Harus Meraih Mimpi Itu!

10341871_453516801417671_2359098011329345610_nHari ini aku sendiri duduk disini, menanti sang mentari menerangi bumi manusia. Aku sempat bingung dan pusing, sebab sekian buku telah aku bolak-balik untuk menemukan inspirasi melanjutkan tulisan tanganku yang sudah beberapa ratus lembar banyaknya. Tulisan itu sudah berpuluh-puluh hingga beratus-ratus hari lamanya terpendam dalam laptop ini untuk dijadikan sebuah buku. Itu mimpiku.

Sejak SD, aku tak suka membaca. Apalagi menulis. Aku hanya menemukan inspirasi-inspirasi dari berbagai objek. Termasuk mentari yang aku tunggu-tunggu sejak malam itu.

Kini, ada sebuah wacana yang melintas di otakku, menurutku ini akan berujung pada pilu. Tak perlulah aku cantumkan disini.

Dari situ, aku terdorong untuk menulis. Dari setiap perjalananku di alam bebas pada pendidikan-pendidikan lalu. Sebab, dalam setiap perjalanan wajib untuk didokumentasikan: melalui tulisan. Ini yang kemudian, setiap mentari terbit dari ufuk timur aku harus menorehkan tinta hitam di atas buku “campuranku”. Aku sebut sebagai buku campuran karena, buku itu aku pakai untuk apa saja, misalnya mengikuti seminar, diskusi, wawancara, dan catatan harian.

Dan, pada hari ini juga, setelah aku membolak-balikkan lembaran buku yang sudah aku koleksi itu, aku sepakat dengan Descrates, bahwa aku tahu, aku sedang tidak tahu.

Dan dengan kebijaksanaanku itu, bahwa aku tahu aku tidak tahu apa-apa, sang mentari berlahan-lahan menyinari bumi—bumi manusia. Dengan bantuan ciptaan Allah S.W.T. itu, kini imajinasi pulih meski hanya secuil. Namun satu hal, aku tahu bahwa aku tak tahu.

Ini hanya objek. Objek untuk meraih mimpi-mimpiku itu. Mimpi untuk menorehkan beberapa huruf yang tercantum di halaman sampul buku: tertera namaku. Walau tak punyai bakat menulis sewaktu mengenyam Sekolah Dasar, menurutku, cukuplah ribuan objek menjadikan inspirasi bagi pikiranku.

Aku harus meraih mimpi itu!!!

Bantaya Lanoni, 26 Juli 2014.

Leave a Reply