Suara Itu!

Pada masa-masa yang sesempurna bagaimanapun, tetap ada namanya penghianat. Penghianat selalu saja mengganggu pada alam kelebihan dan kekurangan manusia. Ini yang terjadi di sebuah kampung terpencil yang kurang penghuninya. Pak Talai, kepala suku yang rajin mengajar mengaji, kini ditempa situasi yang tak disangkahnya.

Dalam kesehariannya, Pak Talai bingung! Menerka sifat-sifat manusia yang dipimpinnya adalah satu hal yang teramat sulit. Sebab, prilaku yang berubah-ubah menjadi satu tantangan yang luar biasa.

Sore yang mendung. Desis angin memekik telinga. Sementara, di dapur tetangga, seringkali terdengar suara gelas dan piring kaca menyentuh lantai. Suara teriakan-teriakan juga terdengar di sana. Saling bentak. Meski telinga istri Talai sedikit tidak normal, namun batinnya tak cukup untuk berhenti di tengah pintu. Ia ingin menengok ke tetangga yang sedari seminggu kemarin selalu menghasilkan ribut pada titik dapur. Kebiasaan yang tak normal itu, mengundang awan segera bersatu dan menghasilkan hujan.

“Apa yang terjadi gerangan?” ucap Ibu Mina kepada Suaminya, Pak Talai.

“Jangan kamu campuri urusan keributan itu, Bu!! Biarkan mereka, dengan sesuka hati mereka, mengobrak-abrik dapur mereka.”

“Tapi….”

“Apa? Tapi apa?!” bentak Talai ke Istri yang sudah sepuluh tahun dinikahinya itu.

Bentakan itu membuat Ibu Mina berhenti bicara. Ia terenyuh. Sedih pula. Angin nampaknya hanya sebagai pelipulara di rumah yang tinggi itu. Sementara, tetangganya yang hanya mencapai lima meter dari rumahnya itu, selalu saja menciptakan suara yang tidak semestinya. Ibu Mina tak habis pikir, kenapa suaminya, sebagai pemimpin di kampung itu, terlihat begitu apatis dengan situasi tetangga. “Ada apa gerangan?” batin Ibu Mina.

Resah. Hati Ibu Mina begitu resah akibat bunyi-bunyian itu. Ia lantas pergi ke dalam kamar, lalu mengunci rapat-rapat pintu kamar. Ibu Mina berbaring. Telinganya ia tutup dengan bantal yang sudah setahun tak di cuci. Namun sayang, suara itu semakin keras saja berdendang di telinganya. Ia betul-betul tak tahan. Semakin ditutupnya, semakin keras pula suara itu. Ia lantas keluar kamar lagi.

“Mau kemana lagi?” Talai menyahut dari ruang tamu yang tak begitu besar.

“Yang jelas, aku tak mengintrik pada siapapun.”

“Lantas?” Pak Talai sedikit geram. “Kamu begitu resah, istriku, ada apa?” lanjutnya sedikit halus.

“Pak. Bapak ini sebagai pemimpin nda sih?” Tanya Ibu Mina agak senduh. “Kenapa?”

“Haaa… kenapa? Apanya yang kenapa? Maksud kamu apa, Bu?

Ibu Mina terdiam di balik pintu tak ber-cat dan begitu kasar itu. Ia lantas menegok ke luar rumah di balik jendela di samping kirinya. Ia buang pandangan penuh makna itu. Sementara Pak Talai masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.

“Ada apa?” Tanya Pak Talai sekali lagi.

Hujan mengguyur begitu derasnya. Suara dari rumah tetangga itu semakin lama semakin bertambah keras saja. Sementara, anak-anak mereka tak tahu perginya ke mana. Kemungkinan bermain. Kemungkinan pula, merekalah yang menghasilkan suara piring ke lantai itu. Ah, entahlah. Ibu Mina nampak muram. Wajahnya berubah menjadi muram tak bercahaya. Laksana cuaca di sore itu. “Sore yang tak membawa berkah.” Batin Ibu Mina.

Pak Talai berlahan-lahan menghampir Ibu Mina. Memegang pundak seraya berkata:

“Ada apa, Bu? Apa aku berbuat salah?”

“Bapak dengar, suara bunyi yang sedari tadi memekik telinga itu?”

“Iya, dengar!! Lantas?”

Astaghfirullah aladzim, pak….” Ibu Mina meng-elus-elus dadanya. Sedikit sesak mendengar itu. Ia menunduk sejenak. Kemudian melanjutkan, “Ibu jadi khawatir dengan suara itu. Kemungkinan piring dan gelas kaca mereka sudah habis pecah, Pak!! Itu bertandakan, bahwa mereka sedang bertengkar. Dan, ini tidak seperti biasanya. Baru terjadi kali ini. Bapak tidak memikirkan sesuatu atas suara itu?”

Pak Talai kemudian menggenggam tangan Bu Mina. Ia genggam penuh kasih sayang. Dan yang ia lakukan itu, adalah hal yang baru. Iya. Baru kali itu. Dan, Ibu Mina tentunya heran dan sedikit tersipu malu. Seketika Ibu Mina melupakan suara itu. Suara yang berpotensi mengakibatkan perceraian.    

“Sedari tadi, sebenarnya, bapak tahu apa yang kamu risaukan, istriku,” kata Pak Talai dengan mesra dan masih menggengam tangan perempuan yang sudah menghasilkan tiga anak itu. “Biarkanlah mereka. Biarkan mereka selesaikan sendiri masalah mereka…”

“Kenapa dibiarkan?” katanya mendesak. “Bapak pemimpin, kan? Pemimpin  di kampung ini, kan?”

“Yah, istriku. Tapi kamu sudah tahu, kan, aku tak suka dengan penghianat?”

“Haaaa…” mulut Ibu Mina menganga setengah. Berpikir-pikir, apa maksud suaminya sebenarnya.

“Iya, bu…. Bapak tahu, mereka sedang berkelahi. Istri Pak Samir pasti sudah tahu, bahwa suaminya selingkuh di luar sana. Dan, aku juga tahu itu baru kemarin. Baru kemarin, bu. Aku tahu dari kampung sebelah. Selingkuhannya itu ternyata dari kampung sebelah. Ia mengaku pada perempuan itu, bahwa ia sudah bercerai dari istirnya yang sedang berkelahi dengannya itu. Bapak tak habis pikir sebenarnya, mengapa Pak Samir begitu tega mengkhianati istrinya yang setia itu.” Pak Talai berhenti sejenak. Lalu melanjutkan:

“Dan, walaupun ibu memaksaku membantu, aku tak bisa. Ibu tahu sendiri, aku benci dengan pengkhianat. Aku tak bisa membantu para pengkhianat. Pengkhianat apapun itu. Dan, Pak Samir salah satunya. Meskipun ia tetangga kita, namun aku, aku sungguh tak bisa, bu… paham kan? Imam di kampung itu sebenarnya sudah tahu pokok persoalannya. Namun sayang, ia tak memberitahuku sedari awal. Seandainya iya, maka aku akan membantu menyelesaikan permasalahan itu. Meski aku benci—sebenci-bencinya pada penghianat. Ini sebuah permasalah baru pada kampung kita. Kemungkinan, menjamurnya pengianat ini gara-gara televisi yang sudah mulai masuk di kampung ini. TV mengajarkan para tetangga bagaimana cara selingkuh. Bapak ingin memberitahumu satu hal, jangan sekali-kali nonton TV yang acaranya tak penting.”

Pak Talai kemudian masuk ke dalam kamar. Kemudian ia keluar lagi. Ekor mata Bu Mina mengikuti. Namun hanya sebatas balik pintu. Pak Talai turun dari rumah tinggi itu menuju ke kebun. Walau hujan, ia ingin mengabarkan kepada langit, “Aku benci pada penghianat,” katanya berteriak.

Bantaya Lanoni, 14 Agustus 2014.

 

Leave a Reply