Amir

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*******

IMG_4058“…aahhh…. Pusing saya menulis. Mungkin sudah lama tidak menulis cerpen. Dan akhirnya, cerpen berjudul Amir ini saya terbitkan saja. Tulisan ini, sebetulnya sudah lama di laptop, namun tidak pernah tersentuh lagi. Mestinya, saya harus edit dulu. Tapi tidak, meski tak berarti apa-apa, asal hati saya senang…”

Dari kejauhan, terdengar jelas suara anak-anak berteriak—bermain saling kejar. Rerumputan yang tinggi tak mampu menghalau suara—parau itu. Menekan ruang tanpa penuh kepalsuan. Ruang bebas namun penuh kehampaan. Namun satu hal, bahwa ada ketidakwajaran yang bisa di terka di sana: sepasang bola mata memadu pilu menatap kosong ke segala penjuru mata angin. Bukan berarti ia ingin melihat angin, bukan pula menerawang kenapa angin

tak bisa di lihat? Akan tetapi, bola mata itu punyai makna mutlak, bahwa ia sedang tersandung kesusahan hidup. Jika dibandingkan dengan anak-anak sebayanya—di sana, kawan-kawannya lagi bermain—gembira di halaman sekolah.

Tubuh kurus. Rambut acak-acakan. Mata sedikit memerah. Kini telah bersandar di bawah pohon nangka—melipat dan menekuk kedua lututnya.

Amir, anak itu, ia betul-betul tak memanfaatkan waktu untuk sekedar me-refresh otak setelah beberapa jam menerima mata pelajaran dari ibu gurunya. Semenjak beberapa hari lalu, ia terus-menerus merenung. Sepertinya, ada untaian protes atas nasib hidupnya yang sedemikian rumit. Ia seolah-olah bertanya, “mengapa orang tuanya begitu cepat di panggil Tuhan?”

Hanya menjelang, dua minggu, ibunya menyusul ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Ia betul-betul tak tahan dengan nasib yang ia jalani itu. 

Seragam sekolahnya lusuh—tak pernah di seterika. Warnanya pun sedikit memudar penuh noda. Sudah tak putih cemerlang seperti awalnya. Jika bicara soal seragam, kelihatannya bukan hanya Amir—yang lainnya pun demikian. Compang-camping seperti tak terurus. Atau memang demikian adanya? Entahlah!

Amir masih saja terus melempar pandangan kosong ke sebuah benda tak jauh darinya. Lalu berlahan-lahan ia merebahkan tubuhnya direrumputan menghijau dibelakangnya. Di bola matanya yang bulat—berjingga; ada sedikit percik harapan yang bisa saja pupus. Yang membuatnya sesekali duduk melengkung seperti udang di dalam minyak mendidih.

“Ada apa denganmu wahai adik?” tanya Dedi dengan penuh haru.

Amir hanya berdiam. Ia acuh dengan pertanyaan itu. Seolah-olah ia tak mendengarnya.

“Hei, Adik, kamu kenapa? Ada yang bisa kakak bantu?” tanya Dedi sekali lagi.

Terdiam.

“Baiklah, dik, jika adik tak juga menjawabnya. Kakak punya permen. Maukah adik?!”

Dedi mengambil permen dari dalam kantong celana berwarna hitam itu. Masih tersisah lima buah permen. Semua diberikannya ke Amir. Amir masih saja tak menengok. Hampir kehabisan akal Dedi membujuk Amir agar segera buka mulut. Bukan perkara mudah bagi Dedi.

“Dik, kenapa tak ikut bermain dengan teman-teman adik?”

Masih belum juga terjawab, Bel tiba-tiba berbunyi. Tanda istirahat telah usai. Amir tak juga bergerak. Sementara, teman-temannya berlarian—berebutan  masuk ruangan.

“Dik, waktunya masuk!” seru Dedi.

Seiring dengan pintah itu, kembali hati Amir bergejolak membingkai seperti ada kepalsuan. Menabrak semua yang telah masuk logika Amir. Metafisika apa lagi ini? Semua hancur lebur menjadi seperti sandiwara. Apa yang dikhawatirkan Dedi selama ini, hampir sepenuhnya menjadi kenyataan: adalah jika Amir putus asa, dan tak ingin melanjutkan pendidikannya  itu. Pun, jika Amir terlarut dengan kehidupan penuh depresi berat.

Ruangan sekolah, yang mencerminkan, bahwa itu adalah bukan sekolah. Dilihat dari luar saja, bahwa itu bukan gedung sekolah, melainkan gudang kopra milik tengkulak kampung. Siapa yang berani, menyatakan kalau itu gedung sekolah, mungkin matanya perlu di periksa ke dokter  ahli mata. Sekolah  hampir roboh. Ruangan hanya ada tiga. Satu kantor. Dan, dua ruangan belajar. Itupun hanya terbuat dari kayu. Gurunya hanya empat. Honor pula. Muridnya hanya puluhan.  

Jika hujan datang, maka bisa saja titik-titik hujan dengan polosnya jatuh ke lantai bertanah itu. Jadilah becek. Dan, ruangan pun tak bisa di pakai lagi. Kata gurunya, “tak ada dana pemerintah sepersen pun di pakai di sekolah ini.” Guru itu bergeming.

Pak Darmin, kepala sekolah, yang sekaligus mendirikan sekolah itu, telah beberapa tahun lalu memberikan proposal bantuan dana ke pemerintah, namun tak pernah ditanggapi. Umur Pak Darmin menginjak 60-an tahun itu hampir putus asa seperti muridnya: Amir. Pak Darmin juga hampir setiap harinya merenung. Apalagi jika malam tiba, maka duda beranak tiga itu, selalu saja memukul jidat di teras rumah panggungnya yang juga hampir roboh.  Maka tak heran, Pak Darmin sama sekali tak pernah menasehati Amir yang hampir putus asa.

Ke sekolah, Pak Darmin harus lebih pagi dari siswa dan guru honor itu. Aku tahu, jika semuanya berjalan bersamaan, maka dalam perjalanan itu hanya berbalut kesedihan mendalam, atas situasi sekolah juga, atas nasib diri sendiri.

*******

Badai angin dan hujan di pagi itu. Sebelumnya,  pada malam minggu kliwon, hanya badai hujan saja yang menghantam kampung mereka. Atap sekolah berterbangan. Tiang bendera yang terbuat dari bambu; patah. Para pengajar dan pelajar harus berlarian keluar. Meski basah, asal resiko kurang. Di timpah reruntuhan sekolah, harus di hindari, sebab sudah berpuluh-puluh kali mereka terkena. Lebih-lebih Amir. Amir, sempat di larikan kerumah dukun setempat sebab, balok dari  plafon menimpalinya. Kepala Amir berdarah.

Cabang pohon berhamburan. Yang lapuk. Yang utuh—masih mudah. Tak terkecuali. Habis diterpa badai angin. Beterbangan. Semua harus menengok ke atas. Jika tidak, maka siap-siap menyerupai kepala Amir. Atau tidak, bagian yang lain cedera.

“Huuuusstttt… cobaan apalagi ini, yah Tuhan ku? Bukankah engkau lihat, bangunan sekolah yang mencerdaskan anak bangsa ini hampir roboh? Bukankah engkau tahu, yah Tuhan ku pemerintah sama sekali tak mempedulikan pendidikan di pelosok ini? Ohh… Tuhan ampuni jika kami memang bersalah.” Pak Darmin berdoa. Ia rebahkan lututnya di tanah yang becek. Murid-muridnya sebagian bermain, sebagian pula di belakangnya.

 Tak ada yang bisa diharapkan. Tak ada yang bisa menghentikan gejolak angin dan hujan terus—menerus menerpa. Kecuali: Tuhan.

Bibir Pak Darmin tak berdarah. Pucat—pasih seperti orang ketakutan. Hhmm… mungkin saja ia kedinginan. Tapi, sederhana menerjemahkannya: adalah selain dingin, ia juga berpikir apakah masih ada guru dan siswa di dalam sekolah itu? Selanjutnya, ia berpikir bagaimana cara memperbaiki gedung sekolah yang porak-poranda?

Ini nasib. Nasib negeri kaya namun masih banyak yang miskin. Nasib negeri 360 tahun di jajah tanpa ampun. Hhmm.. sekarang? Sepertinya, sekarang masih juga di jajah. Setidaknya penjajahan gaya baru. Itu yang lebih trend sekarang.

Bantaya Lanoni, 16 November 2013

Discussion

Leave a Reply