Pemuda, Sebagai Harapan Bangsa

Judul                 : Di Tepi Kali Bekasi

Penulis             : Pramoedya Ananta Roer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tahun Terbit   : Tahun 2003

Halaman          : 262 halaman

Jenis                   : Novel

kjyfBulan sepuluh tahun 1945: “Pertempuran berkobar di dekat stasiun Pasar Senen, Jakarta. Sejak pagi buta tembak-menembak tak henti-hentinya. Biasa saja. kejadian harian. Pemuda di satu pihak, berhadap-hadapan dengan Inggris—India—Belanda—Indlander di lain pihak. Suara retetan senapan—mesin berat bersambut-sambutan dengan dum-dum, diselingi pula oleh letusan pistol beserta kerabin pemuda kita yang panjang-panjang bunyinya…” Begitulah penggalan kalimat dalam sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam novel yang berjudul Di Tepi Kali Bekasi itu, Pram memberikan satu petuah bagi pemuda di zaman sekarang ini. Kisah heroisme tiga pemuda yang tinggi ditempatkan Pram dalam novel itu, menjadi pertanda, bahwa pemuda menjadi satu harapan bangsa. Farid, Surip, dan Amir; anak muda belia, sebagai protagonis yang walaupun labil, namun memiliki semangat membara untuk membela tanah air. Para pemuda itu berjuang mati-matian hanya untuk mempertahankan harga diri bangsanya: Indonesia.

Pram menempatkan orang tua sebagai penghambat jalannya revolusi. Itu terlihat ketika ayah Farid tak mengizinkan Farid ikut bertempur di medan perang bersama para pelopor lainnya. Padahal, semangat Farid begitu menggebu-gebu untuk membela tanah air. Farid pemuda revolusioner, ia tak takut mati. Tak takut melawan gencatan tentara-tentara musuh.

Tokoh-tokoh anonim itu, yang jarang didapatkan di buku-buku sejarah, atau hilang, atau tidak pernah dibuat sama sekali—dalam bentuk perjuangannya, romantisme, atau semacam apapun—kini muncul dengan berbagai persitiwa. Selain melawan tank-tank musuh, tokoh-tokoh itu juga melawan kehidupan pragmatis dari kaum tua.

Ketika ketiganya masuk tentara, maka ketiganya siap mati demi tanah air. Di sisi lain, ayah Farid, menjadi penghianat bangsanya sendiri, atau setidaknya menghianati anaknya sendiri. Ayah Farid memilih bekerjasama dengan Belanda.

Pram terlihat begitu mengharapkan pemuda untuk membangun bangsa. Dengan gaya tulisnya penuh makna dan menyentuh jiwa, bahkan membakar jiwa nasionalisme. Sebab Pram betul-betul menjadikan leader untuk pemuda dalam novel itu. Pun juga, sikap progresif pemuda begitu besar, dan ber-idealis tinggi.

Novel itu, sebenarnya merupakan epos tentang revolusi jiwa angkatan Muda, dari jiwa jajahan, hamba, jongos, dan babu, menjadi jiwa merdeka.

Bantaya Lanoni, 04 Agustus 2013

Discussion

Leave a Reply