketika hening. Kami telah selesai makan. Namun, Anggry masih memperlihatkan wajah lesu. Seolah perutnya yang sedikit agak membuncit itu, tak diasupi nasi sedikit pun. Padahal, baru beberapa menit yang lalu, perut telah di isi. Sejenak terdiam. Diam. Dan hujan turun lagi. Dan semua tertidur pulas.

Tiba-tiba Anto terbangun kaget. Memang, kebiasaan Anto bangun kaget di subuh hari; mendahului ayam turun ke bumi. Entah apa penyebabnya. Anto pun tak tahu, mengapa dia seperti itu. Sedangkan yang lain masih tertidur pulas. Ular sebesar pohon kelapa yang ingin menyedot mereka pun pasti tak mereka rasakan. Anto mengambil tindakan duduk di antara mereka yang tertidur. Aku, yang juga terbiasa bangun pagi—melihat Anto terduduk—termenung memandang kosong atap yang di produksi oleh orang-orang Lauje. Daun rumbia. Hampir semua, rumah orang-orang Lauje itu beratapkan daun rumbia, atau daun sagu. Mereka memang ahlinya menganyam.

Memang, semenjak aku masih duduk di Sekolah Dasar di kampungku, ayah melatihku untuk bangun pagi. Katanya, ketika lambat bangun, atau ketika mentari menyinari kampung kami—masih saja tertidur, maka rezeki akan di patok ayam. Entah mitos dari mana yang menusuk jiwa ayahku itu. Tapi, kebiasaan itu, aku lakukan setiap hari, hingga saat ini telah mendarah—daging—merasuki tubuhku.

Bergegas Anto menyalakan api. Di ambilnya air dan trangia. Sepertinya  dia ingin membuat segelas kopi, sekedar menghangatkan tubuh yang tak ingin tertidur lagi. Air belum juga mendidih. Anto terlihat tak sabar ingin meneguk kopi. Sementara aku tersenyum melihat tingkahnya. Tingkah yang sering dia buat di sekretariat. Tiba-tiba Anggry terbangun. 

“Kau mau bikin kopi, Anto?” kata Anggry, dengan mata yang agak sayup.

“Kau liat saya, ada ba apa?” jawab Anto.

Baahh.. nda juga begitu le. Orang Cuma ba tanya. Tidak bisa kau di tanya?” ujar Anggry, dengan nada kesal.

So kau tau trangia ada di atasnya api, kau tanya lagi,” jawab Anto.

“Tidak, Anto, siapa tau komiu ada ba masak mie, saya minta sedikit.”

“Tidak. Tidak ba masak mie saya. So kau tau to, saya pe hobby minum kopi. Kau mau? Kalau mau, saya bikinkan kau.”

Iyo jo. Bikinkan pale.”

Mereka berdua, terlihat menikmati kopi dan hanya segelas. Mereka mempersiapkan sisa air panas untuk kawan-kawannya yang sebentar lagi akan terbangun.   

 

*****

Beberapa jam kemudian.

“Tim harus bergegas turun,” kata ketua tim, Akbar. “Kita harus bayar utang yang kemarin. Saya punya maksud, kemarin kan kita  sudah istirahat sebelum waktunya. Kebetulan, jika di lihat dari plotting area, jalur lebih banyak menurun hari ini. Mesti kita pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.”

Semua sepertinya sepakat apa yang di katakan oleh Akbar. Maka, demi mengefisienkan waktu, kami setengah berlari.

Tepat pukul 12. 00 waktu setempat, kami istirahat sejenak di sebuah pondok milik petani Lauje di pegunungan itu. Siang itu kami menyempatkan  untuk ngopi dan makan snack—menambah energy agar tak drop. Fikar, sebagai ahli navigasi darat, yang termasuk dalam tim ekspedisi gunung Sojol itu, langsung mengambil alih peta dan kompas, resection. Fikar memang ahli peta—kompas, bahkan, orientasi medan dan feeling nya pun, sangat kuat. Sebenarnya, Akbar juga punya kemampuan dalam hal peta—kompas, namun kemampuan itu, tak semampu Fikar. Makanya, Fikar kami anggap sebagai “mata kompas”.

Matahari bersinar dengan elegannya. Sinar pancarannya masih mampu menembus di antara pepohonan. Kicauan burung yang terdapat di areal gunung itu memekik telinga. Sehingga, Fikar kelihatan resah, tak fokus membidik sasaran, untuk menentukan titik koordinat. Sementara,  Kiki yang semenjak SD suka dengan burung, sangat menikmati kicauan itu. matanya sedikit-sedikit meredup-redup dan bercampur aduk dengan senyum vaforitnya.

“Burung yang saya pelihara sudah dua puluh ekor, di rumah. Tidak lama, ta tambah lima ekor lagi. Huuuu…Senang betul hatiku le!” bisik Kiki, di antara mereka, yang beberapa orang lagi terbaring—memandangi langit, yang dihiasi oleh kejaran burung.

 “Burungmu—burung apa semua Ki?” tanya Sandy.

“Ada Merpati, Dora, Gelatik, dan Kum-kum.”

“Dulu, waktu saya SMA, keponakanku suka sekali dengan burung. Dia berenti sekolah, karena burung. Tiap papanya pigi kekebun, ponakanku itu pasti ikut. Dia ba bawa kandang dengan jerat burung. Akhirnya, karena burung, sekolah keponakanku itu tidak lanjut. Herannya depe papa, cuma kase biar dia begitu. Papa yang aneh!” celah Sudi.

“Kau  pe keponakan itu juga aneh, sama dengan papanya!” sambung Anto.

Iyooo..,. Semuanya aneh. Termasuk kau juga yang aneh!” balas Sudi.

“Kenapa jadi saya yang aneh, Sudi?”

“Aneh memang!”

Iyo. Aneh kenapa?”

“Bagaimana, kita lanjut kawan-kawan?” kata Fikar, memutus percakapan mereka.

“Siiiiaaaaapppppp…….!!!!” teriak serempak.

Kali ini tim menyusuri sungai dan menyipir di lereng-lereng gunung. Sungainya jernih. Namun, panas menerpa di ujung kepala. Tak ada pohon yang bisa di jadikan tempat berlindung. Hingga harus cepat berjalan. Setengah lari. Meskipun beban yang di pikul di belakang terasa berat—langkah kaki semakin lincah penuh semangat. Menyeberang sungai, menembus lereng, melewati padang ilalang—mau tak mau harus di tembus.

Tibalah kami di sebuah kampung yang terdapat di Gunung Sojol. Jika di lihat dari ketinggian—di sebelah gunung—arah utara, maka jejeran-jejeran rumah begitu kecil. Padang ilalang terhampar di sekitarnya. Rumput-rumput sejenis pakis bertebaran di tepi-tepi sungai. Batu-batu hitam menghiasi sungai yang tak begitu dalam. Awan-awan yang bergantungan di langit sesekali menghalangi sinar matahari. Disini—di gunung ini—jauh dari kebisingan pencipta polusi udara.

Penghuni gunung itu begitu ramah, namun hampir semua bahasa mereka, tak kami ketahui. Bahasa Lauje. Hanya Pak Birata, kepala Suku Lauje di kawasan mereka yang sedikit mengerti bahasa Indonesia. Maklum, mereka tak pernah sekolah. Pak Birata sering ke kampung, menemui Pak Guru dan bercengkrama dengan masyarakat setempat, sehingga ia mengetahui Bahasa Indonesia. Ada satu hal yang mengganjal di benakku saat itu:. Mereka sungguh termarginalkan. Mereka tak seperti orang-orang kota yang selalu mengenyam pendidikan, hingga orang-orang kota itu menjadi seorang professor. Tak ada keadilan di negeri ini. Mereka juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan, hingga mereka tahu dan paham bahasa nasional mereka sendiri.

Suara air bergemuruh. Memekik telinga hingga mengalihkan konsentrasi atas apa yang di ucapkan Pak Birata, dengan bahasa yang agak terbata-bata dan sedikit kami pahami. Hanya Anggry yang memahaminya. Sesuatu yang luar biasa tentunya. Di balik gunung Sojol itu, ada bahasa yang banyak orang tak mengetahuinya, bahkan mendengarnya sekalipun. Angry memulai pembicaraan tanpa ragu.

“Hidup di sini memang tenang. Cuma suara air yang di dengar, dari pagi sampai malam. Jauh dari polusi.”

So lama kami di sini. Kami cuma makan ubi, jagung, kacang, dengan sagu, di sini,” ujar Pak Birata, dengan bahasa seadanya dan nada yang senduh. Seolah-olah ia mengharapkan bantuan—agar pemerintah memberikan bantuan kepada mereka, untuk menyantap nasi.

“Orang-orang di sini belum pernah makan nasi?”

“Belum ada.”

“Kenapa bisa?”

“Kami cuma ba tanam ubi, jagung, dengan kacang di sini! Cuma dorang Pak Guru, yang biasa makan nasi. Di sana dorang ba tanam padi,” cetus Pak Birata.

Ooooohhhhh…….”

Mulut Anggry hanya menganga setelah mendengar penjelasan Pak Birata. Kami, yang melihat Anggry lagi menganga, pun ikut menganga.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.20 waktu setempat. Kami pun mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan.

Bantaya Lanoni, 20 Mei 2013

Bersambung—kebagian II

 

 

Discussion

Leave a Reply