Indro

Oleh: Moh. Rifa M. Hadi

*****

542915_243481775761957_31643180_nIa anak pertama dari tiga bersaudara. Umurnya sekitar 27 tahun. Tahun 2010, ia baru saja menyelesaikan Strata Satu nya. Namanya Indro. Setelah panjang lebar ia bicara mengenai pengalaman yang menurut telinga dan pikiran Ali: hampa. Tak berarti apa-apa. Hanya buat makan hati anak orang. Itu ringkasnya.

Blak-blakan Indro berbicara. Sedang Ali, hanya bisa menangkap kata demi kata hingga tersusun menjadi kalimat yang tak beraturan. “Ini tentang kisah yang buruk” pikir Ali. Namun, Indro masih terus-menerus mengkomat-kamitkan mulutnya hingga hampir berbusa. Layaknya seorang kakek yang menceritakan sejarah perjuangan para pahlawan dalam mengusir Kolonial Belanda. Atau, seorang nenek yang mengajarkan cucunya menganyam sambil menceritakan pengalaman sang nenek di waktu masa mudanya.

Masih berbobot cerita nenek dan kakek.

Bunyi—bising knalpot kendaraan bermesin Jepang dan China memotong suara Indro. Maka Ali sesekali harus mendekatkan telinganya ke mulut yang sedang berkomat-kamit itu, meski kadang menyebalkan.

“Kawan.” Kata Indro pelan. Ali mengangguk pelan. Dan, Indro melanjutkan, “dulu aku sering keliling. Merintangi panas dan hujan yang menyambar. Tak peduli akan rasanya lelah ini. Hanya untuk kesenangan. Hidup ini di buat senang, kawan. Jika tidak, maka tak berarti apa-apa hidup ini.”

Ali menyimak. Indro terus melanjutkan:

“Kami berombongan dengan mengendarai—kendaraan roda dua. Biasanya, seminggu sekali kami harus menjelajahi bumi pertiwi ini, namun belum mampu menyeberang pulau. Sebab, butuhkan dana yang begitu banyak.”

Dalam hati Ali berkata, “Hanya untuk kesenangan? Tak ada yang lain? Ada yang lebih dari itu? Manfaatnya?”

Malam itu, betu-betul malam yang sangat membosankan bagi Ali. Menurut Ali, Indro suka dengan hedonisme. Ali yang tak suka dengan kegiatan hedonisme yang demikian itu. Dalam hati ia juga merontai-rontai. Namun, telinganya masih saja menyimak:

“Hingga sekarang, Li. Hingga sekarang, aku masih suka yang demikian itu. Aku betul-betul ketagihan. Biar begitu, aku tak lupa akan kewajibanku di kampus. Sekarang aku sudah menyandang gelar sarjana. Namun aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin bersantai menikmati hidup ini, Ali.

Ali mengerutkan Jidat. Ia pasrah mendengarnya. Padahal dalam hati ia jengkel minta ampun. Lalu Indro melanjutkan—berbisik:

“Kamu mau melakukan hal serupa?”

Ali terdiam. Ia angkat kepalanya dan menengok ke plafon yang mulai memudar itu. Ali masih juga tak menjawab. Dalam hati ia berpikir “inikah yang dinamakan sarjana? Lebih tinggi dari SMA?” dan ia tak melanjutkan lagi.

Hujan turun. Hanya kendaraan beroda empat yang kedengaran melintasi jalan depan rumah. Roda dua? Tentu pengemudinya tak berani berbasah-basahan jika tidak memakai jas hujan.

Dan, Ali mulai angkat bicara:

“Ndro! Apa yang kau inginkan di dunia ini? Apakah hanya bersenang-senang? Apakah hanya jalan-jalan tak jelas itu? Bukankah keluargamu sekarang ini. Dengan kondisi sekarang ini. Yang nyata-nyata ini—kamu tak prihatin Ndro? Jika ia, lantas, mengapa kamu terus-terusan berprilaku sebagai tak penyayang kepada keluarga kamu? Mengapa kamu tak juga mencari nafkah untuk keluargamu sendiri. Kan kamu tahu, Ndro,” Ali mengambil nafas sebentar. Ia melanjutkan:

“Bapak kamu sudah tak ada. Adik kamu, dua-duanya wanita. Dan mereka, masih juga kuliah. Ibumu, juga sudah tua—tak mampu menafkahi kalian. Setidak-tidaknya, kamulah yang menjadi kepala keluarga di rumah ini. Apakah kamu masih tega dengan itu, Indro? Sekarang, kamu sudah menyelesaikan kuliah kamu. Dan itu sudah terjadi dua-tiga tahun lalu. Lantas, apa abdimu kepada ibumu setelah itu, Ndro?” Indro hanya terdiam. Ia menunduk dibawah cahaya lampu sebelas watt. Ali melanjutkan ceramahnya:

“Kamu tak perlu melakukan hal itu. Bisa saja, asal jangan keseringan. Asal kamu tahu, bahwa kamu punya keluarga yang betul-betul membutuhkanmu disini. Di rumah ini, Ndro. Indro, jangan sampai kamu di cap menjadi anak durhaka kepada orang tua kamu sendiri. Apakah kamu sudah bersikap adil dengan keluargamu sekarang ini? Jika tidak, maka berikanlah mereka keadilan menurut versimu apa itu keadilan. Apakah kamu sudah memberikan mereka kebahagiaan. Jika belum, maka berikanlah mereka kebahagiaan menurut versimu sendiri, apa itu kebahagiaan.”

Indro tersedu-sedu. Hanya membisu seribu bahasa. Kata-kata dari Ali, begitu memukul perasaannya. Ia seolah menyesal apa yang ia lakukan kepada keluarganya selama bertahun-tahun. Cicak berdering keras satu—dua suara. Mereka seolah mengiringi suara Ali yang lagi ceramah.

“Apa kamu menunduk demikian itu betul-betul memikirkan tingkahmu yang notabenenya tak membahagiakan itu?” Indro masih tetap memperlihatkan aksi tutup mulut.

“Sadarlah!!! Kau anak tertua di keluarga ini. Kau mesti tahu diri mulai dari sekarang. Mereka membutuhkanmu. Membutuhkan anak pertama yang  miliki rambut keriting. Ndro, ketika mereka memberikanmu uang pendaftaran masuk di kampus yang kamu impikan itu, sebenarnya mereka sangat berharap besar, bahwa kamu akan menggantikan bapakmu yang sakit-sakitan waktu itu. Ketika bapakmu sudah tak tiada lagi di tengah-tengah keluarga ini, untung saja kamu sudah dalam tahap penyelesaian. Jika tidak, kamu akan putus kuliah, Ndro. Kamu ingat itu?”

Air mata Indro tersentuh lantai berkeramik itu. Tapi Ali tak percaya, “Ahhh, air mata buaya,” pikir Ali.

Menurut Ali, Indro masuk kategori anak durhaka: membentak ibunya. Di kala manusia-manusia lain sibuk menguras tenaganya demi sesuap nasi, maka Indro, kadang hanya berdiam di rumah, atau keluyuran tak jelas. Betul-betul manusia aneh di zaman modern ini. Padahal, hidup hanya sekali. Indro tak memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Tiap hari bertengkar dengan ibunya. Adu mulut—hampir setiap jam. Lalu pergi, dan kembali beberapa jam kemudian, dan berulah lagi. Begitu seterusnya.

Jauh di lubuk hati Ali seolah bersumpah:

“Kamu, Indro—anak durhaka di zaman modern ini, tak mampu membalas semua budi ibumu—ayahmu yang sudah tiada itu. Ketika hari-hari sekarat itu datang padamu, Indro, kamu akan menyadari semuanya, bahwa kamu hanya menyia-nyiakan waktumu yang berbau hedonisme itu. Meliberalkan otak dan prilakumu kepada keluargamu yang kecil itu. Semoga kamu, Indro, sadar dengan prilaku mu yang sekarang ini. Sadar, bahwa kamu adalah tulang punggung dari keluargamu: Ibu dan kedua adik perempuan mu, Indro.”

Saat-saat sepi telah tiba—tak ada lagi bising mobil dan motor buatan Jepang atau China itu—Indro menekuk lutunya yang agak panjang dan sedikit tak berdaging. Sesekali ia angkat kepalanya yang sedari tadi menunduk palsu.  Sampai pada waktunya: semua tertidur lelap.  

*****

Pagi ini, Ali, sebagai tamu istimewa di rumah itu, masih tertidur lelap di tengah derasnya hujan. Biar begitu, pesawat dengan berbagai merk  itu berlalu-lalang di udara. Dan, Ali terbangun, ketika mimpinya menghampiri di suatu taman bunga: Edelweis. Kala itu—dalam mimpi Ali—ia mengurai rambut yang sudah mulai memanjang itu. Sepeda, miliknya, tiba-tiba berubah menjadi putih—mulus tak berkarat. Sebelumnya ia melewati kolam ikan yang dipenuhi ribuan jenis ikan—pun berwarna-warni. Beberapa meter ke depan, disanalah, di arah sana, matanya tak berkedip sekalipun ketika menyimak padang edelweiss itu. Ali menghampirinya—saat itu pula, suara bising pesawat membangunkannya. Gagalah Ali ke istana Edelweis itu.

 Ia lalu mengusap wajahnya dengan air bening nan dingin. Tak ada dijumpainya seorang pun di rumah itu. Indro tak ada. Kedua adiknya juga tak ada. Apalagi ibu nya. Saat-saat demikian itu, Indro menyempatkan untuk menulis catatan harian—mencatat apa yang ia rasa, ia dengar, dan ia lihat beberapa jam yang lalu.

Matahari tak juga menampakkan wujudnya. Hujan masih saja menyambar tanah. Kali belakang rumah Indro naik beberapa centimeter. Ali khawatir.

Tak berapa lama, muncullah Indor dari pintu dapur. Desas-desus nafasnya terdengar dari kejauhan.

“Dari mana kamu, Indro?” tanya Ali tanpa menengok. Tetap fokus pada catatannya.

“Belakang,” jawab Indro singkat, penuh nada kesal, entah kenapa.

“Apa ada yang salah aku perbuat?” pikir Ali. Ali melanjutkan dalam pikirannya yang sedikit berhati-hati dalam berpikir, “apa Indro bertengkar lagi dengan ibu nya?”

Terputuslah pertanyaan-pertanyaan yang mencurigakan dalam pikiran Ali, ketika Indro mengangkat bicara sambil menghampiri Ali:

“Aku kesal dengan ibu ku. Tiap hari, tiap jam, bahkan tiap menit mengomel terus-menerus, tanpa mempedulikan telingaku yang sudah bosan dengan itu. Telingaku sudah hampir berdarah, Li. Hampir berdarah dengan omelan-omelan itu. Rasa-rasanya, aku ingin menutup semua lubang  telingaku, biar saja mulut ibu ku yang besar itu berteriak-teriak, bahkan biar tiap detik.”

Ali hanya mengerutkan jidat, dan menggoyangkan kepala, entah tanda apa.

“Aku ini sudah dewasa. Sudah tak zamannya di marah-marah seperti anak Sekolah Dasar begitu. Aku sudah sarjana Ali. Sarjana.” Indro menggoyang-goyangkan tubuh Ali, mengisyaratkan bahwa Ali harus sepakat dengan Indro.

“Seharusnya, kamu yang mesti berpikir, Ndro. Kamu pun sepakat, bahwa kamu itu sudah dewasa. Apakah pikiran dan tindakan kamu itu sudah dewasa?” Indro gusar mendengar pertanyaan yang memukul pembulu nadi itu.

Indro terdiam. Betul-betul terpukul. Menggaruk-garuk kepala tak bergatal.

Bantaya Lanoni, 23 Januari 2014

 

Leave a Reply