Surat Terbuka: Soe Hoe Gie, Andai Kau Masih Ada!

Soe Hoe Gie, Andai Kau Masih Ada!

ghAh, Soe Hoe Gie, pertama-tama aku memohon maaf telah berani menuliskan namamu. Namun aku yakin, kau pasti tenang di alam barzah.

Gie, aku sengaja memanggilmu begitu, seperti film tentangmu, GIE. Aku ingin menuliskan surat terbuka untukmu, walaupun aku yakin, surat terbuka ini begitu tidak sistematis dan agak kocar-kacir. Aku mulai yah, Gie….

Gie, kau perlu tahu, aku adalah salah satu pemuda yang mengagumimu, juga mengagumi pemikiran-pemikiranmu. Beberapa bukumu, kini ada di tanganku. Begitu banyak orang-orang yang menuliskan sosokmu Gie—termasuk aku saat ini. Mulai dari peneliti, sejarawan, wartawan, mahasiswa, menuliskan dari perspektif yang berbeda-beda tentang kau. Di kalangan sejarawan, ada yang berpendapat, bahwa skripsimu yang dijadikan buku Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan itu, menilai kau adalah sejarawan.

Tahun 60-an, Gie, kau adalah pemuda yang terhitung pemberani. Kritikan-kritikanmu begitu menggelitik pada saat kepemimpinan Soekarno. Apalagi, sepengetahuanku, kau tidak sepakat dengan Demokrasi Terpimpin. Kemudian kau juga mengkitik kebijakan Soekarno tentang penyatuan paham Nasionalis, Sosialis, dan komunis atau yang disingkat, Nasakom itu. Begitu beraninya kau, Gie.

Dikalangan Mahasiswa, selain kau dikenal sebagai demonstran, kau juga  dikenal sebagai pendiri Mapala. Gagasanmu mendirikan Mapala begitu menggugahku. Sebab, kau tak tahan yang beberapa ormas dan organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan partai dan pemerintahan kala itu. Bagi mahasiswa yang punyai hobi bertualang di alam bebas, tentunya menyambut dengan baik wadah itu. Wadah yang menggembirakan untuk menepis dan menandingi organisasi-organisasi yang tampangnya elitis itu. Dan aku, senang akan hal itu, Gie!

Dan malam ini, langit yang tak membiru. Bintang-bintang yang tak nampak, aku menyapa….

Gie, aku ingin bercerita sejenak. Entah kenapa malam ini, menjelang hari di mana Republik Indonesia merayakan kemerdekaannya, tanganku ingin menulis tentangmu. Tentang di mana kau Berjaya dengan posisimu. Tentang pemikiran-pemikiranmu yang hingga saat ini masih hidup di negeri ini.

Gie, Berulang-ulang kali, aku membolak-balikkan buku Catatan Seorang Demonstran itu, bukumu sendiri. Buku yang memuat tentang catatan harianmu, Soe Hoe Gie.

Aku baca, bagaimana kau bercerita, dalam tulisan itu, “memaki” Sadjipto, yang sepakat dengan Soekarno tentang Nasakom-nya. Bagaimana kau mengkritik dengan pedas kawan-kawanmu yang masuk dalam pemerintahan dan DPR Gotong Royong kala itu. Menurutmu, bergabungannya di pemerintahan itu, sama dengan mengkhianati rakyat yang sering kau jumpai di jalanan dan sedang kelaparan.

Gie, aku ingin melanjutkan dalam buku catatanmu itu….

Kau mengatakan di sana, bahwa runtuhnya Soekarno, bukan berarti kemenangan tiba. Orde Baru, menurutmu, Gie, adalah musuh selanjutnya, bahkan orde yang ini lebih parah dari sebelumnya. Namun, Gie, kawan-kawanmu sebagian ikut dalam pemerintahan Orde Baru itu, sebagian pula ikut DPR Gotong Royong seperti apa yang saya tuliskan di atas. Namun Gie, namun kau lebih memilih untuk di asingkan daripada bergabung seperti kawan-kawanmu itu. Begitu idealisnya kau, Gie!!

Gie, kau masih saja terus-menerus mengkritik, bahwasannya, runtuhnya Orde Lama, tugas mahasiswa belumlah selesai, Orde Baru, adalah musuh baru….

Ah, Gie, seandainya saja kau masih bernafas….

Gie, kondisi Indonesia saat ini begitu amburadul. Korupsi di mana-mana. Mulai dari tingkat dusun hingga pada tingkat pemerintah pusat. Apa kau tak ingin mengkritiknya, Gie?

Gie, telah banyak manusia-manusia seperti kau yang hadir di negeri ini, namun sayang, hampir sama dengan kawan-kawanmu lalu yang masuk dalam lingkaran pemerintahan, setelah mereka punya kesempatan dan terlena dengan keadaan itu. Mereka telah ikut arus, Gie.

Gie, kata Komisi Pemberantasan Korupsi, bahwa yang korupsi itu, lebih dominan pemuda. Yang parahnya, Gie, mereka berpose di depan kamera dengan gayanya masing-masing. Dan kini, Gie, sebagiannya belum diketahui korupsi atau tidak, atau memang mereka konsisten untuk tidak melakukannya?

Gie, kau tahu, aku adalah salah satu pengagummu saat ini….

Namun sayang, aku tak bisa mengikuti jejak-jejak pemikiranmu. Alur logikaku terasa kaku. Aku butuh pertolonganmu, Gie, agar aku mampu mengkritik dengan lantang mereka yang sering memakan uang rakyat hingga mereka di penjara itu.  

Gie, untuk tahun 2014 ini, Republik Indonesia sudah berusia 69 tahun selepas dari jajahan Kolonial Belanda. Namun Gie, begitu banyak rakyat melarat, kelaparan, kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, kehilangan tempat tinggal, tidak bisa sekolah, tidak bisa pergi ke rumah sakit, dan masih banyak lagi, Gie. Dan kini, Gie, banjir terjadi di mana-mana.

Ah, seandainya kau, Gie, wujudmu masih ada!!

Gie, sumber daya alam di Negeri ini, sudah banyak terjual ke luar negeri. Investasi perusak hutan masih saja terus masuk. Apalagi, Gie, apalagi ada program MP3EI yang di gagas oleh presiden SBY bersama kroni-kroninya itu.

Gie, hutan di Negeri ini semakin tahun semakin banyak yang hilang. Kau tahu Gie siapa yang memporak-porandakan itu? Investasi industry ekstraktif, Gie. Itulah yang merusak hutan.

Ah, Gie, seandainya kau masih ada di Negeri ini.

Negeri yang kaya raya namun penduduknya miskin melarat. Banyak yang bunuh diri karena depresi—tak mampu menafkahi keluarganya. Ini negeri kita Gie, negeri yang apa saja ada di sini.

Gie, pemikiran-pemikiranmu yang kritis itu, kini telah di jadikan buku. Dan buku itu, baru ada tiga di tanganku: Catatanmu, Catatan Seorang Demonstran; Orang-orang Di persimpangan kiri Jalan; dan, Gie Sekali Lagi. Dan aku, aku belum mampu mencercap semuanya, Gie.

Gie, aku yakin, meskipun wujudmu sudah tak bersama mereka, namun pemikiran-pemikiranmu pasti masih tetap hidup dalam setiap perjuangan anak-anak muda yang idealis sepertimu. Aku yakini, bahwa para pencari keadilan sepertimu akan masih tetap hidup di negeri yang penganut paham kapitalisme ini.

Soe Hoe Gie,…

Terima kasih telah memberikan pencerahan terhadapku melalui pemikiran-pemikiranmu yang luar biasa itu. Melalui tindakan-tindakanmu yang tak kenal lelah itu. namun kini, Gie, hanya sebatas mencerah, aku tak bisa mengikuti jejak-jejak pemikiranmu itu, Gie!

Gie, ini adalah surat terbuka untukmu. Aku membuat ini untuk pertama kali untukmu yang damai di alam sana.

Ah, Gie, seandainya kau masih ada….

Maka aku yakin, kau pasti mengkritisi habis-habisan pemerintahan saat ini. Kau pasti membela para petani-petani yang sering saja dikriminalisasi, diintimidasi, dan bahkan ditembak mati, hanya karena apa, Gie? Hanya karena mereka mempertahankan hak-hak dasar mereka. Namun sayang Gie, Hak dasar mereka dirampas begitu saja, tanpa mempedulikan Hak Asasi Manusia. Gila kan, Gie?

Gie, sungai-sungai itu telah berwarna kecokelatan. Padahal sebelumnya tak demikian. Hanya karena ada aktivitas tambang di hulu, maka air itu menjadi keruh. Dan pastinya, Gie, pastinya air itu tak bisa digunakan rakyat. Parah kan, Gie?

Gie, kau begitu pemberani. Namun sayang, kau mati muda. Begitu banyak yang menyayangkan itu. namun aku yakin, pemikiran-pemikiranmu itu, akan selalu hidup di negeri ini, Gie.

Gie, aku ingin mengakhiri surat untukmu ini. Namun sebelumnya, sekali lagi aku minta maaf telah lancang menyebut namamu.

Dan, aku berterima kasih atas pemikiran-pemikiranmu.

Semoga kau damai di sana, Gie.

Bantaya Lanoni, 16 Agustus 2014

Discussion

Leave a Reply