Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian V

Bagian V

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

65554_340775436032590_421707363_nHari ini adalah hari keenam kami menapakkan kaki di Gunung Sojol itu. Terlihat jelas di pagi itu: biasan cahaya melewati udara hangat ke wilayah udara dingin: fatamorgana.

Pagi yang cerah, namun jantung berdebar-debar. Tak ada alat untuk menghentikan debaran jantung. Ini bukan hal yang biasa terjadi. Jantung semakin berdebar, melebihi detak jam di tangan. Matahari semakin naik.

Peristiwa di pagi itu, hampir sama pada kejadian, beberapa tahun lalu. Di waktu menjelajah alam dengan penuh keluguan—seperti tak berdaya di antara: belukar, pohon-pohon besar, ilalang, kubangan Babi, panas, hujan, haus, capek, lapar, dan lelah. Dan, pada pagi ini, hal itu akan terjadi lagi.

Tapi, ada satu hal yang menarik; adalah, ini sebuah euphoria yang di dengung-degungkan oleh banyak orang, tentang nikmatnya menjelajah alam bebas. Petualangan yang mengasyikkan. Life is short, enjoy it while you can. Tapi, bukan berarti, hedonisme terlalu berlebihan, yang biasanya menggerogoti kaum intelektual di zaman sekarang ini. Setidaknya, menganggumi ciptaan Tuhan, dan mengarunginya, adalah tanda syukur kepada-Nya.

Setelah Fikar kembali melihat kertas plotting, ternyata hari ini tim harus mempersiapkan kekuatan lutut agar tak keseleo. “seharian, jalurnya menurun,” kata Fikar enteng. “Turunnya sangat terjal. Hampir sama dengan jalur Gunung Gawalise,” tambah Fikar.

Dan, semua terlihat membayang—masih terbayang-bayang jalur Gawalise yang cukup terjal itu. Tapi, tak ada yang perlu dikhawatirkan—meski jalur menurun. Karena sudah latihan sebelumnya. Hal yang di lakukan pertama di pagi itu adalah, mencoba mengerak-gerakkan badan yang kedinginan. Bermacam-macam caranya: Fikar yang memerhatikan jalur di kertas plotting sambil jalan—bolak-balik. Sandi, Sudi, Akbar, mengkipas-kipaskan pakaiannya yang basah di terjang hujan kemarin. Arman melipat tenda. Abdi melompat-lompat. Kiki mencari burung dengan berlari-lari kecil—bolak balik.

Kini, waktunya untuk membentuk lingkaran. Kedua tangan saling silang. Tangan kanan memegang tangan kiri kawan lainnya. Menundukkan kepala. Sandi yang memimpin Do’a di pagi itu.

Sesungguhnya; Sandy, Kiki, Risman, dan Arman, baru beberapa kali mendaki di gunung yang sejenis. Maksudnya, pengalaman mereka dalam mengarungi badai masih minim. Sehingga, sesekali mental mereka harus diperkuat lagi. Dan, itu tugas Akbar.

Jalur masih berair. Genangan air di lubang-lubang hasil galian anoa dan babi hutan membuat kami sesekali terjebak. Seperti topor kelihatannya. Ketika di injak—airnya muncrat hingga mencapai wajah. Anoa dan babi hutan itu, berhasil menjebak kami. Dan, Sandi, yang sering kena jebakan itu. Lain dengan Fikar. Ia sering menyambarkan pantatnya ke tanah berlapis lumut itu. Hingga sesekali ia mengeluh. Memaki-maki jalan yang licin.

Masih berbaris rapi. Berbaris seperti semut. Menahan sakitnya lutut. Jalur menurun. Licin pula. Akar, rumput, dan pohon-pohon kecil adalah alat yang disediakan Tuhan untuk menolong kami. Memegang erat; agar pelan jalannya.

“Kita harus berhati-hati. Jangan sampe ada yang cedera,” ungkap Akbar.

“Itu. Sandi yang harus lebih hati-hati.” Suara itu berasal dari belakang. Samar-samar kedengarannya.

Iyooo… kau yang  sering jatoh di kubangan babi, Sandi. Kau mesti lebih berhati-hati. Kalo cedera, nanti perjalanan kita, sudah tak teratur,” tukas Fikar. Ia menoleh kearah Sandi. Intruksi itu lugas.

Sandi sedikit tercengang. Lalu ia mengoyang-goyangkan kepalanya kebawah, lalu keatas. Tanda setuju.

Sebenarnya, digunung Sojol itu, adalah pencipta kayu eboni terbesar di Sulawesi Tengah. Namun, seiring berjalannnya waktu, pohon eboni menjadi langkah. Para pembabat yang tidak bertanggung jawab, meludeskan tanpa memikirkan masa depan generasi bangsa ini.

Fikar, yang sudah mengetahui tentang adanya pohon eboni di gunung sojol itu, tiba-tiba bertukas:

“Di sini banyak pohon eboni. Itu. Di sana satu!” ia menunjuk  kearah pohon besar—sekitar lima puluh meter dari arah depan kami.

“Yang mana dinamakan pohon eboni itu? Penasaran saya le,” kata Sandi, yang berjalan di belakang Fikar.

Semakin melangkah—semakin dekat pula pohon eboni itu. Fikar menghampiri eboni itu. Lalu ia mempresentasikannya:

“Ini dia yang namanya pohon eboni, kawan!” Fikar memegang pohon itu.

“Tingginya mencapai 40-50 meter. Diameter mencapai 100 centi meter. Tajuknya berbentuk selindris sampai kerucut. Kulit luarnya berwarna hitam. Dan, ketika bertambah umur eboni ini, maka ia akan mengelupas kecil-kecil,” lanjut Fikar. “Dan, hutan alam di bumi Sulawesi, jenis pohon seperti ini banyak di temukan. Terutama daerah yang memiliki curah hujan lebih dari 1500 mm.”

“Tapi kenapa cuma satu ini—di sini?” tanya Sandi. “Mana yang lain?”

“Lihat sana!” Fikar menunjuk kearah barat daya.

Woooowwww…”

“Siapa yang seserakah ini?”

*******

Satu, dua, tiga, empat, hingga puluhan potongan pohon yang hampir rapat di tanah terlihat jelas. Bertandakan, bahwa ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab memotongnya dengan mesin pemotong. Dan, tak menanamnya kembali, sebagai bentuk pelestarian.

“Kenapa orang-orang yang tinggal di atas pohon itu tidak melarangnya?” cetus Sandi.

“Kenapa ba tanya seperti itu? Pasti dorang takut. Pasti dorang lari mendengar suara mesin pemotong itu.”

Iyoo juga eee…!!” Sandi menambahkan lagi, “Tapi pemerintah di mana?”

“Apalagi pemerintah. Mana mau mereka mengarungi gunung. Naik—turun gunung, panas, dingin, berbahaya, capek. Nda yakin saya!” kata Fikar sambil tersenyum tipis.

“Tapi pohon eboni ini kan mesti dilestarikan. Kelak nanti, pasti ada yang butuhkan. Anak—cucumu. Anak—cucunya Akbar. Anak—cucuku juga, nda menuntut kemungkinan akan membutuhkan. Kalau sudah punah?”

Aahhhhh…. Cerewet sekali kau, Sandi. Kau anggap saya ini pemerintah?” Fikar melototkan matanya.

Adduuhhhhh…”

“Kenapa kau, Risman?” tanya Angry.

“Pacet le. Co liat so bengkak,” kata Risman sambil menunjukkan pacet yang melekat tak ingin lepas dari betisnya.

“Itu juga satu eeee…” tunjuk Sandy di betis kanan Risman.

Satu persatu dengan cepat memeriksa badannya. Terutama bagian kaki. Pacet memang sering jail. Mengisap darah tanpa permisi. Hasilnya pun gatal-gatal. Mesti sesekali mengecek betis.

Sejak pagi tadi, matahari timbul—tenggelam. Segan menampakkan wujudnya dengan jelas dan lama. Hujan pun tak turun menemani jejak langkah kami. Korelasi antara iklim dan dunia tumbuh-tumbuhan semakin jelas. Bahwa di sini kami menemukan species pakis. Banyak sekali pakisnya. Semakin dekat—semakin jelas. Deruh sungai pun mulai terdengar. Sekarang berada di lembah. Ada pondok petani di sana. hampir rebah. Lapuk semua tiangnya. Atapnya sudah tak ada. Di makan panas dan hujan.

Bantaya Lanoni 1 April 2013

Bersambung ke bagian—VI 

Discussion

  1. eda

Leave a Reply