Mengintip Sunrise Dari Atap

DSC_0103Setelah bangun subuh untuk makan sahur, mataku tak ingin terpejam lagi. Artinya, menuntun tanganku untuk menyalakan TV di ruang tamu. Jika dulunya ramai dengan kawan sejawat, saat ini, aku sendiri di sini. Di rumah sekaligus Kantor Rakyat. Kawan-kawanku yang baik itu, telah pulang kampung seminggu yang lalu.

Selasa, 07 Agustus 2013, tetesan pening air mata seketika meluncur hingga menyentuh pipi berjerawat—tak terawat. Aku terkesima dengan ceramah singkat dari TV, mengingatkanku akan sanak keluargaku di kampung halaman. Di rumah yang sederhana ini, aku merenung sendiri—menunggu mentari menyinari rumah tempat tinggalku.

Sebelumnya, aku tak tahu harus berbuat apa. Imajinasiku lumpuh. Pikiranku buntuh. Seperti halnya ikan gurami terkungkung di dalam toples. Dengan keadaan demikian, aku kembali merebahkan tubuh dipembaringan vaforitku. Namun, mataku tak juga terpejam. Pikiranku tak juga terbawa arus mimpi. Dan, kebetulan belum imsak, aku bangun mengambil sebatang rokok—aku bakar dan  aku hisap.

Mungkin bagi sebagian orang, ketika melihat alam terbuka, maka inspirasinya akan datang—mengalir dan memandu pikiran selanjutnya. Tapi sebagian orang; tidak demikian—cukup melihat beragam media, maka inspirasinya mengalir deras, seperti banjir bandang menghantam sebuah kampung. Aku sendiri, berada pada posisi pertama.

Gelap gulita telah pergi. Sinar mentari sebentar lagi akan datang dan aku menyambutnya. Aku duduk di atas atap. Di sana, akau di anggap kucing oleh tetangga. Tetangga mengusir setelah mendengar suara atap seng berbunyi: “Huuuussssttt…Huuuusssstttt…”  kata tetangga itu. Tetangga mengira, bahwa bunyi itu dihasilkan oleh nakalnya kucing. Padahal aku-lah yang menciptakan bunyi itu.

Aku duduk termenung di atas atap itu. Sambutan sinar mentari di pagi itu begitu menyejukkan jiwa dan pikiranku. Orang-orang biasa menyebutnya sunrise. Aku seperti terbawa arus, hingga alam bawa sadarku kembali pulih.

Dari arah timur itu, pantulan sinar mentari menghasilkan cahaya pelangi—memikat mata hingga tak berkedip. Dua pemandangan indah yang menyejukkan jiwa. Dalam waktu yang bersamaan itu, jarak keduanya begitu berjauhan: arah timur dan timur menenggara. Mataku sempat kebingungan; yang mana harus didahului. Sebab, kedua mataku tak bisa memandangi kedua-duanya secara bersamaan. Di satu sisi, aku ingin melihat pelangi itu, sedang di sisi lain, aku tak ingin ketinggalan melihat sunrise.

Dalam kebingunganku itu, aku putuskan satu menit melihat dalam satu objek. Sunrise memang tak kalah indah dari Sunset. Intinya adalah, kedua-duanya ciptaan sang khalik. Dari ciptaan-Nya itu, pikiranku kembali terbuka, dan harus menuliskan—tulisan ini.

Sekian.

Bantaya Lanoni, 07 Agustus 2013

  

Leave a Reply