17 Agustus Ala Pecinta Alam

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

SONY DSCTanggal 17 Agustus tahun 1945 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan rakyat Indonesia ditandai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno—Hatta—atas nama bangsa Indonesia, sebagai hari kemerdekaan. Untuk mendapatkannya; jiwa dan raga harus dikorbankan. Dan itu terjadi selama berabad-abad.

Kemerdekaan negeri ini—negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam. Perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan Indonesia, bukanlah sesuatu yang mudah di lakukan. Penuh perjuangan; pikiran, tenaga serta darah sekalipun. Hingga saat ini tiga hari sebelum tanggal yang penuh dengan ke-sakral-an itu, setiap rumah harus memasang bendera merah—putih didampingi dengan umbul-umbul. Tak jarang pula, berbagai macam lomba dilakukan dalam perayaan itu. Namun, hal demikian adalah bentuk serimonial belaka—sebagai bentuk Nasionalisme warga negara.

Namun, dengan dibacakannya teks proklamasi tersebut, bukan berarti menjadi satu tujuan puncak bangsa ini. Ada hal-hal yang ditanamkan para founding fathers untuk mempersatukan bangsa, dari Sabang sampai Marauke. Selain dari mengkampanyekan persatuan dan kesatuan, para founding fathers juga telah membebaskan diri dari jajahan kolonial. Maka untuk perjuangan yang penuh sejarah itu, mesti diperingati setiap tahunnya oleh para penerus bangsa ini—termasuk di sekolah-sekolah dan anak muda.

Dari beberapa kelompok warga Negara Indonesia: Kelompok PNS; kelompok PNS ini, biasanya mengadakan lomba lari karung, gerak jalan, cerdas cermat, dan lain sebagainya, kemudian mengadakan upacara peringatan pada di hari-H. lain halnya dengan masyarakat Aceh, di sana, mereka tidak mengadakan upacara bendera, dan memasang bendera Merah-Putih, serta umbul-umbul di depan rumah mereka. Bukan berarti tidak punyai rasa nasionalisme, namun masyarakat Aceh menganggap bahwa, rasa nasionalisme tak ditunjukkan dengan kegiatan serimonial seperti upacara, melainkan di lakukan dengan cara lain. Seperti, mengikuti lomba atau pertandingan yang membawa nama baik Indonesia, dan lain sebagainya.

Jika dua kelompok warga Indonesia di atas berbeda cara untuk meningkatkan rasa nasionalisme, maka ada juga kelompok warga Indonesia yang memperingati hari bersejarah itu dilakukan dengan cara berbeda. Senang melakukan hal-hal yang ekstrim, bahkan dalam melaksanakan upacara bendera tujuh belasan pun terhitung demikian. Kebanyakan dari mereka lebih senang melaksanakan agenda upacara tersendiri di alam bebas, seperti; di Gua, Tebing alam, dan di puncak-puncak  gunung.

Hal demikian mereka lakukan bukanlah tanpa alasan. Tentunya pemaknaan hari kemerdekaan harus mengena pada porsinya. Jika para pahlawan bangsa ini dulunya berdarah-darah, penuh perjuangan, hidup—mati; hanya untuk memerdekakan INDONESIA. Lantas, makna menurut mereka apa?

Sebentar di jawab pertanyaan di atas yah…

Kelompok itu di sebut sebagai Pecinta Alam, baik yang terdiri dari Siswa Pecinta Alam (Sispala), Kelompok Pecinta Alam (KPA), dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Kelompok-kelompok itulah yang sering mengadakan upacara bendera di puncak-puncak gunung, tebing, dan di dalam gua.  

Sekarang, makna melaksanakan upacara di alam bebas yang penuh resiko tinggi itu, apa? Memilih upacara di puncak-puncak gunung, bukanlah tanpa modal mental maupun fisik, juga bukan tanpa materi dan teori. Tentunya melakukan hal demikian bukanlah aktifitas yang penuh dengan kesia-siaan. Yang pastinya, hampir seluruh puncak gunung di seluruh Indonesia di penuhi oleh kelompok-kelompok pecinta alam untuk melaksanakan upacara tujuh belasan. Adalah hampir sama dengan pemaknaan kelompok PNS; sebagai bentuk upaya menghargai para pahlawan yang telah memperjuangkan negeri ini. Namun, beberapa hal penting perlu di ketahui, bahwa untuk meraih kemerdekaan itu, penuh perjuangan, seperti apa yang telah tertuang di atas.

Dari situ, para kelompok pecinta alam ini, mencontek pepatah, “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.” Dalam pendakian, dalam penelusuran gua, dalam pemanjatan tebing, tentunya memerlukan perjuangan yang gigih, penuh keberanian yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dan akhirnya makna  sesungguhnya terletak pada “perjuangan” untuk meraih sesuatu.

Nasionalisme “Tai Kambing”

Semangat 45 sering di lontarkan berbagai kalangan untuk meningkatkan nasionalisme. Tema dalam kegiatan tujuh belasan, tak jarang memakai “semangat 45”, dengan nuansa-nuansa itu, diharapkan rakyat Indonesia semakin tinggi kecintaannya kepada tanah air. Di sisi lain, dengan digembar-gemborkan semangat itu, pemerintah Indonesia di era reformasi ini, begitu massif menjual tanah air. Artinya, membuka kelonggaran bagi para investor asing untuk mengeruk dan menjarah sumber daya alam untuk kepentingan asing pula. Hal demikian, telah mengusik berbagai kalangan, yang mengatasnamakan dirinya sebagai manusia “cinta tanah air”. Artinya mereka, menentang keputusan pemerintah yang tidak berdikari dalam hal ekonomi.

Telah umum di ketahui orang, bahwa negeri ini begitu kaya, namun penduduknya masih banyak yang miskin. Penyelenggara Negara sudah tak beres lagi. Banyaknya kasus korupsi mencuat ke public menjadi satu pertanda, bahwa semangat 45 untuk membangun negeri adalah bohong. Maka jangan heran, dalam hal pemasangan umbul-umbul dan bendera sang merah-putih saja, masyarakat jadi malas—mesti  di dorong atau di paksa oleh pemerintah. sekali lagi, bukan berarti masyarakat tidak cinta Indonesia, melainkan muak dengan aparatur Negara yang kunjung menyensarahkan rakyat.

Tak bisa di pungkiri, bahwa pemerintah mengajarkan kita nasionalisme sekali dalam setahun. Setiap 17 Agustus. Padahal, mestinya itu setiap hari. Dan kebanyakan Oknum pemerintah, malah mengkhianati negeri ini, dengan menjual tanah air. Nasionalisme “Tai Kambing”, artinya Nasionalisme hanya tanggal 17 Agustus saja.

Merdeka!

Bantaya Lanoni, 17 Agustus 2013

Discussion

Leave a Reply