Tak Juga Bisa Tertidur

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*****

…Sebuah catatan kusam dilarut malam tak berbintang…

DSC_0604Ini seperti dalam mimpi. Ada hal aneh beberapa malam ini ku alami. Dan ini nyata. Hatiku gelisah, pun penuh amarah. Pikiranku kacau. Hingga pada membunuh mentalku. Bunga dalam hatiku kini telah layu. Satu persatu berguguran menyentuh tanah yang tak berhumus lagi. Masih adakah setitik harapan disana? Ataukah ini hanya angan-angan yang menciplak mimpi orang?

Mendung kala itu, menjadi satu pertanda, bahwa tak ada lagi kekuatan jiwa. Atau, Tuhan sudah menakdirkan mengambil sedikit jiwaku?

Dimana kedamaian yang dulu? Mengapa secepat ini berubah? Bagaimana aku bisa mengembalikannya lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu kini melayang-layang dalam kegelapan ruangan yang pengap dikala aku duduk dilantai berkeramik. Ada semacam sisa-sisa harapan yang kelak akan pupus diterpa badai angin bercampur hujan. Ada semacam mimpi yang bisa saja tamat ketika terbangun karena titik hujan menyentuh wajah. Lantas, apa yang harus kuperbuat?

Hei, kau yang di sana, di kau harus hadir dalam mimpiku, yang hingga saat ini aku tak mampu tidur terlelap. Lalu, bagaimana bisa bermimpi? Ini hal aneh. Ini bukan perkara muda. Di kala aku terkagum-kagum padamu, kenapa kamu harus menghindar dan pergi jauh dariku? Adakah hal yang ingin kamu beritakan kepadaku yang baik-baik?  Jika ada, hadirlah dalam mimpiku.

Kamu menyuruhku tidur? Aku jawab: aku tak bisa.

Aku di sini hanya mampu berbaring, menatap kosong hingga saat ini, dan pikiran terus melayang. Sungguh, aku tak sanggup dengan cara-cara yang seperti ini. Aku hanya mencoba bangun dan berjalan beberapa langkah. Lalu, aku kembali berbaring. Hanya itu yang bisa aku perbuat. Hanya itu keahlianku akhir-akhir ini.

Bisakah kamu menemaniku di sini, agar aku bisa tertidur pulas, tanpa ada rasa ragu? Aku berharap demikian itu.

Malam ini, bintang tak lagi berkedip seperti biasanya. Ia bersembunyi di balik awan yang gelap. Bulan pun demikian. Saat ku tatap berjuta-juta kali ke langit sana, ia masih saja tak Nampak. Jika sama cuaca di sini dan di eropa sana, bisa di pastikan, di sana pun tak ada bintang menerangi bumi.

Aku berdiri di bawah langit ini. Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin, agar kamu mendengarnya. Ingin rasanya aku berlari, hingga terbang dan mampu mengusir awan gelap, agar bintang terlihat dari bumi. Tapi. Tapi aku tak bisa. Aku hanya sang pemimpi yang tak pernah tidur jika ingin bermimpi. Aku hanyalah kumbang yang tak memiliki bunga.

Untuk itu, bisakah kamu menemaniku di bawah langit ini? Bisakah kamu ikut bersamaku, jikalau kamu tak bisa tidur, akan pergi ke langit sana. Jika kita bertemu bintang, aku akan sediakan kamu tempat duduk yang nyaman di sana. Aku bersedia duduk di sampingmu. Merangkulmu agar kamu tak jatuh dariku.

Tapi, bukankah itu mustahil? Bukankah itu hanyalah angan-angan yang tak mungkin akan tercapai.

Aku belum juga bisa tertidur.

Aku teringat ketika bunga berkembang di taman itu. Dan, kamu mencoba memetikanya dan menyerahkannya kepadaku. Ada beribu kumbang di sana. Ada beribu jenis bunga di sana. Ada beribu mata yang memandangnya di sana. Tapi, itu dulu.

Sekarang, aku tak lagi memiliki bunga. Aku tak lagi melihat bunga. Aku tak lagi bisa berjalan-jalan di taman bunga. Aku tak lagi mampu bertahan dalam buaian bunga yang harum semerbak.

Aku belum juga bisa tertidur.

Di taman bunga itu, aku selalu memendam rasa yang tak pernah kurasakan selama ini. Aku begitu manja dengan suasana di taman itu. Aku lupa, bahwa aku adalah laki-laki. Aku lupa, bahwa aku tak pernah menginjakkan kaki di taman bunga. Namun, hari itu, aku betul-betul terbuai dalam dekapan dan belaian bunga-bunga yang banyak kumbangnya.

Kini, aku masih saja tak bisa tertidur.

Berawal dari taman bunga itu, aku kembali ingin bermimpi untuk menggapai bintang yang paling terang. Aku ingin menyambut pagi dengan belaian bunga itu. Tapi sayang, bunga tak laki mekar, bunga tak lagi ada di depanku. Tak lagi terlihat bola mataku yang semakin hari semakin tak melihat. Aku ingin bermimpi, namun aku tak bisa tertidur.

Dan, kepalaku kini perih. Aku terlalu banyak berpikir tapi aku tak bisa bertindak. Aku ingin bermimpi, tapi aku tak bisa bermimpi. Langkahku kini, hanya berada di tempat. Tak bisa kemana-mana lagi. Aku memandang lagi kelangit sana, namun buram yang kulihat. Aku berbalik, namun aku takut aku tak bisa tertidur lagi.

Sungguh, aku bingung. Senandung rindu kini berjibaku dalam sanubari hati. Perih rasanya jika mimpiku terbungkus dan membeku. Aku tak bisa berdiam. Tapi aku tak bisa melangkah. Aahh.. aku bingung. Semakin bingung dengan cakar-cakar jari ini. Tapi, aku tak bisa tertidur!

Mataku pening. Hatiku teduh. Pikiranku beku. Langkahku terkunci. Mulutku terdiam. Aku tak bisa merasa. Aku hanya mampu berdiam diri. Menunggu lagi yang tak jelas ada sinarnya. Kemudian menunggu malam yang tak jelas ada bintangnya.

Dan, aku tak juga bisa tertidur.

Yuh. Di larut malam penuh laron, ingatanku kembali menyentuh sesuatu. Tapi aku masih bingung itu apa. Aku masih saja menengok ke langit yang hitam nan gelap. Penuh misteri dalam terangnya. Aku merindukan itu. Merindukan taman bunga itu. Merindukan kumbang-kumbang itu. Merindukan semuanya. Merindukan kita yang dulu bersemayam dalam hati yang terpikat. Ber-adu lari di taman itu. Saling sapa di taman itu. Saling rangkul di taman itu. Tak peduli, terlihat oleh berjuta-juta pasang mata.

Aku masih saja tak bisa tertidur.

Dan ternyata, aku tak bisa berdaulat atas diriku sendiri. Aku selalu saja ego pada diriku sendiri. Dalam diriku, ada semacam kurcaci-kurcaci genius yang jail. Jail menjaili diriku.

Bantaya Lanoni, 03 Mei 2014     

Leave a Reply