Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian VIII

Bagian VIII

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

b,Jika beberapa hari lalu; bangun dan langsung mendengar suara bising kekuatan teknologi Jepang, maka di sini; suara mesin-mesin berbagai macam roda itu tak terdengar. Jauh dari jangkauan pencipta polusi udara itu. Kekuatan magnet alam, sesungguhnya satu kekuatan penenang jiwa, penentram pikiran. Jika di kota-kota besar, kita banyak menganggumi kekuatan kerlap-kerlip lampu kota, maka di sini, di alam ini, dengan pemandangan yang menakjubkan, kekuatan lampu kota pasti terkalahkan. Monotonistik pemandangan lampu kota membuat para pengagumnya jenuh dan pasti akan berpaling.

Ketakjuban mata melihatnya, membuat mata seakan tak berkedip. Pemujian dari nurani, kepada sang pembuat lukisan alami itu selalu terlantun. Tuhan memang maha agung; menyediakan berbagai macam lukisan untuk mata dan jiwa, yang tak pernah jenuh. Gunung Sojol, memiliki banyak lukisan Tuhan. Mengukur dan membandingkan dengan lukisan buatan manusia—pun tak terkalahkan. Alam semesta. Alam yang sungguh menakjubkan.

Menurut alat pengukur ketinggian yang paling canggih buatan asing itu, bahwa ketinggian Gunung Sojol mencapai 3000 meter dari permukaan laut. Bisa dibayankan dinginnya. Bisa dibayankan seramnya. Bisa dibayangkan, apa saja yang terlihat di sana. bisa dibayangkan, bagaimana perjuangan mencapai puncaknya.

Membayangkan mudah. Cukup mudah! Tapi, mengarunginya, bisa dipastikan susah. Dan, Tuhan telah memerintahkan kita, untuk mengarungi jagad raya ini. Untuk mengarungi ciptaannya.

Saya, bersama dengan sebelas penjelajah alam lainnya—sudah beberapa hari menempuh itu. Menempuh hutan belantara. Melawan panas, dan dingin. Menentang badai hujan dan angin. Bergelut dengan ganasnya pacet.

*******

Dari sudut kiri bebatuan besar nan hitam, Pak Jemi duduk melamun meratap nasib. Ia seolah-olah terjebak dalam kebimbangan yang berkepanjangan. Tak ada alasan untuk tidak memikirkan, bahwa ia sering tersandung batu dalam mengarungi hidup. Ia juga seolah-olah tak menerima samudera, yang mampu menampung air yang banyak. Ia sepertinya, tak menerima kupu-kupu yang beterbangan tersenyum kepada sesama. Atau, ia sepertinnya tak menerima semut, yang saling sayang, dan menghargai jika bertemu. Ia sepertinya tak terima semua!

Di pagi hari yang buta itu. Cadas menjadi saksi bisu atas linangan air mata Pak Jemi. Matahari pun telah pernah menjadi saksi di waktu Pak Jemi bersendu. Ahhh…! Ia seakan berdoa, “Ya Tuhan. Kenapa Engkau ciptakan manusia yang tak sayang dengan manusia. Kenapa Engkau biarkan manusia mengusir manusia. Kenapa Engkau biarkan mereka serakah? Tuhan. Kuburan anak dan istriku ada di sana. Dan, saya yakin, manusia-manusia serakah itu, pasti sudah menggusurnya. Sekarang, saya di sini! Di sini yang hanya mampu mengenang, di masa-masa ketika saya, anakku, istriku bercengkerama dan bermain bersama.”

Bunyi titik-titik air mata yang jatuh, masih berlanjut. Terlihat jelas memang, bahwa  Pak Jemi teringat akan masa lalunya itu. Sebetulnya, ia tak ingin lagi mengingatnya. Tapi, ia tak mampu melupakan. Masih terbayang-bayang. Rasanya ia ingin berdiri, lalu berteriak sekeras-kerasnya. Tapi malu terdengar oleh masyarakatnya. Karena ia adalah seorang pemimpin. Dan, ia juga pasti malu kepada  kami di sana—di arah timur laut tempat ia berkeluh. Rasanya ia ingin mengubur semua kenangan manis yang telah tercerai—berai menjadi abu. Tapi, ia tak tahu, harus mengubur di mana?

Sesekali ia mengambil bebatuan kecil. Lalu ia lemparkan tak jauh dari tempatnya ia merenung. Ia mengambilnya, lalu melemparkannya.

“Pak Jemi, nda usah terlalu larut dalam kesedihan pak. Bapak harus bangkit! Bangkit dari keterpurukan. Buat bingkai kehidupan yang baru. Karena yang lama so rusak. Ayolah pak!” pinta Anto, yang juga hampir meneteskan air mata.

Pak Jemi masih terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa.

“Kalau kita masih terlarut dalam kesedihan ini. Masih mau di kasih panjang. Kita akan susah trus. Tidak berubah. Tidak berkembang. Saatnya keluar. Tuhan sudah atur semua. Jangan menyerah, pak!” ujar Arman dari samping kiri Pak Jemi.

“Apa yang kamu orang pahami dari masalahku? Kamu orang masih anak-anak. Apa bisa ba bantu?” bentak Pak Jemi. Air matanya bertambah deras, menyentuh cadas-cadas yang bergelimpangan.

Anto meneteskan air mata pula. Ia tak kuasa membendung air matanya.

“Begini, Pak Jemi. Kami memang nda bisa bantu apa-apa tuk Pak Jemi. Tapi, saya punya saran, jangan Pak Jemi begini trus. Kasihan masyarakatnya Pak Jemi. Pak Jemi kepala suku di sini kan?” tukas Anto.

“Ahhh… persetan dengan kepala suku.”

Trus. Pak Jemi biarkan masyarakatnya Pak Jemi, ikut bersedih juga?”

Dorang nda tau!”

Nda tau?” tanya Anto kembali.

Iyo!” jawab Pak Jemi singkat.

“Pak Jemi! Coba kita liat ke samping kanan…”

Ternyata, di sana, semenjak beberapa menit lalu. Masyarakatnya sedang berkumpul, ikut menyaksikan Pak Jemi duduk termenung, bahkan mengeluarkan air mata kesedihan. Masyarakatnya pun ikut mengeluarkan air mata. Tak jauh. Tak jauh dari arah Pak Jemi mengumandangkan kesedihan itu.

Kini, alun-alun samudera kesedihan Pak Jemi telah bertepi di hembus angin kata-kata dari Anto. Kata-kata itu hingga berbentuk kalimat—membentuk kembali mental Pak Jemi yang telah rapuh. Retak—terpecah.  Raut wajahnya kembali cerah, namun bisa dipastikan, bahwa di lain hari, ia kembali merenunginya.

Anak kedua Pak Jemi menghampiri. Namanya Marti. Umurnya—seumur anak kelas lima Sekolah Dasar. Rambutnya acak-acakan. Tak tersisir. Agak memerah. Matanya sedikit meredup. Perutnya buncit. Kuku tangan dan kakinya kotor. Tak terawat. Tak seperti anak-anak diperkotaan. Marti menangis meminta makanan. “Lapar,” katanya sendu.

Mendengar Marti meminta makanan. Air mata Pak Jemi kembali membasahi cadas. Ternyata, Pak Jemi belum menyiapkan sajian makanan pagi itu. Bahkan, persediaan tak ada. Ia mesti menggali ubi yang menjalar dan berisi di balik tanah. Itupun jauh. Melewati satu punggungan gunung lagi. Sebenarnya, Marti sudah terbiasa tak makan pagi. Bahkan, seharian—sekali makan. Tapi, hari ini, entah apa, ia begitu lapar. Ia tak tahan.

Risman terenyuh. Ia berbalik kearah kami. Ia meminta mengeluarkan beberapa bungkus mie instant dari dalam carier. Hanya tiga bungkus dipintanya. “Kasihan si Marti. Ia lapar,” katanya.

“Kalau bisa, keluarkan juga beras le,” tambahnya.

“Untuk?” tanya Kiki.

Kase dorang. Sebungkus saja!”

Maka, Kiki membongkar kembali carier nya. Ia mengeluarkan tiga bungkus mie instant dan sebungkus beras. Yang di bungkus dalam plastik berdiameter dua kali botol kecap.

*******

Berlahan-lahan, kabut itu naik lagi. Menutupi kisah pilu di pagi itu. Nampak, wajah muram Pak Jemi tadi telah berubah drastis.

“Terima kasih le!” ucapnya disaat Risman memberikan secuil logistik kami.

“Sama-sama, Pak Jemi. Terima kasih juga sudah mengizinkan kami untuk numpang di sini. Terima kasih so ba bantu.”

“Eeehhhh… di mana kebunnya komiu?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan mereka.

Boohhhh… di situ eeee, dekat saja!” jawab Pak Jemi.  Ia menunjuk di balik punggungan—arah utara timur laut—seolah dekat.

Hammaa… jauh itu le. Baru liat itu depe punggungan so jauh, apalagi mau ba jalan!”

“Baaahhhh…saya ba jalan kesana cuma sekitar sepuluh atau lima belas menit, so sampe. Apalagi kamu orang yang masih muda!” ujar Pak Jemi meyakinkanku.

Punggungan yang di tunjuk Pak Jemi memang terlihat jauh. Apalagi melangkahkan kaki kearah sana. Bisa dipastikan, bahwa sebotol aqua yang berukuran 1,5 liter akan ludes—menganti cairan keringat yang keluar.

*******

Kosentrasi kembali beralih. Gendang telinga kini menangkap suara tangisan anak. Suara itu berasal tak jauh dari kami yang lagi ancang-ancang ingin bercakap-cakap. Suara itu memanggil:

“Papa…Papa…Papa…!” suaranya semakin mendekat.

Ternyata suara itu  berasal dari Marti. Ia berlari sekencang mungkin. Bahkan tak mau kalah dengan angin yang berhembus. Dekat. Semakin dekat. “Papaaaaa….” panggilnya.

“Kenapaaa?!” tanya Pak Jemi.

“Mainanku di ambil om itu!” ujar Marti menangis. Sambil menunjuk ke arah Anto.

Nda apa-apa Marti om itu, mau ajak kau bermain.”

“Tapi om itu ambil mainanku.” Marti langsung merebah kepangkuan Pak Jemi yang lagi duduk. Ia lepaskan keluh kesahnya disana. Marti marah.

Ternyata, semenjak tadi, Anto terus-terusan menjaili Marti, dan teman-teman sebaya Marti. Meski usia Anto mencapai 24 tahun—di tahun 2010. Namun, ia masih suka bermain dengan anak-anak. Anto memang suka bermain dengan anak-anak. Ia lihai menyesuaikan diri kepada manusia manapun: orang tua, remaja, dewasa, anak-anak, atau bahkan pada bayi. Tapi, hari ini, ia melakukan satu kesalahan fatal. Buat Marti menangis.

Bantaya Lanoni, 5 Juni 2013

Berambung ke bagian—IX  

Discussion

  1. noe

Leave a Reply