Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian VII

Bagian VII

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

Seperti biasanya, jika manusia bertemu pertama kali dengan manusia lainnya, pasti agak canggung dan malu-malu. Namun, lama-kelamaan akan saling kenal dan akrab.

drtry756Orang-orang yang tinggal di hulu itu, sesekali menengok kearah kami, yang sedang membangun tenda. Belum pasti, apakah mereka malu, ataukah mereka takut. Itu prilaku orang dewasa. Sementara, anak-anak mereka, segera berkumpul dan menonton di dekat kami. Dekat sekali. Seolah-oleh mereka sedang menyaksikan film Cartensz Siedma Hora di bioskop terkenal di kota-kota besar. Mereka duduk dengan santai sambil melihat kami yang super sibuk.

Tak lama kemudian, orang-orang dewasa itu, ikut berbaur, bahkan ada yang membantu kami mencari kayu bakar. Pak Jemi salah satu dari mereka. Kumisnya tipis. Pakaiannya compang-camping. Hampir sama dengan pakaian lainnya. Ia kepala suku di sana. Ia akrab dan peramah. Angry, yang sedikit paham bahasa mereka, tiba-tiba berujar:

“Permisi le kitorang mau nginap di sini untuk sementara.”

“Ooh… iyo. Kamu orang ini, dari mana?” tanya Pak Jemi.

“Kami mahasiswa dari Palu.”

“Ooohhhhh…” Pak Jemi menggoyang-goyangkan kepalanya.

Abdi, yang terkejut ketika Pak Jemi bisa berbahasa Indonesia dengan baik, tiba-tiba bertanya: “sudah lama kita tinggal di sini le?”

Iyo. Kira-kira lima tahun begitu. Tapi biasa pulang ke Pante Timur juga.”

“Oohhh… dari Pante Timur kita?”

Iyo!” jawab Pak Jemi singkat. Ia kemudian mengumpulkan kayu-kayu kering.

Pak Jemi berhijrah ke gunung itu, karena lahan kebunnya di rampas oleh perusahaan tambang. Tak ada ganti rugi. Ia tak kuasa melawan. Kawan-kawannya pun ikut berhijrah keberbagai daerah. Dan, ada beberapa yang mengikuti Pak Jemi.  

Bagi orang-orang seperti Pak Jemi, saat ini banyak dijumpai di berbagai daerah. Tak ada keadilan bagi mereka. Keputusan terakhir adalah lari ke hulu.  Di hulu, mereka menemukan ketenangan lebih. Tapi sesekali terusik oleh penebang liar. Serakah dan tak bertanggung jawab. Para komprador hilir itu, menghancurkan masa depan mereka. Memupuskan mimpi untuk menyekolahkan anak mereka. Padahal, mimpi-mimpi itu sudah di kemas Pak Jemi sedemikian rupa. Dibingkai dalam schedule jangka panjang Pak Jemi.

Di balik bayang-bayang mata Pak Jemi, terlihat jelas ia telah mengubur impian. Sorot matanya yang tajam menyemburkan satu harapan yang telah pupus. Menuai kecaman yang teramat perih. Jika bisa dibandingkan, maka ia sama dengan seekor ayam yang di potong berlahan-lahan dan urat nadinya tak putus. Matinya pun lama dan siksa. Ia juga bagaikan anak-anak sungai yang tak menemukan muara. Ia tersesat. Ia mencari keadilan di hutan rimba yang tak punya pengadilan. Ia mesti menemukan jati diri dalam kungkungan kerahasiaan nasibnya. Seketika ia tertunduk kaku. Air matanya seperti turun menyentuh bumi, tapi bumi tak menerimanya.

Matahari berangsur-angsur lenyap meninggalkan gelap. Deru—haru—pilu menyelimuti di ketinggian seribu meter dari permukaan laut itu. Jangkrik berkerumun menyaksikan. Bunga angrek telah kuncup. Ranjau cacak yang di pasang Pak Jemi pagi tadi, kini telah berbaring menyerah.  

So boleh kase menyala api le.” Arman berujar dari dalam tenda. Semenjak lima menit tadi, ia merapikan bagian dalam tenda.

“Sudah, Arman. Co kau ba liat keluar,” seru Angry. Ia membuka pintu masuk tenda. Seraya menarik tangan Arman: segera keluar.

“Tunggu, masih banyak yang mo dirapikan ini.”

Baaahhhnda perlu juga kau keluar, Arman. Kerjakan saja tugasmu itu. Sesungguhnya kau adalah manusia mulia, Arman,” ujar Abdi sambil membetul-betulkan kayu, agar nyala api membesar.

Huuuuuffff, ba patende[1] lagi komiu[2] le,” sanggah Arman sambil tersenyum tipis merekah.

Sementara, Pak Jemi terlihat lagi membantu Abdi. Anak-anak kecil tadi duduk—berkumpul. Kedua tangan saling ikat—merangkul kedua kaki. Lutut menyentuh dagu.  Mereka seperti—berharap  mendapat jatah nasi malam ini.

Malam telah tiba. Senduh sangat menyelimuti suasana di waktu itu. Menangkap dan menerjemahkan keheningan yang berbalut—kabut sangat sulit. Memutarbalikkan logika se-normal mungkin, untuk menerjemahkannya pun—seperti saat memanjat hujan. Dering relung alam tak menggoyahkan gendang telinga, yang lagi fokus memandang api dan bara. Menunjukkan, bahwa  semuanya tetap fokus pada satu titik. Titik itu mengambilalih semua konsentrasi wujud pikiran alam bawah sadar.

Suasana hening pecah, ketika Abdi bertukas:

So masa nasi barangkali!”

“…Hhhhhmmm,  kebetulan cacing dalam perut so mengamuk eeehhh…,” keluh Arman dari balik api unggun.

“Tugasmu yang bagi rata makanan, Arman,” ujar Akbar.  

*******

Kabut telah pergi jauh dari pandangan mata. Bintang bertaburan di langit biru, dibayangi oleh daun-daun yang polos seakan tak berwarna. Mengukir keindahan bertajuk alam. Mata seakan tak ingin berkedip; menatap bintang berkelompok-kelompok. Ada juga yang berserak.

“Ini pandangan yang menakjubkan. Langkah sekali.” Abdi bersenduh. Ia berbaring di atas matras seukuran badannya itu.  

Iyo, saya sepakat. Almarhum Soekarno pun sangat sepakat,” gurau Arman.

“Apalagi Soe Hoe Gie,” ujar Abdi. “hahahahahaha,” tambah Abdi tertawa.

“Hahahahahaha…” balas Arman.

Mereka berdua berbaring bersampingan di atas matras. Mengukir keindahan alam di malam itu, memang sesuatu kejadian yang teramat langkah. Mereka seolah-olah kembali ke masa kecil yang sudah lama tertutup. Mereka hanya  mampu mengenang—melalui media yang disediakan Tuhan. Mereka menentang dingin.

“Pernah kau lihat pemandangan yang seperti ini, Arman?” tanya Abdi.

“Sebelumnya nda pernah le. Kalau kau?”

“Saya juga.”

Tiba-tiba terdengar dari dalam tenda; suara merdu—berserak-serak basah:   

 Sejuknya embun pagi. Sesejuk jiwa kami.

Cerianya canda satwa, seceria canda kami.

Terangnya sang mentari, seterang hati kami

Rindunya hati ini, akan kedamaian

Yang kan slalu terpanggil oleh keadaan,

Dan tak mungkin terhalangi, oleh keadaan,

Kami anak generasi pecinta alam.

Yang akan slalu menyatu dengan lingkungannya,

Kami anak generasi, Kumtapala

Jayalah engkau selalu, dalam kedamaian.

Suara itu dititipkan Tuhan kepada Angry.

*******

Suhu, tak sedingin beberapa malam lalu. Kayu-kayu sudah tak berlumut tebal. Hembusan angin, kini melambai-lambai menyentuh tubuh, tapi terkalahkan oleh panasnya api unggun yang berkobar besar. Kunang-kunang bertebaran memancarkan cahaya khasnya. Banyak kunang-kunang itu. Hinggap di daun-daun. Menari-nari dan kemudian saling kejar. Hingga hilang di telan siang.

Bantaya Lanoni, 03 April 2013

Bersambung ke bagian—VIII


[1] Patende (Bahasa Kaili) puji, memuji.
[2] Komiu (Bahasa Kaili) kau, kamu, anda.

Discussion

Leave a Reply