Petisi Untuk Penguasa

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

catsPertengahan April 2012. Saat itu, musim hujan telah datang. Jalanan aspal tak lagi mendidih. Butiran-butiran debu tak terlihat menjangkau di udara. Tukang ojek tak lagi berkeliaran di jalanan. Langit tak lagi membiru. Gelap.  Satu persatu cabangan pohon jatuh kebadan jalan—menghalangi  Taxi yang lagi melaju dipersimpangan jalan Jenderal Sudirman. Para kutu buku terlalu mainstream memilih buku di emperan Pasik Plaza.

Pagi hari menjelang siang. Pejalan kaki tak berani keluar dari persembunyiannya. Hujan tak pernah berhenti semanjak malam tadi. Intruksi BMKG telah keluar di media televisi. Waspada—banjir. Kondisi demikian, bagi orang-orang yang punyai televisi menjadi was-was. Tapi, mereka yang tak memiliki televisi, harus kosong akan informasi dari media elektronik itu.

Sedang, pemuda berambut gondrong—berkumis tipis—berjenggot tebal, tengah asyik memandangi langit tak berbiru. Lelaki itu hampir pasrah ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh. Hari ini rencananya ia akan turun kejalan bersama para petani, yang tanahnya di rampas oleh para pemodal.

Desiran angin masih saja berhembus. Semangat perlawanan untuk memperjuangan orang banyak semakin menggebu. Wahyu, pemuda berambut gondrong itu sesekali mengecek handphone nya—untuk memastikan; apakah ada pesan singkat yang masuk atau tidak! Dalam perhelatan akbar itu, yang sudah di rancang sebulan sebelumnya, adalah suatu tindakan yang tentunya, bukan apolitik. Sikap Wahyu memang akhir-akhir ini, sering memobilisasi massa di luar parlemen, untuk mengeluarkan beberapa petisi. Bukan sekedar humoria belaka tentunya.

Di tengah Wahyu yang lagi tak sabar akan berhentinya hujan di siang itu—seorang pemuda revolusioner datang menghampirinya. Bajunya setengah basah. Bibirnya sedikit tak berdarah. Badannya bergetar. Katanya, “aku lapar.”

Wahyu yang mendengar dua kata itu, langsung tercengang. Ia mempersilahkan Tun, pemuda revolusioner itu masuk dan menuju ke dapur. Di sana tersedia mie instant dan sebutir telur. Tun menyantapnya dengan lahap. Tun kenyang.

“Terima Kasih,” kata Tun. Wahyu hanya berdiam mendengar ucapan itu. Tak lama  kemudian Wahyu bertanya:

“Apakah mereka sudah siap semua?”

“Mobil Sound system belum datang. Mungkin pengaruh hujan. Tapi perlengkapan sudah tersedia semua. Kawan-kawan juga sudah standby,” kata Tun meyakinkan Wahyu.   

Matahari sesekali mengintip di antara awan yang gelap. Kupu-kupu berwarna hijau berkeliaran di tepian got—depan sekretariat jalan jambu. Paranormal sudah tak sibuk mengkomat-kamitkan mulutnya untuk menghentikan hujan. Dalam keadaan demikian, Wahyu langsung saja mengambil sepeda—motornya menuju kelokasi berkumpul para petani yang ingin menuntut haknya.

Ia pergi bersama Diko, kawan akrabnya semenjak lima tahun lalu. Mereka memang setia kawan. Dalam hal apapun, sering mereka lakukan bersama-sama. Diko, kelahiran kampung rambutan 28 tahun silam, menganggap Wahyu sebagai saudaranya sendiri. Pun, sebaliknya. Mereka berdua tetap konsisten dalam memperjuangan sesuatu, terutama memperjuangan hak-hak petani pedesaaan.

Namun, semenjak kelahiran Maya, anak Diko beberapa bulan yang lalu. Wahyu merasa kesepian. Diko lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memanjakan Maya yang masih kecil itu. Sesekali Diko gelisah, ketika Diko menerima pesan singkat dari sang istri:

“Maya tak mau tidur. Ia terus-terusan menangis.”

Maka, Diko, meski sesibuk apapun di secretariat di jalan jambu itu, harus pulang dan menenangkan Maya. Maya memang sudah terbiasa di manjakan oleh Diko, ayahnya. Ketika sudah di pangkuan ayahnya, Maya langsung tertidur pulas. Ketika Maya tertidur, disitulah kesempatan Diko untuk melanjutkan aktifitasnya di sekretariat.

*******

Meskipun cuaca agak sedikit mendung. Di depan kantor para penguasa di kota itu cukup ramai. Massa aksi, para wartawan, polisi baik berpakaian dinas, maupun berpakaian preman melebur menjadi satu. Semangat juang antara Diko dan Wahyu semakin menggebu. Pun, dengan masa aksi lainnya. Diko terlihat memimpin aksi masa para petani itu. Ia di atas mobil Sound. Berdiri dengan gagah—berani. Semua masa aksi terdiam—mendengarkan orasi politik Diko. Ia berorasi seperti Soekarno—saat membacakan pledoinya di muka hakim pengadilan—membakar semangat para pengikutnya.  

“Kawan-kawan, hari ini kita kembali turun kejalan. Dan, aksi kita ini sudah kesekian kalinya kita lakukan, namun tuntutan kita belum saja di realisasikan.” Diko menghela nafas sebentar. Kemudian ia melanjutkan lagi:

“Padahal, kawan-kawan, kita hanya menutut agar tanah kita di  kembalikan yang di rampas oleh para pemodal itu. Yang tentunya, kawan-kawan, pasti ada campur—tangan para penguasa di negeri ini.”

“Betulllllllll……” sela aksi masa serempak.

Semua tercengang melihat dan mendengar Diko pidato. Ia betul-betul mampu mengaktualisasikan dirinya. Sementara, Wahyu tengah sibuk membagikan air di tengah ratusan massa aksi yang lagi duduk bersampingan dengan trotoar jalan. Sesekali rambut panjangnya ia kipas-kipaskan kekiri dan kekanan—hingga mengenai wajah Jali.

“Aduh. Bung Wahyu, rambutmu mengenai wajahku,  pedis. Shampoo apa yang kamu pakai?” kata Jali dengan sedikit kesal.

“Maaf Bung Jali, hari ini aku tak memberikan bahan kimia apapun pada rambutku. Maaf rambutku sudah berani menyentuh wajahmu.”

“Lalu sengaja menyambarkannya di wajahku?”

“Bisa Jadi. Hehehee…….”

Diko masih melanjutkan pidatonya. Awan telah terbuka lebar. Waktu Dzuhur sedikit lagi tiba. 

“Kawan-kawan, ini bertanda, bahwa ada kongkalikong di antara mereka. Kitalah yang sengsara. Petani-lah yang menanggung resiko terburuk itu. Kawan-kawan sekalian, perjuangan kita adalah perjuangan mempertahankan hidup. Dalam konstitusi Negara, bahwa hak setiap warga di jamin. Akan tetapi, kawan-kawan, itu hanyalah omong kosong belaka. Kita semakin tertindas. Hidup rakyaaaattttttt…….!!!!!”

“Hiduuuuupppppppp……!!!!!” jawab massa aksi serempak.

Massa aksi segera diarahkan Diko ke dalam gedung penguasa itu. Di sana terlihat Satuan Polisi Pamong Praja sedang berkumpul—masing-masing membawa pentungan—setengah meter.

Diko masih menguasai mobil sound. Ia kemudian mendekatkan mike kemulutnya. Lalu berujar:

“Kawan-kawan, hari ini kita memberikan petisi kepada penguasa di daerah ini.”

Suara Diko menggelegar—membahana hingga tembus keruangan orang nomor satu di daerah itu. Satpol PP, yang tadinya berkumpul, kini telah membentuk barisan—berjejer rapi di depan pintu masuk kantor—menghadap ke massa aksi.  Siap membendung massa aksi jika berani masuk.

Kini, giliran Wahyu yang menyampaikan orasi politiknya. Waktu itu, ia sengaja membawa topi ala petani sawah—yang bertuliskan “kembalikan tanah kami”. Baru kali itu ia terlihat memakainya. Biasanya, Tun yang memakai topi itu. Wahyu naik ke mobil sound. Ia berkata:  

“Hidup rakyat?”

“Hiduuuuupppppp….”

“Hidup tani?”

“Hiduuuuppppp…..”

“Hidup buruh?”

“Hiduuuuppppppp………” jawab massa aksi serempak.

“Kawan-kawan, seperti yang kita ketahui bersama, hari ini kita menuntut  hak kita. Hak kita yang telah di rampas. Maka, hari ini, kita segera mendesak pemerintah agar berpihak kepada rakyat kecil. Agar mengembalikan tanah-tanah para petani di Desa Sinungkud yang telah di rampas,” ujar Wahyu dengan semangat. Ia menghela nafas sebentar. Kemudian ia melanjutkan:

“Tentunya hal itu, kawan-kawan, menjadi daftar panjang penderitaan rakyat demi kepentingan global. Di ikuti pula oleh kriminalisasi rakyat. Walhasil, kawan-kawan, sederet kasus penembakan pun terjadi setiap tahunnya, seperti pula bencana banjir yang terjadi di negeri ini.”

Tak lama kemudian, perwakilan penguasa telah keluar dari arah kiri gedung itu. Pakaian necis berdasi biru—di kawal oleh puluhan Satpol PP. Ia bukan orang nomor satu di daerah itu, tapi ia asisten tiga. Setelah Wahyu selesai berorasi—sang asisten tiga itu berujar:

“Maaf Bapak, Ibu, orang nomor satu di daerah ini sedang keluar kota.”

“HHuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,” seru masa aksi.

“Mohon diam dulu, bapak, ibu, beliau lagi perjalanan di…….”

“Kemana pak?” potong salah satu massa aksi.

“Ke Amerika.”

 “Huhhhuuuuuuuuuuu…..” seru massa aksi lagi.

“Yang jelas, bapak, ibu, tuntutan kalian akan aku sampaikan ke orang nomor satu di daerah ini; ketika beliau datang,” ujar asisten tiga itu.

“Pak! Perlu bapak ketahui, bahwa tuntuan kami ini, sudah kesepuluh kalinya dengan aksi hari ini. Tapi, apa yang kami dapat? Hanya surga telinga belaka,” ujar salah satu masa aksi.

“Bukan begitu, bapak, i……….” belum selesai asisten tiga itu berkata, seorang massa aksi dari arah kiri langsung memotong:

“Aaaahhhhh sudahlah pak. Kami ini hanya rakyat biasa, dan butuh perhatian dari penguasa di daerah ini. Tanah kami di rampas, di mana peran penguasa? Jangan-jangan penguasa sudah berselingkuh dengan pengusaha?”  

Asisten tiga itu tak berkutik. Ia di serang oleh ratusan korban system kapitalistik.

“Anak dan cucu kami mau makan apa pak?” pertanyaan itu dari arah belakang.

“Bapak bagus, punya gaji setiap bulan. Naaaahhh kami? Di mana lagi kami mendapatkan uang? Tanah kami di rampas, pak.”

Asisten tiga masih tercengang. Terdiam—berdiri kaku. Mulutnya seolah tak bisa berkata apa-apa lagi.

*******

Sekitar satu jam mereka di gedung penguasa itu. Setelah memberikan petisi, mereka keluar pagar dan selanjutnya melakukan konsolidasi.

Bantaya Lanoni, 26 Mei 2013 

Leave a Reply