Di Balik Kabut Gunung Sojol: Bagian IX

Bagian IX

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

kuyfkuy“Kar, apa yang komiu tau tentang hujan?” tanya Akbar di selah-selah perjalanan.

“Haaaaa…hujan?” tanya Fikar terkejut.

Iyo. Hujan! Komiu tau hujan itu, berasal dari mana?”

“Hujan berkawan baik dengan matahari.”

“Aaaahhh… apalagi hubungannya itu?” tanya Akbar keheranan. Ia berpikir-pikir keras.

“Tugas matahari yang mengirimkan panasnya ke bumi, untuk menguapkan air yang ada di bumi,” jawab Fikar sambil tersenyum-senyum tipis.

Nda mengerti saya le,” ujar Akbar. Ia mengerutkan jidat. Ia masih berpikir-pikir keras. “Bisa komiu jelaskan?” lanjut Akbar—penuh penasaran.

“Jadi begini.” Fikar terdiam sejenak. Ia menghela nafas. Akbar masih menunggu.

Kemudian Fikar melanjutkan:

“Semua jenis air, baik air laut, maupun air sungai, mengalami proses penguapan atau evaporasi. Air tersebut kemudian menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bergabung bersama uap-uap air yang lain.”

Trus?” 

“Uap-uap tersebut, mengalami proses pemadatan, sehingga terbentuklah awan. Dan, awan-awan itu terbang kesana-kemari, hingga bergabung dengan awan-awan lainnya.”

Fikar seketika terdiam. Ia terlihat mengingat-ingat. Melihat keatas. Ia ingin melihat awan-awan, namun tak bisa. Terhalangi oleh dedaunan yang rapat.

“Bagaimana sehingga menciptakan hujan, Kar?” tanya Akbar kembali.

“Naaahhh…awan tadi itu, menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah dan kemudian membentuk butiran  air. Trus, karena terlalu berat dan nda mampu lagi ditopang angin, akhirnya butiran-butiran air  tersebut jatuh ke permukaan bumi,” jelas Fikar.

“Itu disebut proses apa?”

“Proses presipitasi.”

“Ooohhhh…”

Akbar terlihat puas atas penjelasan itu. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya. Mereka berjalan berdua paling depan.

Daun keladi di samping kiri—kanan masih tersimpan embun berbutir-butir ditengahnya. Tak lama lagi pasti akan hilang di sambar matahari.  

Percikan matahari itu terlihat dari halauan awan yang gelap. Awan itu berseru—tertiup angin di pagi hari—menjelang siang. Kekakuan alam terpecah semenjak subuh tadi. Ketika badai menyapu bersih pohon-pohon yang berdiri tegak, tapi sesekali menyerah.

Akbar, dengan tinggi menghampiri dua meter itu—berjalan seperti tak seimbang. Terkait sedikit kakinya, maka tubuhnya menyambar tanah. Telah berulang-ulang kali pula kepalanya tersangkut duri rotan. Untung saja, Akbar memakai topi rimba. Seperti topi petani sawah. Melebar sayap-sayapnya keluar. Bulat. Akbar leader di hari itu. Ia berjalan sempoyongan. Parang disimpannya di samping carier. Celana rimbanya sudah sobek-sobek. Bajunya penuh becek. Sesekali ia termehek-mehek. Sesekali pula ia menimpali pohon yang tumbang melintasi jalur. Yang lain pun mengikuti. Seperti anak-anak lagi bermain tali. Satu persatu melompat. Lalu menengok kebelakang—sekedar menyaksikan kawan lain yang melompat. Yang tak beruntung, adalah Sudi, karena ia berjalan paling belakang. Maka, yang ditengoknya; tak ada. Tapi, satu keistimewaannya adalah, ia melihat dari belakang—semua melompat.

“Saya mau balik le,” ujar Akbar .

“Kemana?” tanya Sudi keheranan.

“Mau lompat lagi. Hahahahaha….”

“Aahh.,. nda usah macam-macam komiu itu. Kita lanjutkan saja perjalanan ini,” seru Sudi meminta tim harus teruskan perjalanan.

Semua menengok kearah Sudi. Dan, Sudi terlihat heran ketika itu. Mengapa semua menengok kepadanya? Entah apa. Yang jelas, tingkah seketika berubah. Dan itu seketika. Sudi menunduk malu. Seperti bunga putri malu jika di sentuh. Atau ketika mendekati kura-kura. Kepala kura-kura itu disembunyikannya.

*******

Akbar tersenyum tipis. Ia berbalik. Melangkahkan kakinya lagi. Saya pun menyusulnya. Yang lain? Pasti menyusulnya.

Dari arah depan lumut tebal telah menanti. Istana lumut. Kami menyebutnya seperti itu. Cukup luas. Semua terisi lumut. Pohon-pohon, dari pohon hingga daun, semua berlumut. Batu-batu terlapis lumut. Apalagi tanah. Mata seolah tak berkedip memandangnya. Hanya mampu terpukau. Baru kali ini, saya melihat pemandangan seperti itu. Bisa dipastikan, semuanya seperti itu. Saya kemudian mengeluarkan kamera. Kebetulan, saya bertanggung jawab untuk mendokumentasikan perjalanan melalui gambar. Mengambil dari seluruh penjuru arah. Seketika, satu persatu ingin menjadi salah satu objek di tempat itu:

“Saya lagi,” teriak Akbar yang berusaha berdiri dari duduknya.

“Cepat,” seruhku.

Maka, Akbar sesegera mungkin berdiri di atas batu. Batu itu cukup besar. Bisa menampung dua sampai tiga orang. Dan, Sudi pun menyusul Akbar. Ia juga tak mau ketinggalan dari moment istimewa itu.

Cuaca semakin tak bersahabat. Uapan air mungkin terlalu banyak. Sehingga awan hitam itu, kembali terbentuk dan menyemburkan hujan. Ada kekhawatiran yang lebih jauh dari raut wajah Akbar. Raut wajahnya berbeda dari hari kemarin. Ia seperti terkurung dalam kecemasan. “Ada ancaman badai lagi hari ini,” kata raut wajahnya itu.

*******

Jejak-jejak Anoa masih terlihat di sana. Kotorannya yang masih membasahi tanah berlumut itu, mengakibatkan Arman harus segera merapat dengan Akbar. Jejak itu, seperti baru beberapa jam lalu. Arman was-was. Juga dengan yang lain. Anoa, juga salah satu binatang buas di hutan itu. Maka, sesekali akan mengancam jiwa. Akan membuat cedera. Jika cedera, pasti perjalanan akan lambat. Selain dari jejak Anoa. Jejak babi hutan juga terlihat jelas. Itu terlihat dari kubangan yang mereka buat. Hingga membuat air tergenang di kubangan itu.  

Membuat hati bergejolak. Tak karuan dalam melangkah. Mental hampir tersingkir. Kadang-kadang mata melotot dan telinga harus dipertajam lagi. Agar jelas. Jika binatang buas itu menyerang, maka mudah untuk menghindar. Jika suara seperti langkah berlari dari arah belakang—Arman dengan secepat mungkin membuka carier nya dan langsung memeluk pohon: memanjat. Meskipun pohon itu penuh lumut tebal, Arman tak pedulikannya.

Suatu ketika:

“Awas ada babi…” teriak Akbar dari depan. Ia berbalik dan berlari kebelakang.

“Mana… mana…?!” tanya Arman, sambil membuka carier dengan bibir tak berdarah. Ia langsung menyambar pohon. Memanjatnya setinggi mungkin. Tapi, pohon itu lapuk. Dan tumbang bersama Arman. “Aaarrrrggghh…” terdengar suara Arman berteriak.

“Kenapa kamu, Arman?” tanya Akbar seolah-olah ia tak mengetahuinya.

Arman tak menjawabnya. Ia masih bersembunyi di balik akar pohon di balut lumut. Pohon tadi, hanya terdepak dua meter darinya. Ia seakan merintih kesakitan. Namun, sepertinya ia tertawa dalam hati.

Arman masih tak menjawabnya.

“Kenapa?” Akbar kembali bertanya. “Hahahaha…” lanjut Akbar tertawa.

Sementara Arman masih terkurung dalam perangkap alam itu. Ia bagaikan tikus—terkurung dalam jebakan. Menanti uluran tangan dari Akbar dan yang lainnya, adalah satu hal yang terlalu lama. Sebab, semua ikut tertawa, dan seolah-olah harus lebih lama menyaksikan Arman lagi terbaring.

“Siapa suruh percaya,” ujar Sudi, juga ikut tertawa.

Kejadian lucu itu membuat kamera yang tersimpan tepat di kepala carier ku—harus segera keluar. Sekedar mendokumentasikan Arman yang lagi terbaring lemah tak berdaya bercampur lumut.

Adegan itu terhenti ketika Fikar hendak meraih tangan Arman. Arman segera bangkit. Kepalanya penuh lumut. Wajahnya pun demikian. Bajunya sedikit basah. Ketika Arman menatap kami satu persatu, maka Akbar kembali berteriak:

“awas, Anoa!”

Arman kembali menyemburkan tubuhnya ke lumut itu. Ia tak mampu berimajinasi lagi. Otak kirinya seolah tak berfungsi dengan normal. Raut wajahnya seperti memancarkan kemarahan dengan pohon yang ia harapkan berdiri kokoh. Namun pohon mengakibatkan ia terperangkap dalam kekonyolan dan membawa tawa—membahana.

*******

Hujan turun. Tak ada canda—tawa lagi. Semua harus fokus dalam perjalanan yang cukup menantang itu. Memacu adrenaline. Kekuatan kaki pada tumpuan akar-akar yang keluar dari tanah  telah menurun. Hujan memang terkadang membuat tubuh menjadi drop. Meski demikian, tapi mental masih tetap terjaga dalam situasi keganasan alam—menerjang—terjang.

Ada ratusan pohon pinang berhamburan—tertancap di tanah di  depan sana. pohonnya tinggi-tinggi menjulang hingga dua puluh meter. Dalam keadaan demikian, biasanya Fikar yang otaknya genius itu, selalu mendapatkan ide. Ia menebang sepohon pinang hingga tumbang. Lalu pucuknya tadi ia pangkas dan mengambil paling dalam.

“Yang ini bisa di makan,” katanya sambil menunjukkan umbut[1].

Iyo kah?” tanya Akbar, seolah tak percaya.

Iyo,” jawabnya singkat.

Isinya lumayan besar. Ketika Arman menyantapnya sedikit, ia hampir ketagihan. “Bisa juga di masak. Campur rica, garam, dan kecap; pasti sedaaaaap…” lanjut Fikar.

Arman hanya melototkan mata. Tangannya tak berhenti bergerak mengambil umbut pinang itu. Ia mematahnya sepotong-sepotong. Seperti kotak-kotak matchis kayu buatan Swedia. Sesekali ia menggoyang-goyangkan kepala, yang bertandakan bahwa rasanya memang cukup enak.

Akbar segera bergurau, “kita lanjutkan perjalanan, kawan-kawan.”

Arman mengambil dan mengangkat carier nya, lalu talinya di bagian belakang ia taruh di pundak. Ia berdiri dengan tergopoh-gopoh. “carier ku terasa berat,” keluh Arman.

Berjalan menuju sebuah batu besar. Batu itu terpecah dua. Dibawahnya, orang bisa berteduh. Cukup untuk lima orang. Di sana, ada susunan batu-batu kecil. Setengahnya agak hitam. Sepertinya batu-batu kecil itu serupa bola kaki—di pakai untuk masak. Arman bergurau:

“Saya tau, siapa yang menggunakan batu-batu ini.”

Bantaya Lanoni, 15 Juni 2013

Bersambung ke bagian—X

 


[1] ujung batang  yang masih muda dan lunak, dapat dimakan.

Discussion

  1. kempor7

Leave a Reply