Oh, Cagar Alamku!

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

1235971_10201240034857011_1890555262_nSetelah ditetapkan pemerintah beberapa tahun silam, Cagar Alam itu, telah menampung ratusan bahkan ribuan spesies. Sebetulnya, baru kali itu Ito menginjakkan kaki di Cagar Alam itu. Untuk melaluinya, orang-orang harus memakai perahu. Tak ada akses lain selain mengarungi lautan. Jarak tempuhnya pun mencapai dua jam.

Ito salah satu mahasiswa perguruan tinggi di Sulawesi Tengah. Ia sangat penasaran dengan kondisi salah satu cagar alam. Itu yang kemudian menjadi keresahan di hati Ito—setelah ia melihatnya di internet beberapa waktu lalu. Maka di hari itu, Ito memutuskan mencari mobil hendak meninjau cagar alam yang diobrak-abrik perusahaan pertambangan.

Kini, tibalah Ito di pelabuhan menuju ke cagar alam itu. Pemandangan yang menakjubkan dilihatnya disana. Tidak di kiri—tidak di kanan; semua indah bernuansa alam. Laut biru dengan ribuan ikan sedang bermain dibawahnya. Gunung tinggi—perkasa dikelilingi air laut dan batu-batu karang di tepinya. Ada juga pulau-pulau kecil yang terpampang dikejauhan sana. Pun juga, ribuan pohon mangrove berjejer mendampingi lautan ditepinya. Ito terbuai.

Satu jam telah berlalu. Kini, perjalanan telah mencapai setengahnya ke tujuan. Matahari menyengat. Mengkilau ketika bersentuhan dengan pasir-pasir putih. Keduanya tidak terdistorsi. Keduanya kemungkinan saling membutuhkan. Ketika basah, pasir itu membutuhkan sinarnya. Sinar matahari untuk mengeringkan. Tatkala gulungan ombak menyapunya, maka matahari akan melawannya. Tapi, bisa saja, pasir putih itu sama sekali tak membutuhkan cahaya matahari. Biarkan saja dia basah. Toh, tak berpengaruh. Hhuumm… itulah ciptaan Tuhan, kadang saling butuh, kadang saling cacih, kadang pula saling tabrak.

Ketika perahu yang ditumpangi oleh Ito beserta puluhan orang lainnya melewati tanjung, rupanya di sana, gunung telah di pangkas habis, hampir rata dengan laut. Dibelakangnya, masih ada gunung yang setengahnya telah pupus. Alat-alat berat, berpuluh-puluh jumlahnya sedang meraung-raung, seperti tangan manusia meruntuhkan gunung perkasa itu. Tak ada ampun baginya. Truk-truk juga ketika muatannya full, harus pergi dan mencurahkannya kembali ke dalam kapal tongker—besar. Yang pasti, ribuan spesies punah di sana. Tak ada harapan untuk hidup atau bertahan. “Aahh.. itu keajaiban ataukah keserakahan?” pikir Ito resah.

Lelaki tua berjenggot tebal duduk di sudut perahu. Ia begitu memerhatikan segumpal demi segumpal tanah-tanah diturunkan kebelakang truk berwarna kuning. Sesekali ia menengok kekanannya. Di sana, gunung masih rapi dan tak pernah di sentuh oleh siapapun. Tapi, di sebelah kiri itu, adalah suatu kejadian nyata di dunia. Wajahnya muram tak bercahaya. Bukan karena ia sudah berumur. Tapi Ito bisa pastikan, bahwa orang tua itu, sangat sedih. Pasti sedih. Melihat mesin-mesin serakah. “Ampuni mereka Tuhan,” pikirnya senduh.

Kini melewati satu tanjung lagi. Rupanya di sana, lebih parah. Tiga gunung runtuh—merata. Bendera China berkibar di camp-camp para penghuni. Bendera Malaysia tak kalah tinggi—melambai-lambai tertiup angin sepoi. Tepi laut telah keruh. Debu berkeliaran hingga ke rumah-rumah tetangga. Menjangkit—membentuk penyakit batuk-batuk hingga pada diare bagi anak-anak. Dalam situasi demikian, tak ada yang bisa di lakukan masyarakat lingkar tambang—selain mengeluh dan menangkis debu beterbangan.

Pak Samir, lelaki tua itu, hampir saja mengeluarkan air mata, setiap ia melewatinya: bahwa ia tak rela—penahan goncangan gempa itu di obrak-abrik. Hari itu, ia terdiam—menunduk memandang kosong ke dasar laut.  

“Pak, di sini ada perang?” tanya Ito memecah pandangan kosongnya.

“Haa.. perang?” jidatnya mengerut—berkerucut menjadi banyak dan menyatu penuh layu.

Ia terdiam keheranan.

Lalu berujar:

“Kamu sedang menyinggung gunung yang sudah runtuh itu, nak? Itu alat-alat perusahaan pertambangan. Mereka punya legalitas meruntuhkan gunung-gunung itu. Kemungkinan selembar—dua lembar kertas diberikan kepala Daerah kepada mereka. Ironi! Saya juga tak pernah membayangkan terjadi seperti ini. Lima tahun lalu nak, pohon-pohon masih berdiri kokoh di sana. Burung-burung masih terlihat bermain—gembira di sana. Di atas pohon-pohon itu. Tapi sekarang? Sekarang tinggallah kenangan. Biarlah alam yang membalasnya!” ujar Pak  Pak Samir senduh.

“Ini musibah. Musibah yang di buat manusia. Hukum kausalitas namanya, Pak Samir. Ada sebab—ada akibat. Di sini sudah pernah terjadi bencana alam?”

“Aduh! Jangan tanyakan itu nak. Banjir dan longsor sudah menjadi langganan di sini setiap tahunnya. Pernah, gunung di sana sempat runtuh, menutup beberapa rumah dibawahnya. beruntung saja, dalam rumah itu tak ada orang. Tapi kerugian jelas melimpah,” jawab Pak Samir lugas sambil menunjuk tanah-tanah tak berpohon.

“Oh ya! Trus, bagaimana pertanggungjawaban pihak perusahaan?”

“Tanggung jawab? Apa mereka mau bertanggung jawab? Paling mereka serahkan ke pemerinah daerah di sini, bahwa itu adalah musibah bencana alam. Apalagi, dana CSR telah dikucurkan beratus-ratus juta.”

Pak Samir menunjuk-nunjuk ke arah sana. Arah barat. Sebagai wujud prihatin atas kerusakan ekologi itu, Pak Samir sempat meng-upload gambar-gambar ke internet—agar diketahui publik. Pak Samir mengecam. Murka. Benci. Wajahnya bengis.

Gunung itu, memang sudah tak ada harapan lagi untuk dipulihkan sebagaimana mestinya. Senasib dengan cagar alam yang akan Ito jumpai. Hutan yang sakral. Tak ada se-manusia-pun yang berhak mengambil sebutir pasir didalamnya. Tapi, ke-sakral-annya, sama sekali tak berlaku para konglomerat perambah nikel beserta ikutannya!!!

*******

Perahu telah bersandar di pelabuhan. Hutan-hutan mangrove di babat habis begitu luas. Begitu ramai di pelabuhan. Orang pergi dan datang silih berganti mengisi pelabuhan. Satu kecamatan. Ada dua belas desa. Hanya satu akses. Naik perahu.

Beberapa meter dari pelabuhan kecil itu, mesin-mesin Made in China mengaum mengumpulkan ore nikel. Di belakangnya, ada tumpukkan tanah tertutup terpal biru. Sebelum masuk ke desa sebelah, ada pemeriksaan ketat oleh pihak pengaman perusahaan tambang itu. “Ahh, apa pula kebijakan seperti ini. Ini tak adil,” pikir Ito.

Saat itu, Ito sama sekali belum memiliki Kartu Tanda Penduduk. Dalam dompet, hanya ada SIM dan Kartu Tanda Anggota di Organisasi Pecinta Alam. Ito lalu memutuskan mengeluarkan SIM. Satpam berpostur tinggi—kekar itu, mencatat di buku tamu. Di belakang pos pengaman itu, seorang lelaki berambut lurus bermata cipit sedang menghidupkan komputer. Seketika ia menengok kearah Ito. Saat di tanya, “dia direktur perusahaan di sini. Ia berkebangsaan China,” jawab satpam itu singkat kepada Ito.

*******

Ito kembali tercengang, ketika ratusan pohon mangrove terdapat jalan sebagai pelintas truk pengangkut ore nikel. Ito lalu berbalik arah.

“Pak Samir…Pak Samir…” panggil Ito.

“Iya, Nak. Ada apa?” jawab Pak Samir dari kejauhan.

Pak Samir kemudian beranjak. Ia menghampiri Ito yang pelan-pelan mengeluarkan kamera mini, sebagai dokumentasi perjalanannya.

“Ada apa nak?”

“Pak Samir. Bapak tahu, kira-kira berapa meter jalan ini menuju ke pelabuhan pengangkutan ore nikel?” tanya Ito menunjuk ke arah jalan itu.

“Dua ribu meter, nak?

“Haaaa… dua kilometer?”

“Dua ribu meter! Bukan dua kilometer.”

“Ohh, iya. Maaf Pak, saya hanya kalkulasikan saja. Seribu meter itu, sama dengan satu kilometer. Jadi, jika dua ribu meter, maka sama dengan dua kilometer. Begitu Pak,” jelas Ito sambil membuka kameranya.

“Nak, ada yang lebih parah lagi. Di sana, di desa sebelah. Penggalian dilakukan tak jauh dari rumah saya. Mungkin kita bisa kesana. Oohh ya, kalau boleh tahu, kamu kepentingan apa datang kemari?”

“Tidak pak. Saya hanya ingin memastikan saja, apa betul cagar alam di sini di obrak-abrik perusahaan tambang atau tidak. Dan, ternyata betul adanya pak.”

Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Di belakang rumah Pak Samir itu, kondisinya hampir sama dengan yang mereka lihat diatas perahu tadi. Ada bibit bencana di sana.

“Jalan pengangkut tadi, nak, itu masuk dalam kawasan cagar alam,” ujar Pak Samir.

“Yang kami tak mengerti, mengapa masyarakat disini, mengambil kayu bakar saja dilarang. Nak Ito saksikan sendiri kan perusahaan membabat hutan itu. Nak Ito tahu, mereka sama sekali tak dilarang.”

“Ohh.. cagar Alamku! Beginikah nasibmu sekarang?” keluh Ito.

Bantaya Lanoni, 21 Oktober 2013

Discussion

  1. Felicity
      • Felicity

Leave a Reply