Jika Saja Landreform Itu Berjalan.

Pada taraf sekarang ini… landreform di satu pihak berarti penghapusan segala hak-hak asing, dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah, dan mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur, di lain pihak landreform berarti memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk seluruh rakyat Indonesia terutama kaum tani…

Ya! Tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan!

Tanah Untuk Tani!

Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah! Tanah tidak untuk mereka yang dengan duduk ongkang-ongkang menjadi gendut-gendut karena menghisapan keringatnya orang-orang yang disuruh menggarap tanah itu!” Soekarno.

Begitulah kira-kira pidato Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959. Pidato itu menjadi lembaran baru bagi pemecahan masalah agraria di Indonesia. Pidato Soekarno tersebut, menjadi dasar pembahasan kebijakan landreform oleh Dewan Pertimbangan Agung.[1]  Apa yang diharapkan oleh Soekarno tentang kesejahteraan rakyat, menjadi kandas ketika, perintah pimpinan nasional pada masa itu, di pelintir oleh pimpinan-pimpinan daerah, dalam hal ini para Kepala Kecamatan dan Kepala Desa. Pertanda buruk bagi perjalanan landreform.

Itu persoalan lain. Soal di atas adalah soal kepemimpinan Soekarno, yakni masa Demokrasi terpimpin yang pernah beliau canankan di republic ini. Ya, kemungkinan dari dasar itulah Pramoedya Ananta Toer menganggumi Soekarno, dan saya, menganggumi keduanya. Kedua tokoh nasional tersebut.

“Haaa? Apa?” tanya seorang teman.

Saya terdiam. Hanya melemparkan senyuman khas. Saya tahu, temanku itu kaget yang sekaligus digabungkannya menjadi sebuah pertanyaan. Sebab, selama saya berteman dengannya, sama sekali tak pernah keluar dari mulutku yang tersambar di gendang telingannya mengenai kedua tokoh nasional itu.

Saat itu, saya bersama kedua orang teman saya lagi beribur di suatu desa. Jika bisa menggambarkan melalui tulisan ini, saya akan menggambarkannya. Begini:

Setelah semuanya saya mengikuti kegiatan di Bogor, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah seorang teman lama. Ia begitu senang ketika mendengar berita, bahwa hanya beberapa kilometer jarak antara saya dan teman saya itu. Ia pun bersedia menjemput saya. Kami bersalaman.

“Saatnya kita berlibur,” katanya. “Kita mesti ke kampung ayah saya,” rayunya.

“Apa yang menarik di sana?” tanyaku penuh penasaran. Saya melanjutkan pertanyaan kedua. “Di mana kampung ayahmu, teman?”

Ia tak menjawab kedua pertanyaan itu. Ia lalu menarik tanganku, hendak membeli tiket bus. Saya hanya mengikuti saja. Lagipula, saya bisa mengelak ada kegiatan ketika di sana harus berlama-lama. Mungkin saya juga harus membutuhkan melihat daerah-daerah lain dipedesaan, hingga pada waktunya bisa melihat Indonesia secara keseluruhan. Pun rakyatnya. Huumm.. sebelum melanjutkan, saya teringat Minke. Ya. Minke seorang anak muda yang menjadi tokoh dalam tetralogi buru, Pramoedya Ananta Toer. Minke dipaksa berjalan-jalan—melihat kaum pribumi lain di Hindia—saat itu. Ettsss… mari kita lanjutkan:

Tibalah kami di terminal. Lupa, terminal apa namanya. Kami menempuh bersama puluhan penumpang lain di dalam bus sekitar tujuh jam. Saya tertidur lelap di dalam bus.

Kedua kawanku lalu segera menghubungi keluarganya di kampung. “jemput,” katanya melalui pesan singkat di handphone.

Maka datanglah dua orang memakai sepeda motor untuk menjemput, lalu berangkatlah kami. Melewati lereng gunung, lalu menanjak, menurun, menanjak lagi, menurun lagi, begitu seterusnya, hingga tiba di ujung kampung itu. Nah, sekarang saatnya menggambarkan desa itu secara utuh namun serampangan:

Namanya Desa Cintamanik Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Desa itu terletak di kaki gunung, entah gunung apa namanya. Saya tak tahu persis. Yang jelas, desa itu adalah kelahiran ayah temanku: Ika. Sekali setahun, Ika berlibur atau sekedar berkunjung di kampung kelahiran ayahnya itu. Itu ia ungkapkan kepadaku setahun yang lalu. Kini, nyatalah cerita yang saya anggap dongeng itu.

Ketika kami berjalan dan menengok ke kanan, maka di sana ada pula kampung yang juga terletak di kaki gunung. Jadi, di antara kedua kampung itu, ada aliran sungai yang begitu deras—diapit oleh dua kampung—kampung bagai surga di dunia.  

“Ini yang kamu perlihatkan kepadaku, Ika?” Ika hanya tersenyum pula. Tak sepatah kata yang ia keluarkan. Ia lalu menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Ia menikmati udara pagi di Cintamanik itu.

Rumah-rumah berjejer rapi. Nampaknya penataan ruangnya di rancang sedemikian rupa—rapi bagai pagar hidup disebuah taman ditengah hiruk—pikuk perkotaan.  Juga, ada ratusan hektar hamparan sawah di bawah sana. Sawah itu bertingkat-tingkat—mulai dari ketinggin hingga pada titik rendah. Indah teman. Siapapun melihatnya, pasti terkagum melihat pemandangan alam itu. Sungguh!

Apa yang diharapkan Soekarno mungkin terwujud di kampung ini. Itu hanya terkaanku. Bisa benar, bisa juga salah. Saya tak tahu pula, apakah ada ancaman perusahaan pertambangan di sana atau tidak. Juga, apakah ada ancaman perkebunan kelapa sawit atau tidak. Sama sekali tak punya data dan tak tahu-menahu soal itu. Tapi, mata kepala saya sendiri melihat. Melihat petani di sana begitu damai dan sejahtera. Rumahnya megah-megah. Berbeton—hampir semuanya. Saya betul-betul ingin menghabiskan waktu  di kampung itu. Iya, bisa jadi, Marhaen-marhaen seperti apa yang di katakana Soekarno, ada di sana. Mungkin!

Bertepatan turunnya hujan. Suhu begitu dingin. Sedikit-sedikit perut berbunyi—keroncongan. Ini tak seperti biasanya. Kabut berlahan-lahan naik. Menenggelamkan pemukiman di sebelah sana. tak kelihatan secuil pun. Tiba-tiba terdengar suara:

“Kamu sungguh betah di sini?”

“Iya.” Singkat, jawabku. Lalu, “baru beberapa jam saja kita di sini, kabut-kabut itu telah menghalangi pemandangan yang memanjakan mata ini. Sungguh saya mengecamnya.”

Ia lalu pergi. Tenggelam di balik dinding.

Ika, dengan tubuhnya yang tak  begitu berisi, maka ia selalu terserang dingin—menggigil di balik selimut tebal berwarna kecoklatan. Tubuhnya terus-terusan bersembunyi di balik selimut itu. Dan saya, duduk di teras membaca buku. Buku yang baru ku beli di toko buku. Sesekali saya menengok ke bawah, kabut tak juga membukakan sayapnya.

*****

Nah, itu sedikit gambarannya, teman. Sekarang, mari kita lanjutkan cerita ini.

Esoknya, di pagi hari yang cerah. Kelihatannya, awan-awan tak berani menghalangi sinar mentari. Pagi itu, para petani di desa itu telah mengayun-ayunkan cangkulnya. Adapula yang membawa sabit. Para ibu, sibuk menjemur padi hasil panen beberapa bulan kemarin. “betapa damainya hidup di sini,” pikirku.

Ika belum juga terbangun. Ia masih dimanjakan oleh selimut tebal itu. Ini keterlaluan. Apakah saya egois? Tidak membangunkan Ika untuk sekedar memandangi—pemadangan  yang langkah di bumi ini? Atau setidaknya baru kali ini kulihat? Aahh, biarkan ia menikmati tidurnya. Dalam suasana yang seperti itu, saya tak juga beranjak ke halaman berikutnya. Mataku dimanjakan oleh fatamorgana itu. Ada semacam bayangan bidadari yang memanggil-manggil di tengah sawah sana. seolah-olah ia mengajakku bermain di tengah persawahan yang sudah mulai menguning itu. Aahh, ku kocak-kocek mataku. Namun bayangan itu masih saja tak beranjak. “Ini mimpi?” bisikku dalam hati.

Seketika saya melupakan bayangan bidadari itu. Saya teringat apa yang di tuliskan Pram mengenai Minke. Minke dalam tokoh tertralogi buruh: Anak Semua Bangsa itu. Di tuliskannya di sana:

Pak Trunodongso, seorang petani dari ribuan petani di Jawa, terusir dari sawahnya—sawah tersubur dengan irigasi terbaik—oleh pabrik gula milik kolonial: dengan bantuan Punggawa Desa…

Bagaimana jika hal itu terjadi di Kampung Cintamanik ini? Bagaimana nasib mereka nantinya. Duh, ini kan bukan zaman Kolonial lagi. Iya kan? Semua berkecamuk sendiri dalam pikiran ini. Tapi? Tapi apa? Belum juga terjawab olehku sendiri, Ika terbangun. Hanya mengeluarkan kepalanya dari pintu—ia masuk lagi. Tak jelas apa maksudnya.

Tapi? Bagaimana dengan daerah-daerah yang lain di zaman ini. Zaman modern katanya. Banyak petani-petani dipedesaan yang dirampas tanahnya oleh korporasi pertambangan ataupun perkebunan kelapa sawit. Semua rakus-rakus. Mengambil tanah begitu luas. Ini bisa dilihat dari buku Reforma Agraria oleh GW:

“Politik dan kebijakan agrarian di Indonesia selama ini, telah menimbulkan tragedy sosial yang amat kejam: tersingkirnya petani dari tanahnya untuk di giring menjadi buruh industry yang murah. Berawal dari sinilah konflik agrarian dan kemiskinan terus berakumulasi yang menjadi bibit-bibit lahirnya gejolak sosial yang lebih luas.”

Nah, sekarang, jika saja landreform itu  berjalan?

Bantaya Lanoni, 18 Januari 2014

 

  

 


[1] Andi Achdian, Tanah Bagi Yang Tak Bertanah: Landreform Pada Masa Demokrasi Terpimpin 1960-1965, Kekal Press, Bogor, 2009. Hlm., 62

Discussion

Leave a Reply