Pemuda Peduli Kampung

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

*****

banner_30DSE2014Ketika Fajar mengentak-entakkan kakinya ke tanah, perempuan berambut lurus itu meringis. Kelihatannya, ia tak ingin, Fajar menunjukkan wajahnya yang sudah memerah itu. “Apa yang kamu buat selama ini?” suara itu menggema bagai berada dalam gua. Perempuan itu tersentak-terdiam seketika. Matanya berkaca-kaca—merasa bersalah.

Pagi itu, suasana di kampung mereka begitu riuh. Kampung yang tak terurus selama bertahun-tahun. Orang-orang hiruk-pikuk hampir-hampir bertabrakan. Fajar, pemuda pecinta lingkungan, mengharapkan ada perubahan di kampungnya. Setelah ia tinggalkan selama 7 tahun, ia seperti termengah-mengah melihat kampungnya yang luar biasa kotor dan gersang itu. Sehingga, pada malam sebelum sholat Isya di mulai, ia mengambil keputusan: mengumumkan di masjid Al-hidayah di kampungnya.

Assalamualaikum warohmatullahi wabbarakatuuuuh….” Katanya, membuka pengumuman penting itu. “Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudariku sekalian, harap dengarkan pengumuman yang penting ini.” Fajar mendehem sejenak. Sementara, orang-orang di kampung itu sedikit terkejut. Tujuh tahun lamanya tak pernah lagi ada pengumuman melalui corong masjid itu. Semua televisi dimatikan. Radio off. Anak-anak bermain petak umpet tiba-tiba berhenti. Mereka menajamkan indera pendengarnya.

“Esok pagi,” kata Fajar melanjutkan. “Kita adakan pertemuan, untuk seluruh masyarakat di kampung ini. Pukul 7 pagi. Mohon tepat waktu!!”

Langit menyambarkan petirnya—memotret sebagian bumi dengan kilatan cahayanya di malam itu. Orang-orang di kampung itu terlihat gelisah. Seorang pemuda yang 7 tahun menghilang kini tiba-tiba muncul, dan menggemakan suaranya—memerintahkan orang-orang di kampung tanpa pamit dengan Kepala Desa. Ada apa gerangan? bisik orang-orang kampung kebanyakan. Kini, orang-orang di kampung itu hilir mudik mencari tahu persoalan. Mereka berbondong-bondong ke rumah Fajar. Ada yang memakai sarung. Ada yang memakai daster dengan wajah penuh bedak basah. Namun, tak ada hasil.
Semalaman, orang-orang di kampung itu banyak yang tak bisa tertidur. Ini situasi yang menegangkan. Menunggu pagi, rasa-rasanya begitu panjang. Begitupun dengan perempuan separuh baya yang dibentaknya itu. Matanya seolah tak berkedip memandangi plafon rumahnya yang megah. Ia merintih dan sesekali memancungkan bibirnya. Dalam hati ia berkata, “Bisa-bisanya Fajar membentakku. Ada perubahan dalam dirinya. Apa yang terjadi pada dirinya?” Berlahan-lahan, pagi datang menjemput.

*****

Paginya, sebelum mentari menyinari kampung mereka, Fajar telah berada di tempat pertemuan. Sambil menunggu orang-orang yang akan ikut pertemuan, ia terlihat mengatur sesuatu di belakang Balai pertemuan itu. Dan di pagi itu, Fajar di temani perempuan yang pernah dibentaknya. Tak lama kemudian, orang-orang di kampung itu berkumpul—penuh penasaran dalam benaknya. Beratus-ratus jumlahnya. Tak lama kemudian, pertemuan yang misterius menurut warga itu pun dimulai. Tanpa banyak membuang waktu, Fajar membuka rapat dan mengutarakan apa maksudnya mengundang warga melalui corong masjid semalam.  

“Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian, kebetulan saya sudah menyediakan pohon untuk kampung tercinta ini.” Warga saling tatap satu sama lain. Bingung. “Kita akan menanam pohon di pinggir-pinggir jalan, di depan-depan rumah, di tempat-tempat umum, di pinggir-pinggir sungai, agar,” Fajar berhenti sejenak,  “agar kampung kita terlihat hijau. Juga, terasa asri dan sejuk.”

Perempuan berambut lurus dan bergigi kecil-kecil itu mengangguk-angguk. Matanya mengerjap memerhatikan pemuda tampan—pecinta lingkungan, yang telah menghilang selama 7 tahun itu. Sebetulnya ia terkagum-kagum. Ia merasa bersalah dengan pemuda berkulit hitam manis itu, sebab tak ada yang diperbuatnya untuk kampungnya sendiri.

“Ya…ya…ya setujuuuu…” teriak warga serempak. Setelah mereka tahu apa maksud dari pengumuman yang telah diperjelas dalam pertemuan di pagi itu, seluruh warga mendesak-desak agar segera melaksanakan ide mulia itu.  

 “Kelompok satu,” kata Fajar seraya ingin membagi kelompok.

“Tunggu dulu!” seorang tua berteriak dari belakang. Ia menyeringai—berjalan sempoyongan memakai sarung dan berkopiah. Ia terkekeh-kekeh.

“Apa yang kalian lakukan ini?” rupa-rupanya, orang tua bermental feodal itu tak mendengar gemahan suara Fajar semalam. Ia ketinggalan informasi—sebab, semalam ia bermain judi di kampung tetangga hingga pagi menjemput.

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Fajar, pemuda tampan pecinta lingkungan, naik darah. Ia lihat, langit yang tadinya membiru penuh bahagia, kini telah tertutupi awan menghitam. Pohon-pohon yang tumbuh seolah-olah runtuh, dan tercabik-cabik dari tanah. Suara itu sebetulnya, tak ia harapkan tertangkap daun telinganya, dan kemudian masuk ke gendang telinganya. “Untuk membangun kampung saja susahnya seperti ini,” batin Fajar menggerutu.

“He.. eh.. jawab,” kata orang tua berjenggot tebal itu menyentak.

Diam. Tak ada yang menjawabnya. Angin berhembus pelan. Dan, pemuda pecinta lingkungan itu mengangguk-angguk menulis satu persatu nama-nama yang masuk dalam pembagian kelompok menanam.

Orang tua itu menyeringai. Suaranya semakin menggelegar. Ia tak sukai membuat kegiatan di kampung itu tanpa sepengetahuannya. Sementara, kelompok satu yang terdiri dari tiga orang itu telah merapat ke Fajar menunggu perintah selanjutnya.

“Kalian, kelompok satu, kalian ke pinggir-pinggir sungai. Tancapkan semua pohon yang tersedia. Wakili mereka mengambil pohon di belakang!” Fajar menengok ke arah perempuan berambut lurus di samping kirinya. Peremuan itu tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.

Sementara, lelaki tua itu hanya mendehem-dehem kecil. Ia merasa malu tak ditanggapi seorang pun. Lelaki tua itu memang telah banyak berbuat salah kepada orang-orang kampung. Terlalu banyak kesalahan yang dibuatnya. Dari situlah, orang-orang di kampung itu tak pernah angkat bicara dengannya.

Dan di pagi itu, seperti ada sebuah mukjizat yang merasuki dirinya. Segera ia pulang ke rumahnya dan, mengganti pakaianya. Lalu, ia ikut bergabung dengan orang-orang kampung. Fajar lah yang membuatnya terenyuh, dan harus mengikuti ide Fajar.

 “Kelompok dua dan kelompok tiga,” Fajar kembali memanggil kelompok-kelompok lain. Ia masukkan pula lelaki tua itu dalam kelompok tiga. “Kalian di tempat-tempat umum: depan balai desa, masjid, gereja, puskesmas. Di tempat-tempat itu, kalian kokohkan pohon-pohon itu. Ingat, setiap kelompok harus bertanggungjawab atas tumbuhnya pohon-pohon yang telah ditanam. Jika suatu waktu ada yang tak tumbuh, harus diganti. Hingga ia tumbuh besar dan berbuah. Dan kita akan menikmatinya.” Suara Fajar menggelegar melalui toa kecil berwarna putih itu.

*****

Begitu ramai di kampung itu. Mendadak seperti sebuah kota—orang-orang hilir-mudik tanpa polusi. Memegang masing-masing dua bibit pohon, bahkan lebih untuk segera ditancapkan ke tanah. Yang lain, ibu-ibu membersihkan pekarangan rumah dan got-got kotor penuh sampah. Selama seminggu, Fajar mengaktifkan kampung yang telah lama kehilangan budaya gotong-royong itu.

Dan kini, kampung mereka terlihat asri, bersih, dan terasa enak bola mata memandangnya. Sementara, Kepala Desa, sang pemimpin, terhenyak melihat perlakuan pemuda tampan itu terhadap kampungnya. Selanjutnya, ia dijuluki sang pemuda peduli kampung.

 

Discussion

Leave a Reply