Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian VI

Bagian VI

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

dfgtyHari sudah siang. Akbar melihat dengan tajam wajah kami satu persatu. Ia layaknya burung hantu sedang mengintai mangsanya yang bersembunyi di balik batu karang. Entah apa maksudnya. Seketika kulihat di samping kananku—Sudi sedang membuka carier nya berwarna hitam itu. Hendak mengambil buku dan pena. Di sisi kiriku duduk berjejer beberapa orang sedang membalas tajam tatapan Akbar—dengan olengan kepala ke kiri dan ke kanan. Ada juga yang memancungkan mulutnya sambil mengunyah permen karet.

Angin-angin nakal kini melambai-lambaikan rambut Angry, sesekali menyapu bersih wajah Sudi yang sibuk mencatat. Sudi mengerutkan jidat.

Farid, memiliki fostur tubuh besar agak kekar—berjenggot tebal—mengikuti Sunnah Rasul itu, sesekali menjebak asap rokok di rimba jenggotnya. Lama keluar asap itu. Ia menengok keatas. Ia menikmati rokok itu. Hari ini, banyak kesialan yang menimpalinya.

Beberapa gelas yang terisi kopi telah tersedia. Tegukkan demi tegukkan dinikmati. Amboi sangat di siang itu. Gumpalan-gumpalan asap rokok bertebaran di udara—menciptakan polusi udara lagi. Sebuah ungkapan manis terdengar dari arah belakang, seakan membuka pikiran dan semangat baru kami, bahwa di dunia ini masih banyak yang harus kami lakukan untuk berbuat baik terhadap sesama. Beberapa orang hanya terbengong—menyimak dengan seksama yang diikuti oleh sentuhan pena di atas kertas Sudi. Harapan-harapan itu kemudian di bungkus rapi dalam semangat diri masing-masing.

Langit biru seakan mulai tertutup saat itu. Hujan seolah-olah tak sabar turun membasahi bumi. Bunga angrek yang melekat di pohon, tepat di atas kepala Farid—kini  mulai bergembira menyambut butiran hujan. Dering bunyi cacing dalam perut kini semakin besar. Cacing memberontak. Mereka bernyanyi dan menari begitu lincah meminta makanan. Sebab semenjak tujuh jam yang lalu, perut ini hanya di isi oleh sodoran kopi kampung. Kopi itu bercampur pedis dan berbau kayu manis. Sehingga para penikmat nya bisa-bisa ketagihan. Juga, ada beberapa snack yang masuk kedalamnya.

Di arah utara barat laut, terlihat begitu luas lahan terbuka menyerupai lapang. Tanah lapang  itu semua  telah terisi pakis. Pakisnya subur-subur. Kupu-kupu bertebaran diatasnya. Warna hijau dan hitam kupu-kupu itu. Nampaknya, capung-capung juga ikut bermain. Banyak sekali spesies di lapang itu.

Kini perjalanan mesti dilanjutkan. Anto terlihat lelah. Saya  memperhatikan matanya. Tak ada warna hitam. Tetap meliriknya dengan teliti. Semakin dekat. Dekat. Dan lekat. Tapi tak ada. Semuanya memutih pucat—pasih.

“Hitam matamu, sembunyi di mana le?” Anto berdiri terdiam begitu lama, seolah-olah akan roboh. Kasihan melihat dia.

“Pegang kuat-kuat ujung kayu ini. Nanti saya yang bantu menahan kau, Anto,” ungkap Farid, yang sebenarnya ia juga tak sanggup menahannya.

Mata Anto meredup menahan sakit lututnya. Ia sepertinya keseleo. Jalur menurun. Licin pula.

*******

Sampai di sungai. Batu-batu besar bergelimpangan. Pohon pakis masih tersedia.

“Apa masih ada persediaan air?” tanya Fikar singkat.

“Isi botol saya tinggal setengah,” jawab Farid.

“Kalau begitu, isi full.

“Aaaahhh… ini ada dua. Siapa punya botol satu ini? Kenapa bisa di dalam carier ku.” Farid mengangkat botol aqua besar itu. Lalu ia tersenyum tipis. Ia merasa di jebak.

Semua berpikir-pikir. Mengingat-ingat.  Tapi lain dengan Angry. Ia hanya tersenyum-senyum tipis memandang kesegala penjuru mata angin. Sebenarnya, Angry yang memasukkannya ke dalam carier Farid. Angry memang suka jail. Dan, kali ini, Farid yang kena giliran jailnya. Tak lama kemudian, Angry bertukas:

“Oohhhhh… saya tau botolnya Fikar itu. Hahahahahaha….”

Fikar kaget mendengar perkataan Angry. Ia lalu menurunkan carier nya dan memeriksa isinya. “Oohhh.. iyo, botolku itu. Sorry le, Farid. Hahahahhahaha….”

Farid ikut tertawa, “…hahahahahahahahaha…” 

Mata Fikar menjalar kesana-kemari. Melirik pakis yang ranum menurutnya. Fikar memang suka sayuran. Apalagi pakis. Memakannya dengan mentah pun, bisa jadi. Tak heran, sewaktu kecil, ia sudah suka makan sayuran. Sehingga, ibunya harus menyisihkan sedikit waktu mencari sayur di ladang. Jika tak ada, maka ibunya harus rela mengeluarkan uang, untuk membeli ketetangga.

Fikar sesegera mungkin menyusuri padang pakis itu. Ia memetiknya satu-persatu. “Persediaan makan malam,” katanya. Ia melanjutkan:

“Kamu orang nda ba ambil pakis?”

So ada bête torang le!” sahut Farid.

“Dari kemarin, rupa makan bête trus. Lama-lama kita jadi bête juga,” ujar Fikar. Sedikit menyindir.

“Hhhhhuuuuu… kau kaya vegetarian saja,” balas Farid menyindir.

“Heeiii…kawan! Kau tau, apa yang terkandung di pakis ini?” seru Fikar. Ia mengangkat beberapa ikat Pakis. Seraya menunjukkannya kepada kami—terutama kepada Farid.

“Apa?”

“Tinggi proteinnya, bro! Nutrisi yang terkandung di daun pakis sangat tinggi, bro!”

“Karbohidratnya?” tanya Angry.

“Ada juga. Bahkan ada; serat, kalsium, fosfor, besi, dan vitamin C. Tapi ada lagi satu,” tukas Fikar, tersenyum.

“Apa itu?” tanya Farid penasaran.

“…hahahahahahhaaaiiiii…”

“Apa eeee…?” Angry juga semakin penasaran.

“Lemaknya, bro, rendah. Kamu harus tau itu eeee…” jawab Fikar enteng.

Farid menggoyang-goyangkan kepala. Mungkin ia sepakat. Farid sudah tahu. Dan, semua tim ekspedisi itu sudah tahu, bahwa Fikar, mahir soal sayur-sayuran. Bahkan, yang boleh dan tak boleh di makan dalam hutan pun ia tahu. Dulu, ketika ia lulus sekolah menengah, ia sempat menganggur selama  dua tahun. Kurung waktu dua tahun itu, ia sering ikut bersama orang-orang dikampungnya untuk berburu rusa di hutan rimba. Dan, kelompok berburu itu mengajarkan Fikar yang bisa di makan di hutan. Sekarang, giliran Fikar mengajarkan kami.  

“Ini kondisi objektif, Farid. Kau nda bisa ba bantah. Pakis ini, umum di makan orang. Tuhan sudah menyediakannya. Kita harus memanfaatkannya. Kau mau turun ke kampung beli mie goreng?”

“Baaahhh… nda juga begitu le. Ko kira dekat? Jauh nanti itu!”

“Hhoiii… nda usah baku bantah di situ. Mari jo, ramerame kita ba ambe pakis,” ajak Anto.

*******

Lalu, seketika menyerbu—mengerumuni pakis yang disediakan Tuhan itu. Masing-masing memperoleh dua ikat sebesar botol kecap. Mengisinya ke kepala carier, dan berangkat.

Kini, menyusuri sungai beberapa meter. Kemudian menyipir. Lalu mendaki sedikit. Hanya sekali tarik gas. Lalu, turun lagi. Di sana, jejeran rumah kembali terlihat. Banyak anak-anak yang bermain di bawah pohon-pohon. Tapi lumutnya sudah tak sebanyak kemarin. Anak-anak itu tak memakai baju. Farid sedikit terheran. Ia terhenti berjalan. Dan, ia menengok kebelakang.

“Kenapa?” tanya Fikar datar.

“Saya Cuma heran le. Kenapa, masih ada penduduk di sini,” ujar Farid.

“Sudah jalan saja,” selah Anto.

Anak-anak itu melihat kami dengan aneh. Mereka segera berkumpul. Menatap tajam. Lalu berbisik-bisik. Seolah-olah mereka berkata, “apakah orang-orang ini yang akan memberikan kita beras? Apakah  orang-orang ini, datang menyelamatkan hutan kita yang hampir habis di babat? Tolong kami! Kami tak mampu berbuat apa-apa. Perut kami buncit, bukan karena kekenyangan, melainkan karena cacingan. Kami tak kuasa lagi. Sesungguhnya, kami ingin sekali ke hilir, tapi apa yang kami miliki di sana? Tak ada! Tak ada tanah kami di sana, untuk kami bercocok tanam.

“Kita nginap di sini saja,” kata Akbar.

Iyoo sepakat,” jawab Farid menyetujui.

 

Bantaya Lanoni, 2 Juni 2013

Bersambung ke bagian—VII

Discussion

Leave a Reply