Icank

Aku memanggilnya Icank. Putra kampung yang sering terseok-seok dikala bicara. Lidahnya seperti tak lancar mengeluarkan abjad. Kadang-kadang ia memaki. Jika bangun pagi, ia sering mengkhayal di depan pintu. Maka tak jarang, ia dapat tendangan gratis—kaki bapaknya. Usianya 4 tahun lebih tua dariku. Setiap hari senin saat sekolah dasar itu, aku sebaris dengannya.

Tak ada komentar-komentar apapun jika bunga mawar mengembang di pagi hari. Apalagi jika kumbang bermain-main di atasnya. Hanya saja, wajahnya yang sedikit berkotak itu, tak pernah menunjukkan keceriaan. Aku tak paham mengapa ia seperti itu, yang jelas, ia suka berbisnis.

Suatu hari, ia memandang kosong ke suatu tempat. Menurutku, objeknya menjadikan ia begitu melankolis. Di sana, ayam jago itu sedang mengincar ayam betina.

Pikirannya melayang-layang entah ke mana, namun bijih matanya yang bulat kecokelat-cokelatan itu, sama sekali tak bergerak. Hingga akhirnya, angin membawa pikirannya itu ke suatu tempat. Tempat di mana orang-orang berkumpul—berharap menang.

Tempat itu sebesar lapangan takraw—berbatas dinding karung setinggi satu meter di sekelilingnya. Orang-orang meriuk-riuk. Bertepuk tangan. Berteriak-teriak. Memaki-maki. Tertawa terbahak-bahak. Dan Icank, ia akan menjadikan ayam jago tadi memasukkanya ke arena pertarungan itu. Ia manggut-manggut gembira.

“Nampaknya, bisnisku kali ini cukup meyakinkan,” pikirnya.

Aku berharap ia tak melanjutkan niatnya itu. aku hanya ingin ia lebih giat berlatih vocal. Sebab, sungguh menjengkelkan jikalau ia bernyanyi.

“Suatu hari, Icank, ayam itu akan melihatmu menderita,” ucapku kepadanya. “Jangan kau main-main dengan hewan yang berak sembarangan itu, sebab, betinanya tak akan bisa bertelur lagi.”

“Sembarang-sembarang kau menghina ayamku! Tak peduli apa katamu! Sudah dua juta uangku habis hanya untuk membesarkannya,” kata Icank menantang, sambil pula menunjuk-tunjuk ayam jagonya itu. “Apa gunanya ia disebut jago? Ayam itu harus mengembalikan pengeluaranku.”

Rupa-rupanya ia keras kepala. Pantas saja cuaca di hari itu begitu panas.

Angin sial itu telah merusak otak Icank. Untung saja ia bukan otak udang. Aku menyeringai. Aku ingin memakinya. Namun, pantaskah ia untuk dimaki? Ah, Icank, rasanya kau tak pantas untuk dimaki. Pantasnya kau memotong ayam jagomu itu, lalu ditenggelamkan di dandang.

 

*****

Tanpa mengikuti saranku, Icank terus-terusan menyeberangi sungai—membawa ayam jagonya itu. dilemparkannya ke dalam tempat penyabungan. Lelaki tua berkumis tipis merasa tertantang. Ia memasukkan pula ayam jagonya. Maka beradulah kedua ayam jago itu.

Pada ronde pertama, matahari berangsur-angsur menyipir ke timur. Riuh-riah memecah udara penuh polusi. Sorai-sorai melambai-lambai ke segala penjuru.

“Jangan kau permalukan aku, si merah,” teriak Icank penuh semangat. Jidatnya berminyak. Nampaknya, minyak kemiri tadi pagi yang ia usapkan di rambutnya itu telah dipreteli matahari. “Teruslah, Merah, terus… tendang dadanya… masukkan tajimu itu, ke dagingnya…”

Si Merah, ketika pertama kali masuk dalam ring pertarungan itu sudah tergugup-gugup. Icank ternyata tak menyadarinya. Ia hanya memikirkan uang dua juta miliknya, ludes hanya untuk membesarkan ayam jagonya. Namun ia lupa, si Merah itu, hanya jago menjantani betina. Dan parahnya, ia masih saja berteriak-teriak hingga suaranya parau. Dan lawannya, Om Jack, tak kalah besar suaranya.

Belum selesai ronde ke tiga, si Merah itu angkat bendera putih. Ia lari tunggang langgang. Si Merah terpeleset. Terjatuh. Sepanjang jalan ia lari dalam arena itu, darah berceceran di tanah. Ayam jago Om Jack menyepaknya lagi. Menyepaknya terus-menerus, hingga tajinya tak bisa lepas dari daging Si Merah.

Icank muram. Jidatnya masih saja mengkilap-kilap. Si Merah tewas. Matahari terbenam.

“Sudah kubilang, ayam jagomu itu loyo, namun keras kepalamu bukan main,” kataku menyinggung.

“Menyesal!” katanya senduh.

Bantaya Lanoni, 14 Agustus 2014

Leave a Reply