Sebagai Catatan: Runtuhnya Cita-cita

389913_151046018338867_468427864_nTulisan ini sebenarnya tidak terstruktur dengan baik (walau tulisan lain juga tidak terstruktur dengan baik), tulisan ini, hanya sebagai catatan kasar dari jemari yang juga kasar. Saya menulis ini, di Malam yang dingin; di guyur hujan, mati lampu, alias gelap, dan bertepatan dengan hari lahirku.

Hati kecilku bicara; pernah cita-citaku runtuh di tengah jalan. Bukan karena keputusasaan atau hanya sebuah cita-cita aneh. Namun, menurutku, runtuhnya disebabkan oleh yang saya anggap sebagai angin sepoi. Mengapa tak lanjut? Ada beberapa pertimbangan: pertama, orang tua tak menyetujuinya; kedua, ada cita-cita baru yang menabrak. Apa cita-cita itu? Kenapa orang tuaku tak menyetujuinya?

Jawaban pertama:  Semenjak saya duduk di bangkuh Sekolah Dasar, saya sayang hobi bermain bola. Tiada hari tanpa main sepak bola. Panas, hujan, capek, atau hal apapun itu, saya mesti bermain bola. Bola kaki, itu hobi saya. Cita-cita saya, menjadi pemain sepak bola professional. Namun, sekali lagi; itu telah runtuh.

Ada beberapa prestasi yang sempat saya raih sebelum cita-cita itu runtuh. Pernah menjadi pemain terbaik tingkat kabupaten (meski hanya tingkat kabupaten, tapi ratusan orang saya kalahkan. Hehehe), pernah membawa sekolah SMA saya ke perempat final, dan tahun berikutnya telah saya bawa juara satu tingkat SMA sederajat.

Jawaban kedua: orang tuaku penuh pertimbangan. Terutama Bapakku. Katanya, jika sepak bola saya tekuni, dan main di sana; main di sini. Main jauh, main dekat. Yang pastinya menurut bapakku, akan menghalangi perkuliahan. Saya pun menurutinya, dan cukup masuk akal.

Sebenarnya, Ia juga hobi main sepak bola, nonton sepak bola. Sekarang, bisa dikatakan bapakku sebagai pengamat sepak bola di desaku, (meskipun pengamat tingkat desa, yang penting kan namanya pengamat, hehehe).

Hingga pada semester pertama saya kuliah, sepak bola itu saya tekuni. Namun, pada semester berikutnya, berhenti total. Sepatu bola, baju bola, celana bola, hingga saat ini tak pernah saya sentuh lagi.

Kini, ada pengganti cita-citaku yang telah runtuh itu. Apa itu?

Ini sebenarnya mimpi saya yang paling tinggi. Mungkinkah dapat tercapai? Kata orang, berusaha dan berdoa? Entahlah, apakah perintah itu ada dalam hadist, atau tidak? Tapi, menurutku ada dalam hadist. Hingga saat ini, saya tetap berusaha dan berdoa, agar mimpi itu dapat tercapai. Do’a kan yah? Hehehe.

Mimpi apa itu?

Di halaman sampul buku, tertera namaku. Sebagai pembuat buku itu.

Itulah cita-citaku. Mimpiku. Dengan mengandalkan hobi baru; menulis. Mimpi harus di raih. Semoga.

Sebagai catatan di hari ulang tahunku, yang ke 26 Tahun.

Fhay Hadi.

Bantaya Lanoni, 7-7-1988 (hari ulang tahunku)

Discussion

  1. jematik

Leave a Reply