Orang-orang Ditepian Sungai

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

klhjlDipenghujung tahun 2012, kampung itu di landa banjir besar—membuat orang tak berdaya. Ada puluhan rumah tenggelam, ribuan hektar lahan sawah raib, puluhan jembatan roboh, dan terhentinya arus perekonomian warga. Banjir bukan hanya melanda di kampung itu, setidaknya, ada beberapa wilayah di Indonesia; bernasib sama.

Kampung itu terletak di kaki gunung, persis dialiri oleh aliran sungai ditengahnya. Harus selalu waspada, jika hujan turun menyentuh tanah. Orang-orang di kampung itu, harus rela tak tidur semalaman. Apalagi orang-orang ditepian sungai. Meski tak ada intruksi dari BMKG tentang datangnya banjir—tapi mereka sudah tahu, akan datangnya banjir. Dan, itu pasti. 

Banjir menjadi tamu rutin setiap tahun—setiap hujan mengguyur. Beberapa tahun lalu, kampung itu tak pernah didatangi banjir berkali-kali, seperti apa yang terjadi di tahun 2012 itu.

*******

Ketika hujan mendera. Kepala Desa keluar rumah, memakai jas hujan, sekedar mewaspadai banjir datang. Ia ditemani Uyum. Uyum adalah anak muda yang punyai bakat berenang. Di sekolah dulu, ia pernah menjuarai lomba renang tingkat kabupaten. Tapi sayang, bakatnya itu tak ia lanjutkan hingga ia putus sekolah karena ekonomi keluarganya lemah. Adik-adiknya pun tak mampu melanjutkan sekolah.

“Uyum, kita harus ke dusun sebelah,” ujar Kepala Desa kepada Uyum. “Pakai Jas hujan itu,” lanjutnya. Seraya menunjuk kearah Jas hujan yang terletak di balik pintu rumah Kepala Desa.

“Iya pak!” seru Uyum, sedikit menyemangati Kepala Desa.

Mereka berdua kemudian berjalan di tengah arus sungai yang mengapung di atas tanah. Sesekali sandal jepit Kepala Desa harus tertinggal dalam air yang berbecek. Ia mencarinya—meraba-raba pakai kaki.

Di dusun sebelah—di pinggir sungai itu, airnya sudah naik semeter. Orang-orang telah keluar rumah. Dan, ada juga yang telah mengemasi barang-barangnya untuk diselamatkan. Mereka hendak mengungsi di tempat ketinggian. Di dusun tiga—di Desa itu.  

“Uyum?” panggil Kepala Desa dari jarak jauh.

“Iya, Pak Kepala!”

“Panggil Kepala Dusun. Cepat!” seru Kepala Desa di tengah kerumunan warga yang sedang panik.

“Siaappp, pak,” ujar Uyum.

Uyum kemudian segera berlari sekencang mungkin. Air setinggi lututnya ia kalahkan dengan kekuatan kakinya itu. Uyum juga pernah menjuarai lomba lari tingkat SD se-kecamatan. Meski orang-orang di sekitar memanggilnya, Uyum tak menengok sedikit pun. Pandangannya ia fokuskan kedepan. Tertuju pada satu objek yang dipintah Kepala Desa.

“Pak Dusun…Pak Dusun…” teriak Uyum dari halaman rumah Kepala Dusun. Uyum tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara balasan dari belakang.

“Iya, Uyum.” Uyum menengok kebelakang.

“Ada apa?”

“Eeehhh… Pak Kepala Dusun. Di panggil Kepala Desa,” ujar Uyum kepada Kepala Dusun, yang juga lagi memakai Jas hujan. Ternyata, Pak Awi, Kepala Dusun itu, semenjak tadi sudah turun rumah. Ia ternyata sudah memantau perkembangan naiknya air bah.

“Ayooo… kita kesana!” pinta Pak Awi.

Langit semakin menghitam. Petir menyambar kesana-kemari. Mengkilap-kilap menyambar dikejauhan sana. Semua orang panik tak terkendali. Berlarian tak karuan. Ada yang menyusup di kolong rumah. Ada yang lari ke bawah pohon. Ada yang hanya memegang kepalanya. Sikap skeptis  Kepala Dusun akan hal itu, semakin menjadi-jadi.

“Kenapa kampung kita sudah seperti ini?” tukas Pak Awi.

“Kampung kita ini telah dilaknat Tuhan, Pak Kadus,” ujar Uyum sambil memegang kepalanya.

“Tapi kenapa Tuhan melaknat kampung kita, ketika saya menjabat Kepala Dusun? Baru setahun lagi!”

“Jangan mengeluh Pak Kadus. Serahkan semuanya pada yang di atas. Percayalah, ada hikmah di balik semua ini,” kata Uyum meyakinkan Pak Awi. Uyum kemudian meraih tangan Pak Awi; secepatnya berlari ke kolong rumah warga. Di sana, puluhan warga lagi berteduh. Kebetulan, rumah itu, tak kena jatah banjir.

“Kenapa Pak Awi seperti penat begitu?” tanya Uyum keheranan. “Bukankah Pak Awi, seharian hanya di rumah?”

“Saya hanya memikirkan kampung kita ini, Uyum. Kasihan warga-warga lain didera musibah seperti ini,” kata Pak Awi sambil menatap satu-persatu wajah warganya di kolong rumah itu.

Tak lama kemudian, Kepala Desa datang menghampiri mereka di kolong itu. Ada raut kecemasan yang dilemparkan ke warganya. Pak Awi juga tambah cemas. “Jika hujan reda, ke rumah Sekretaris Desa, yah?”

“Untuk apa, Pak Kepala Desa?” tanya Uyum. “Sepertinya, tak ada tanda-tanda hujan reda. Lihat sana; awan masih menggelap,” lanjut Uyum. Ia bergeser sedikit, hampir keluar kolong—melihat ke atas. Memang, hari itu, tak ada tanda-tanda akan redahnya hujan. Dalam kecemasan yang berlarut-larut itu, tiba-tiba Pak Awi bertukas:

“Itu. Di sana Pak Usman.”

“Mana….mana…?” tanya Kepala Desa.

“Yang pakai baju kuning.”

*******

 Esoknya. Pagi sekali. Jam tujuh pagi. Pertemuan pun di gelar di balai desa. Terlihat yang hadir, adalah para petinggi-petinggi desa. Kepala Desa memulainya:

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabbarakatu…

Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabbarakatuuuuuuuuu…” jawab peserta rapat serempak.

“Bapak, Ibu, Saudara-saudari, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa kampung kita, akhir-akhir ini dilanda bencana banjir bertubi-tubi. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, kampung kita ini, meski didera hujan sepanjang hari, tak ada banjir. Paling-paling air sungai itu naik beberapa centimeter,” ujar Kepala Desa tanpa basa-basi.

“Hujan memang anugerah Tuhan. Tapi, saya tahu, mengapa banjir melanda kampung kita,” ujar salah satu peserta rapat dari arah belakang.

“Apa itu?” tanya Kepala Desa.

“Galian C.” jawabnya singkat.

Wajah Kepala Desa memerah. Sedikit tersinggung apa yang dikatakan masyarakatnya itu. Sebab, Kepala Desa-lah yang mengizinkan galian C, tepat dua kilometer dari kampung mereka beroperasi.

“Saya yakin, jika galian C itu, terus-terusan dilakukan, maka kampung kita ini akan di terror banjir sepanjang hari,” lanjutnya.

“Kasihan, orang-orang yang di pinggir sungai itu, sewaktu-waktu mereka ketiduran, dan banjir datang, bisa dipastikan mereka akan hanyut, dan akan melenyapkan nyawa mereka,” sambung yang lain.

Memang, banjir yang melanda kampung itu, dan kampung-kampung yang lain, membuat Badan Pusat Statistik Daerah, harus merubah angka kemiskinan. Juga menyibukkan Dinas Sosial untuk mengirimkan bantuannya kepada korban. Nasib mereka hampir sama dengan korban lumpur Lapindo. Bedanya adalah; korban lumpur Lapindo menderita berkepanjangan.

“Satu-satunya jalan: hentikan galian C.” tambah yang lainnya lagi.

Kepala Desa semakin tak berdaya. Handuk di saku celananya ia keluarkan. Meski cuaca lagi mendung, keringatnya berceceran hingga menyentuh meja di mana ia duduk. Mengapa tidak? Masyarakatnya begitu menyerangnya. Lebih parah lagi, sudah ratusan orang yang mengungsi namun belum mendapat bantuan apapun. Situasi itu yang membuat rambut Kepala Desa hampir rontok.

“Ini adalah bencana!” ujar Kepala Desa lantang, menepis serangan masyarakatnya. Argumentasi Kepala Desa itu tiba-tiba termentahkan oleh suara sumbang dari samping kiri Balai Desa:

“Iya. Bencana yang disebabkan manusia.”

“Baiklah Bapak, Ibu, Saudara-saudari, saya memerlukan bantuan kalian. Kita sama-sama menghentikan galian C itu. Yang penting, kampung dan masyarakat kita, aman dan damai.”

 

Bantaya Lanoni, 25 Juni 2013

Discussion

Leave a Reply