Aku, Pelangi, dan Risau

Pelangi itu menghampiriku. Ia membawakan senyum manis di sore hari setelah hujan meredah sejenak.

“Tersenyumlah,” sapanya mengajak. “menarilah sekarang. Saatnya bernyanyi riang, sebab aku akan menemanimu di sini bersama warna-warniku dan kupu-kupu yang beterbangan itu,” lanjutnya.

Ia terus bicara memekik. Dan kupingku terus-menerus menunggu kalimat selanjutnya.

“Usah resah dengan sifat kawanmu yang angkuh itu,” bisiknya di telinga kananku. “Biarkan ia berbangga ria dengan kesombongannya dan merendahkan kawanmu yang lain.”

“Aku tak pernah memikirkan kesombongannya, wahai pelangiku yang indah. Aku memikirkan, mengapa engkau sering hadir di saat hujan redah.”

“Dan aku menyarankan, kawan, tak perlu kamu pertanyakan aku. Aku hanya ingin perlihatkan keindahanku dimatamu yang bulat itu. Sebab, sejak kemunculanku beberapa hari lalu, engkau begitu sangat gelisah. Di balik matamu yang memerah itu, kamu menyimpan segudang kegalauan. Bukankah begitu?”

“Olehnya, aku hadir disini, untuk membahagiakanmu, itupun jika aku berhasil.”

Aku teringat istriku secara tiba-tiba. Aku abaikan pelangi yang indah itu sejenak sebelum aku duduk di atas batu cadas di tepi pantai Tonggolobibi.

“Talai,” panggil istriku dalam instingku.

Belum juga aku menjawab. Pelangi menyambar, “Nah, itu kan, kamu punya banyak masalah, Talai.”

Pelangi itu sedikit ngawur. Ia terus menyapaku namun aku terus juga mengabaikan setelah lama tak bersua.

“Aku sarankan padamu, Talai,” gumam sang pelangi tiba-tiba. “pandanglah aku sepuas hatimu,” ajaknya sekali lagi. “Sebab, sebentar lagi aku akan pergi dan, aku tak tahu pasti, kapan aku berjumpa denganmu lagi.”

“Stop,” teriakku sebesar mungkin. Batu cadas pun sedikit bergerak akibat getaran suaraku.

“Kamu masihlah sangat muda, Talai. Jangan kamu habiskan waktumu hanya bermimpi, berkhayal yang tak jelas, dan kamu tak melakukan sesuatu apapun tentang mimpi-mimpimu itu.”

Pelangi terus-menerus menghajar gendang telingaku. Akibatnya, daun telingaku sedikit berkegak-gerak.

“Tak betahkan bola matamu itu memandang sejuta keindahan pada wujudku saat ini?” ia terus menterorku.

Pada masa-masa itu:

“Aku minta maaf telah membentamu, wahai sang pelangi pemberi keindahan dunia,” kataku mengharap maaf darinya. “terima kasih engaku telah sudi datang, memperlihatkan wujudmu warna-warnimu. Aku sedikit risau, wahai pelangi,” lanjutku sambil aku mengangkat kepala dan tanganku.

“Sekali lagi aku meminta maaf, dan sekaligus aku berterima kasih kepadamu. Kepadamu wahai pelangiku. Jika memang suatu saat aku tak berjiwa lagi, maka aku titip pesan kepadamu. Dan pesan ini, kuharap engkau sampaikan ke kawanku.”

“Apa itu?” tanya Pelangi datar.

“Wahai pelangi,” aku kembali mengangkat tangan. “engkau mesti mengetahui, bahwa di dunia ini, aku memiliki puluhan bahkan ratusan kawan. Sejak aku lahir di dunia ini, sejak aku sudah tahu buka mulut, nonton tivi, main lompat-lompatan, tahu membaca, tahu menulis, hingga aku tahu menyusun kata-kata menjadi satu kalimat indah, aku sudah memiliki banyak kawan.”

Pelangi tak berkata apa-apa. Ia menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulutuku.

“Pelangi,” panggilku pelan. “dari puluhan hingga ratusan kawanku itu, hanya satu yang betul-betul membuatku risau.”

“Siapa itu, Talai?” tanyanya penasaran.

“Tentunya, ia bukan berkawan dengan Hans Kelsen, atau ia bukan berkawan dengan Soekarno, apalagi berkawan dengan Karl Marx. Ia berkawan denganku, juga berkawan dengan kawan-kawannya yang lain, mulai dari anak Sekolah Dasar, hingga pada pebisnis batako. Ia begitu congkak, wahai pelangi. Begitu sombong, juga rasis. Dan aku risau dengan prilakunya itu.”

“Kenapa risau, Talai?”

“Ia, kawanku, wahai pelangi. Ia kawan baikku. Dulu, aku mengenalnya tak secongkak itu. namun, setelah ia lama berkawan denganku, aku tak bisa mengendalikan kecongkakannya yang sungguh luar biasa. Ia juga rasis, pelangi,” kataku pelan. “ia begitu rasis. Kadang-kadang tak berprikemanusiaan. Ia menganggap manusia bukanlah manusia. Ia hina manusia layaknya bukan manusia. Aku risau, pelangi.”

“Lalu siapa dia?”

“Kata seorang kawanku, jika dalam kelompoknya kawanku yang super congkak itu, maka siap-siaplah ia dikucilkan. Katanya, kawan-kawannya—kawanku itu tak suka manusia yang demikian. Namanya Jukno, wahai pelangi.”

“Maksudmu kawanmu yang sombong itu? yang congkak itu?”

“Yah, tepat pelangi. Tepat sekali. Dan sekarang, meskipun kamu menampakkan keindahanmu tepat di depan bola mataku, aku tak hirau, karena aku risau.”

Pelangi tak bersua. Ia bengong dan sedikit malu. “Apakah engkau akan pergi?” tanyaku.

Namun ia tak juga bersua. Sedikit demi sedikit, warna-warninya memudar ditelan malam. Dan, pergilah ia.

Di pantai itu, hanya ombak saja yang bergerak, lainnya sedikit mematung tak saling sapa. Dan aku sendiri ditinggal pelangi. Sedang kawanku masih dalam kecongkakannya.

Bantaya Lanoni, 09 Mei 2013

Discussion

Leave a Reply