Selamatkan Morowali Dari Industri Tambang Yang Merusak Hutan

45097_376909379098769_1176655621_nBanjir kembali melanda Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah. Khususnya di lima Kecamatan: Kecamatan Bungku Barat, Bungku Tengah, Soyojaya, Petasia, Bungku Utara, Bungku Timur. Banjir tersebut telah merendam 31 desa, sedikitnya 15 hanyut dan 108 lainnya terendam, dua jembatan putus total, serta jalan aspal, habis di terjang banjir.

Banjir bandang yang menghantam Kabupaten Morowali, disebabkan oleh kondisi hutan semakin kritis. Ke-kritis-an hutan disebabkan oleh menjamurnya Izin Usaha Pertambangan (IUP) diKabupaten itu. Sejak booming produksi nikel tahun 2009 berlangsung. Morowali menjadi satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Tengah yang setiap tahun menerima banjir dua hingga tiga kali dalam setahun. Kerusakan hutan menjadi satu kelakuan buruk yang dilakukan industry ekstraktif pertambangan, hingga pada meruntuhkan gunung. Pada tahun 2009 lahan kritis di Kabupaten Morowali, mencapai 165.727 Ha. Lahan kritis itu, banyak dilakukan oleh perusahaan pertambangan dan perkebunan skala besar, seperti perkebunan kepala sawit.

Industry ekstraktif pertambangan, dengan menggunakan metode open pit mining telah mengubah tutupan hutan Morowali secara massif. Hal demikian, menyebabkan deforestasi hutan semakin meningkat. Apalagi, limbah-limbah tambang sudah begitu massif mengalir ke sungai, terutama Kecamatan Petasia, Bungku Timur, dan Bungku Utara. Maka, jika hujan datang, banjir menyapu bersih rumah-rumah di sekitar. Dan, masyarakat terpaksa merelakan sebagian hartanya di bawah banjir.

Dalam catatan Jatam Sulteng, angka 189 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dalam analisa peta overlay dengan kawasan administrasi Morowali, dari situ sudah kelihatan, bahwa tutupan hutan Morowali sudah kian memperihatinkan. Banjir setiap tahun menjadi konsekwensi yang harus di bayar mahal oleh rakyat dari ekspor 500 ribu metrik ton ore setiap bulannya ke negeri China dan Malaysia. Jika beberapa waktu lalu, Pemerintah begitu bangga dengan besaran nilai ekspor nikel ke negeri China dan Malaysia, yakni mencapai 74 persen dari total Eksport, maka hasilnya, adalah banjir bandang yang menimpah rakyat.

Kondisi ekologi dan syarat-syarat keselamatan manusia di Kabupaten Morowali sudah sampai pada tingkat genting. Industry pertambangan sudah menguasai dan membabat habis hutan dan kawasan hutan, sehingga penyangga air ketika hujan sudah tak ada. Seharusnya, ada perubahan mendasar dalam soal tata produksi nikel dan tata kelola hutan, demi keselamatan masyarakat Morowali. Tanpa tindakan tegas, nasib masyarakat Morowali akan tergadai oleh penciptaan uang yang tanpa jedah oleh koorporasi tambang, di bawah dukungan Bupati Anwar Hafid, yang memimpin Morowali menuju kerusakan hutan.

Bantaya Lanoni, 26 Juli 2013

Discussion

Leave a Reply