Catatan Perjalanan: Pengalaman Pertama Naik Pesawat

08082013Usai sholat IED idul Fitri 1434 H, 2013, kegelisahan semakin berkecamuk dalam diri; seorang kawan akrab, tak juga kunjung datang untuk mengantarkanku ke bandara mutiara Palu Sulteng. Padahal jam 10 di pagi itu, harus check in. Tak berapa lama, Dino, kawan akrab ku itu mengetuk pintu. “siap?” katanya.

Motor Jupiter nya meluncur di aspal yang sudah mulai mendidih. Pelan sekali Dino menyetir motornya, sedang hati semakin gelisah: jika ketinggalan pesawat bagaimana?

Kini, tibalah di finish, Bandara Mutiara Palu. Dalam peralanan, pikiranku mengatakan, bahwa bandara dalam keadaan sunyi, sebab bertepatan dengan hari pertama Idul Fitri. Tapi ternyata tidak, di sana banyak orang. Lagi antri di pintu masuk. Ini kali kedua saya, menginjakkan kaki di bandara mutiara itu. Waktu itu, saya menjemput teman baru terbang dari Surabaya. Namun, hari itu, saya yang ingin terbang melalui pesawat Sriwijaya.

Saya pun tak membuang-buang waktu. Lima belas menit lagi, menunjukkan pukul sepuluh. Artinya, saya harus chek in terlebih dahulu.

“Din, tunggu di sini dulu, saya masuk ke dalam, boleh?” ujarku kepada Dino.

“Siap,” tegas Dino.

Saya masuk ke dalam tanpa ragu. Saya mesti melihat orang-orang yang lagi antrian di depan saya. Saya mengikuti gaya mereka, masuk ke dalam. Artinya, jika masuk ke dalam mesti buka tas—saya pun mengikutinya. Maklum, baru kali ini saya naik pesawat. Hehehehe

Waktu semakin berjalan, dengan banyaknya orang antri, maka saya bisa tembus, setengah sebelas. Artinya setengah jam lagi pesawat akan mengudara. Setelah saya chek in, saya di persilahkan oleh petugas bandara untuk menunggu di ruang tunggu. Sebelum saya mengikuti intruksi itu, saya keluar terlebih dahulu, menemui Dino yang di luar sana. Baru sampai di pintu keluar, panggilan melalui sound terdengar. Naahh, saya hanya katakana pada Dino, “Terima kasih. Saya berangkat dulu! Hati-hati di jalan!”

Tak lama kemudian, sekitar lima belas menit lagi, menunjukkan pukul sebelas, semua awak penumpang pesawat Sriwijaya naik pesawat, dan segera mengudara. Saya duduk di kursi nomor Sembilan. Setiap baris, ada enam kursi, yang jika kita berada di tengah-tengah, maka di sebelah kiri tiga kursi, dan kanan tiga kursi. Dari tiga kursi yang tersedia sebelah kiri, hanya satu kursi yang terisi—sayalah yang menduduki kursi itu.

Sekali lagi, ini pengalaman pertamaku dalam hal naik pesawat dan terbang di udara. Di saat saya menguasai satu barisan kursi itu—saya memilih duduk dekat jendela. Di sana, awan-awan berkeliaran dengan liar. Secara berkelompok atau juga terpisah. Ada yang putih, ada juga yang sudah kehitam-hitaman.

Kurang lebih empat puluh lima menit, pesawat yang saya tumpangi dengan puluhan orang lainnya—mendarat di bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Transit. Di bandara itu, saya bersama penumpang lainnya yang hendak ke Jakarta untuk pesawat Sriwijaya, harus menunggu kurang lebih enam jam. Aaahhh… jenuh rasanya saya menunggu di bandara itu. Tak seorang pun yang saya kenal dari ratusan, bahkan ribuan orang di bandara internasional itu—yang di ajak bicara. Ngotak-ngatik handphone juga sudah mulai bosan. Akhirnya saya memutuskan harus jalan-jalan dulu. Saya tengok ke kiri, di sana ada ruangan khusus, yang dipintunya tertulis, smooking room; saya masuk dan pesan secangkir kopi.

Diruangan smooking room itu, hanya ada beberapa orang; satu—dua—tiga—empat orang. Dua orang baru masuk, dan dua orang lainnya siap untuk keluar—artinya, kopi mereka sudah ludes ke dalam perut. Tak lama kemudian, seorang wanita berparas cantik berfostur tinggi berdiri di hadapanku, seraya berkata, “ini pesanannya.”

“Terima kasih, Mbak,” jawabku singkat.

Saya sengaja untuk berlama-lama di smooking room itu, yahh, daripada di ruang tunggu, tak tahu harus berbuat apa? Alhasil, tiga orang pemuda, kira-kira seumuran saya, mereka menghampiri saya; semeja. Kami berbincang-bincang, katanya mereka dari Manado, Sulawesi Utara—dengan tujuan Jakarta juga. Bedanya, mereka naik pesawat Garuda, dan mengudara pukul empat sore. Artinya, mereka terbang satu jam lebih dulu di banding saya.

Percakapan semakin panjang, hingga tak terasa, mereka bertiga harus meninggalkan smooking room. Tak beberapa lama kemudian, saya juga harus keluar, dan duduk di ruang tunggu. Ke tempat kasir, dan bayar.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 waktu setempat, tapi panggilan untuk pesawat Sriwijaya tujuan Jakarta belum juga di panggil melalui sound system. Dan akhirnya, pengumuman pun tiba, “untuk penumpang Sriwijaya tujuan Jakarta yang berangkat pukul 17.30, diharap sabar menunggu,” itulah bunyi pengumuman. Artinya, pemberangkatan di tunda.

Entah berapa lama para penumpangnya menunggu. Hampir semua di selimuti dengan kekesalan. Tapi, saya tetap sabar dan kembali ke smooking room. Saya memesan secangkir kopi lagi. Sebelum datang pesanan, empat orang lelaki yang lebih tua dari saya datang menghampiri. Nada kekesalan pun keluar dari mulut mereka. Ternyata, mereka juga naik pesawat dan tujuan yang sama. Belum juga habis secangkir kopi, bunyi pengumuman. Siap untuk mengudara.

Sekitar pukul 20.00 waktu Jakarta, pesawat Sriwijaya mendarat di Bandara Internasional Soekarno—Hatta. Dengan pengalaman pertama naik pesawat, dan pertama kali menginjakkan telapak kaki di Bandara Soekarno—Hatta tersebut, saya mengekor di belakang penumpang lainnya. Untuk keluar dan ke terminal di mana saya akan di jemput seorang kawan.

Masuk—keluar lorong. Masuk—keluar ruangan. Saya mencontohi apa yang dilakukan para penumpang lainnya. Dan, tibalah saya ke ruangan bagasi. Di sana, saya mengambil barang saya, kemudian menunjukkan kepada petugas bandara Soekarno—Hatta slip bagasi. Di sobeknya slip itu, dan saya keluar ke terminal B.

Di terminal B itu, saya tak tahu harus berbuat apa selain duduk diam dan menunggu kawan datang menjemput. Sudah pukul 21.30 waktu setempat, tapi jemputan tak kunjung datang. Sebagai pemakluman dari saya, bahwa waktu itu hujan mengguyur di sekitar bandara. Mungkin saja, di daerah lain, bahkan di sekitar rumahnya hujan deras pula. Dan saya tetap duduk termangun sambil mengisap sebatang rokok.

Di tengah kejenuhanku itu, tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiriku. Ia membawa sebuah ransel berwarna biru. Ia berkata, “kalau mau ke pasar senen, terminal mana yah mas?” saya seketika terbengong mendengar pertanyaan itu.

“Aduh, saya juga orang baru di sini. Saya tak tahu apa-apa, Mas,” jawabku.

Pemuda itu hanya menggoyang-goyangkan kepalanya—ke bawah dan ke atas. Saya tak tahu apa maksudnya. Kemudian ia berpaling, dan pergi ke kerumunan orang yang lagi melihat jadwal penerbangan.

Dan, beberapa menit dari kejadian itu, kawan saya pun telah datang menjemput.

“Mari kita berangkat,” katanya.

Bersambung.

Bantaya Lanoni, 24, Agustus 2013.  

Discussion

  1. capung2

Leave a Reply