Saat Mereka Membagi-bagikan “Uang Amplop”

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

DSC_0604Tak heran mengapa masyarakat sekarang lebih senang menanyakan “uang amplop” dari pada menanyakan, “agenda apa yang di bahas”, saat ada pertemuan. Kondisi yang sangat memprihatinkan tentunya. Kali ini saya menulis tentang pengalaman, yang sering di jumpai di berbagai kampung dan pengalaman teman-teman saya, saat mereka menceritakannya ke saya.

Pada hari itu, saya sedang minum kopi di ruang tamu rumahku, tentunya, sambil mengisap sebatang rokok. Tiba-tiba ada salah satu tokoh masyarakat datang ke rumah, niatnya hendak mengundang orang tua saya untuk pertemuan di balai desa. Katanya, “pemerintah daerah setempat mengundang untuk pertemuan.” Namun, pada saat itu orang tua saya lagi pergi ke kebun—sebelum matahari menyinari kampung kami. Dengan terpaksa, beliau meminta saya untuk menggantikan bapakku menghadiri pertemuan itu. Saat ditanya, ini pertemuan apa? Beliau menjawab sosialisasi “Read” dari kabupaten. Cuci muka, ganti baju dan, celana. Hendak pergi ke balai desa.

Ternyata pertemuan itu, tidak berbentuk sosialisasi, melainkan simulasi. Karena kemarin masyarakat di kampung saya itu, sudah sempat ikut pelatihan Read sebelumnya. Sehingga fasilitator hanya me-review kembali apa yang telah berikan.

Di akhir pertemuan itu, kami yang hadir, di panggil satu persatu melalui absen. Mengambil sebuah amplop yang isinya belum bisa dipastikan. Terlintas dibenakku saat itu, untuk apa uang ini? Sehingga mendorong ku untuk membuat tulisan pendek ini.

Teringat cerita teman kuliahku, waktu dia turun Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa tahun silam. Tempatnya tidak jauh dari kampus kami. Ceritanya begini: “malam itu kelompok KKN kami sedang membuat undangan untuk penyuluhan hukum dan kesehatan, yang rencananya kami buat di balai desa. Undangan kami cetak sebanyak 200 lembar. Saat pagi tiba, masing-masing dari kami yang sudah membagi tugas untuk mengantar undangan. Nah, hampir semua masyarakat yang kami bagikan undangan, menanyakan ‘ada uang amplop?’ wah, saya kaget, mengapa tiba-tiba menanyakan uang?” Kata teman saya itu. “Padahal saya sudah memakai Almamater, salah satu Universitas terkenal. Pasti mereka tahu, bahwa saya ini adalah mahasiswa. Tapi mengapa mereka tanya uang? Saya pun menjawab, bahwa ini hanyalah penyuluhan mengenai Hukum dan Kesehatan, jadi tidak ada uang, kami hanya menyediakan konsumsi untuk para undangan,” lanjut teman saya.

Besoknya, lanjut temanku itu. Ketika tiba waktu penyuluhan, yang hadir hanya seorang nenek berjilbab, dari 200 undangan yang kami sebar.

Dapat dibayangkan pengalaman temanku itu. Padahal ilmu yang akan dibagikan kepada masyarakat, namun mereka tidak peduli dengan ilmu itu. Andaikan temanku bilang ada “uang amplop”. Kemungkinan besar lebih dari 200 orang yang akan hadir.

Mengapa masyarakat sekarang harus menanyakan uang ketimbang ilmunya? Siapa yang membuat masyarakat seperti ini? Bermula dari pengalaman saya, bahwa ketika ada, baik lembaga pemerintah maupun lembaga social yang membuat suatu pertemuan, maka ujung dari pertemuan itu akan membagikan amplop, yang isinya bervariasi. Jika setiap pertemuan demikian adanya, maka organisasi, badan, individu apapun yang mengundang masyarakat pertemuan, maka di benak mereka adalah “uang amplop”.

Kembali pada point di atas: ketika para undangan menunggu dipanggil melalui absen, saya langsung beranjak pergi. Kembali duduk di teras rumah dan melanjutkan minum kopi. Tak berapa lama, seorang warga datang ke rumah—hendak mengantarkan amplop yang di bagikan sang fasilitator di Balai Desa tadi. Saat kubuka, isinya Rp. 20.000. Uang itu, saya simpan di dalam dompet. Saya abadikan. Hehehehe….

Naahh, kali ini pengalaman berikutnya, organisasi paguyuban yang sempat membesarkan saya. Saat itu, kami mengadakan seminar lingkungan. Tibalah saatnya membagikan undangan, dan saya salah satu menjadi tim pengedar undangan itu. Dari dua puluh (20) undangan yang saya edar, enam belas (16) diantaranya menanyakan “ada uang jalan?” maksudnya “uang amplop”. Bayangkan, masyarakat di kampung tetangga saya, juga sudah terkontaminasi dengan “uang amplop”. Bisa di pastikan, ini disebabkan dari ulah para pembagi “uang amplop” dalam setiap pertemuan. Itu pasti.

Bantaya Lanoni, 03 Agustus 2013

Discussion

Leave a Reply