Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian IV

Bagian IV

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

mjkSinar mentari telah berpindah menyinari bumi lain. Burung malam telah meraung-raung mencari tempat tidurnya. Malam ini, teori kakek Farid tak berlaku. Kayu, betul-betul semua tertutupi oleh lumut tebal. Seratnya pun basah. Spritus tak mampu menyumbang panas di atas kayu itu. Bahkan spritus hampir membeku.

Tenda domne sejak beberapa jam lalu, telah berdiri. Tim ekspedisi tak mampu keluar tenda. Di dalam pun, mesti memakai raincoat dan sleeping bag berlapis-lapis—masih terasa dingin. Jika tidak, maka bisa dipastikan—tak bisa tidur.

Embun berlahan-lahan menyentuh tenda. Juga berlahan-lahan masuk ke dalam—tanpa permisi. Badai masih saja menyapu bersih pepohonan hingga saling bersentuhan. Tak ada yang berani keluar. Bukan karena ada hujan. Namun, tetesan embun dan suhu terlalu dingin, hingga buang air kecil pun harus dari dalam tenda.

Sepertinya, suhu pada waktu itu, berkisar minus lima derajat celcius. Kaki bergetar. Tangan bergetar. Bibir pecah-pecah. Semua terasa kaku. Berkumpul menjadi satu. Saling memandang dengan cahaya yang minim. Tapi bisa dipastikan, semua bibir tak berdarah.

Abdi, yang semenjak kemarin selalu diam dalam perjalanan, tiba-tiba berujar:

Soso….so.. bi..bi…bisa di mulai briefing le,” dengan nada yang terbata-bata dan bibir bergetar.

Tutu…tunggu dulu, Abdi, makan dulu torang, baru briefing,” ujarku, yang juga terbata-bata karena kedinginan yang membelenggu di sekujur tubuh.

“Betul itu. Dingin begini—ini, kau kira nda lapar?!” sahut Risman, yang dagu dan lututnya bertemu—saling bergesekan.

“Kau nda liat kayu basah semua itu?” selah Abdi.

Eeeeetttssss…tidak ba masak pake  kayu, manggeeeeee!!” terdengar suara  Risman kembali menimpali perkataan Abdi.

Pake apa pale?”

“Itu kau! Untuk apa pale spritus itu, kalau bukan pake ba masak?” tegas Risman, yang dagu dan lututnya sudah berpisah.

“Betul itu. Makan dulu kita, baru briefing,” sanggah Akbar.

“Baru, mana pale spritus?” tanya Risman.

“Cepat ba gerak, ooiiii…!! so lapar ini. Biasa kalau lapar begini, bagigi telinga saya nanti,” ujarku dengan sedikit cengegesan.

Iooo… eeeehh… sekalian bikin kopi juga. Dingin sekali ini!” kata Anto dengan penuh harapan.

Rasa dingin harus segera di lawan. Jika bermanja-manja, maka di pastikan akan kaku. Itu pasti. Dua meter dari tenda kami—tepat di depan tenda kami; ada lima orang di sana. Mereka kelihatannya kurang berdebat soal masak atau briefing—yang mana terlebih dahulu dilakukan. Nyala api di tenda mereka menciptakan bayangan seperti tak bergerak—menunduk—hingga lutut merapat ke dada.

Rambut panjang dan lurus—terurai jatuh dalam tenda, menghalangi pandangan mata yang lagi mensasar tiga orang lainnya. Situasi itu, mengingatkanku kejadian siang tadi, ketika memandangi pelangi dihalangi oleh  kabut tebal.

Angry, pemilik rambut itu. Meski sudah lima hari tak di shampo, rambutnya masih saja seperti itu—seperti rambut Alyssa Soebandono yang lagi iklan di tivi. Kira-kira seperti itu. Ia keturunan berambut lurus. Ayah dan ibu Angry, rambutnya lurus-lurus. Angry, yang semenjak sepuluh tahun lalu berdomisili di Lalundu, Kabupaten Donggala itu, sangat cocok memiliki rambut lurus—panjang dengan pola muka agak panjang, dan hidung mancung.

*******

Semakin larut, suhu udara semakin dingin. Tak ada seorang pun yang berani menginjakkan kakinya ke tanah berlumut itu. Badai angin telah berhenti. Pekikan jangkrik tak terdengar. Nyanyi dering burung malam berhenti, seolah-olah tercekik dan tak bernafas lagi. Sunyi senyap—suasana alam—menggelembung—berputar-putar jauh dari gendang telinga. Mengakibatkan ketenangan jiwa yang ditimpali bergabai cobaan dari lahir hingga pada jejak di gunung itu.

Sesungguhnya, ini bukan perkenalan pertama. Sebagai uji coba. Beberapa gunung dengan ketinggian 2000-an meter dari permukaan laut telah dijajaki. Tapi, apa yang terjadi di malam itu, adalah sesuatu yang langkah bahkan tak pernah.

Makan malam, telah selesai. Briefing pun telah berlalu. Kini saatnya merebahkan tubuh. Kaki terkumpul menjadi satu tempat—saling berpangku. Seolah-olah saling panggil agar hangat. Badan tak bisa lurus. Semua mengambil posisi “tidur pistol”. Waktu semakin berceloteh. Terlalu lama rasanya, matahari menyinari gunung itu. Rindu menatap terik mentari, meskipun hanya di tatap dari selah-selah daun rindang. Rindu melihat biru langit tak berawan. Aaaahhhhh… rasanya ingin pergi ke matahari; mengikatnya, dan menarik ikatan itu hingga sinarnya—menyinari di mana jejak langkah berlabu. Tapi tidak. Itu satu hal yang mustahil.

Melihat di pintu masuk tenda. Abdi terlihat merontai-rontai seperti ulat nangka yang lagi kepanasan. Sesekali ia berbalik ke kiri. Sesekali pula ke kanan. Lalu ia meluruskan badannya dan menatap plafon tenda. Tak ada yang dilihatnya apapun di sana. Kemudian ia menengok kearahku. Ia berujar:

“Kapan pagi?”

Lalu saya menyahutinya, “tidurlah, niscaya pagi akan datang menjemput kita.”

“Jangan ba ribut baaaahhhh….!!!” Risman protes. Ia merasa terganggu.

So susah tidur—gara-gara dingin, kamu ba bicara lagi di situ. Ba ribut.” Risman menoleh kearah Abdi. Meski remang-remang, namun tubuh Risman yang dekil itu dapat terlihat.

“Tidur saja. Besok kita lanjutkan perjuangan lagi. Besok kamu orang mau loyo ba jalan kah?”  ujar Risman menambahkan. Lalu, ia membalikkan badannya kembali. Ia di telan kesunyian malam.

Tapi Abdi. Abdi masih saja terus-terusan merontai. Ia gelisah. Sepertinya ia lagi mengingat-ingat sesuatu. Tapi apa? Untuk memastikan. Saya mencoba bertanya:

“Kenapa kau gelisah, Abdi?”

“Dingin sekali,” jawab Abdi singkat.

Seketika terdiam. Di tenda sebelah—sepertinya mereka sudah berlabu dengan mimpi dan berharap: beberapa jam kemudian akan berjumpa dengan pagi. Berjumpa dengan matahari. Berjumpa dengan burung. Berjumpa dan saling menatap satu sama lain.  

Inilah kehidupan nyata di alam gunung. Berbeda jauh dengan kehidupan kota yang hingar—bingar dari kendaraan berbagai roda—bising dan terkadang menghilangkan kosentrasi. Tuhan telah menciptakan gunung itu, untuk menahan amukan gempa yang dahsyat. Tuhan telah mempersilahkan mahkluk lain untuk menjejakkan kaki di gunung sojol itu.

Dan kini, beberapa manusia yang lagi berjuang menahan dingin di gunung sojol itu—terbaring menunggu hilangnya pikiran.

Malam pelan-pelan beranjak, menuju subuh guna berjumpa dengan pagi.

Bantaya Lanoni, 30 Mei 2013

Bersambung ke bagian V

Leave a Reply