Apa Yang Menarik Di Negeri Ini, Putri?

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

awefeDi siang bolong penuh debu. Ali masih mengkepak-kepakkan buku tulisnya yang sudah mulai kusam. Sebenarnya, gurunya melarang, bahwa buku tak bisa di gunakan untuk: melindungi diri dari hujan, membungkus makanan, mengkipas-kipaskan buku, karena bukan sesuai dengan fungsinya. Tapi Ali, tak mempedulikannya. Ia berpikir, bahwa buku juga mempunyai dua fungsi yang berbeda. Ia masih terus melakukan—hingga buku menjadi kusut “minta ampun”.

Seketika, Ali melihat Putri yang sedang berjalan cepat—layaknya di kejar anjing gila. Setengah lari. Putri berusaha mencari tempat berlindung dari sengatan sinar mentari. Di dapatnya pohon.  Tepat di depan—di mana Ali sedang duduk.

Hari itu, tak ada bedanya dengan hari-hari lain. Cuacanya cukup panas. Sangat menyengat. Matahari seperti sejengkal dari ubun-ubun.

Kata Ali kepada Putri:

“Inilah yang di namakan pemanasan global.”

Putri hanya terdiam. Ia mencoba melangkahkan kakinya kearah Ali. Putri segera meminjam buku Ali—untuk mengipas tubuhnya yang gerah itu.

Ali dan Putri sudah berteman sejak mereka duduk di bangkuh kelas satu Sekolah Dasar. Mereka sekampung. Dan, sekarang mereka sudah duduk di bangkuh menengah atas. Setiap  pagi, Ali dan Putri berjalan sejauh  dua kilo meter untuk menempuh sekolahnya. Mereka sama  sekali tak memiliki kendaraan, seperti kawan-kawannya yang lain. Seperti Muli—yang setiap hari memakai kendaraan bermotor.

Empat kilo meter pergi—pulang. Sejauh itu, mereka sering mendiskusikan tentang negeri ini. Mereka sangat kritis. Mendiskusikan soal jumlah kawan-kawan mereka yang putus sekolah; soal sumber daya alam yang melimpah, namun warganya masih banyak yang miskin; soal fasilitas sekolahnya yang masih minim; soal infrakstruktur masih minim; soal kejadian beberapa bulan lalu, yang tanah masyarakat di kampungnya di serobot perusahaan tambang, dan soal-soal lainnya.

Mereka paham dengan situasi negeri ini, yang menurut mereka sudah masuk dalam masa degradasi. Para pejabat banyak yang terlibat korupsi—mulai dari tingkat desa hingga pusat. Mulai dari korupsi dana ADD, sampai pada korupsi APBN.

“Bangsa kita ini, sudah di kerumuni oleh orang-orang yang tidak bermoral,” ucap Ali di suatu pagi yang belum sengat panasnya.

“Jangan salah, Ali, masih banyak juga orang-orang yang tinggal di negeri ini, yang baik-baik pula,” cetus Putri.

“Apa yang baik? Setiap malam, selesai kita belajar, kita sering menyaksikan berita. Banyak isi berita itu, tentang kriminal, korupsi, pencabulan, penembakan, dan lain sebagainya. Apakah itu yang baik-baik, Putri?” tanya Ali sambil berjalan mendahului Putri beberapa langkah. Ali kemudian bertanya lagi:

“Apa yang menurutmu menarik di negeri ini, Putri?”

“Itulah yang menarik!”

“Maksudnya?”

“Yahhh… yang menarik adalah apa yang kita tonton setiap malamnya, Ali,” ungkap Putri.

“Tapi, perlu di ingat Ali, bahwa masih ada yang baik di negeri ini—satu—dua orang, yahhh.. adalah…”

“Apa yang ada di pikiran mereka yahh?” tanya Ali.

“Rupiah.”

“Hahahahahahahaha,” Ali tertawa terbahak-bahak.

 

     *******

Tak terasa, sudah satu kilo meter berlalu—tinggal sekilo meter lagi, yang mereka tempuh. Di sana—Andi sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu. Andi adalah kawan sekelas mereka. Andi senang duduk paling belakang. Katanya, agar tak mudah di tunjuk guru untuk menjawab pertanyaan.

“Bagaimana kabarmu, Andi?” sapa Putri.

“Baik.”

“Hahahahahahhaa…….”

“Kenapa kamu tertawa, Andi?” Putri bertanya kebingungan. “Jangan-jangan kamu sudah gila?”

“Aaaahhhhh….. kamu ada-ada aja.”

“Terus?” Ali bertanya.

“Saya hanya teringat berita di salah satu televisi swasta semalam!” seru Andi.

“Apa itu? Tentang apakah itu?” tanya Putri penuh penasaran.

“Hahahahahahahahaha…….”

“Heeeiiiii… Andi, jawab!” seru Ali. Jidatnya mengerut, pun juga penuh keheranan yang tak terkira. Padahal, Ali juga semalam menonton, tapi tak ada yang membuat Ali tertawa acara di televisi.

Andi berhenti. Ali dan Putri juga berhenti—masih menunggu jawaban yang pasti dari Andi. Andi sesekali memandangi langit. Ia seolah-olah meningat-ingat sesuatu. Kemudian, Andi kembali tertawa:

“Hahahahahahahaha………”

“Kalian tahu nda berita heboh semalam?” tanya Andi.

“Yang saya tahu, berita tentang KPK yang berhasil menangkap beberapa kasus korupsi para elit politik,” tegas Ali.

“Yaaahhhh…. Tapi ada yang lebih menarik, Ali,” tukas Andi.

“Apa itu?” tanya Ali masih penuh penasaran.

“Korupsi pengadaan Al-Quran. Hahahahahahaha……”

“Kenapa tertawa? Kamu anggap itu lucu?” tanya Putri.

“Iya!” jawab Andi penuh semangat. Andi menambahkan:

“Kawan, di negeri ini, mungkin sudah tak ada bahan yang di korupsi lagi. Nahhh…. Yang jadi terdakwa sekarang itu, punya jalan—korupsi pengadaan Al-Quran.”

Tak terasa, mereka sudah sampai di pintu gerbang sekolah. Diskusi tentang korupsi pun berakhir untuk sementara.

“Ketika istirahat sebentar, kita akan lanjutkan diskusi kita, yah?” ajak Ali kepada Andi dan Putri.

Negeri ini memang kaya, namun telah antabaranta. Negeri ini memang subur, namun kesuburannya banyak di nikmati oleh cukong-cukong tak di undang. Regulasi di buat sedemikian rupa, demi meraih kekayaan negeri ini. Indonesia.

Bantaya Lanoni, 26 Mei 2013

Leave a Reply