Sebuah Catatan: Melawan MP3EI

catsBanyak orang belum mengetahui, apa sih MP3EI, dan apa dampaknya untuk rakyat Indonesia?

Penulis sendiri, masih belum terlalu paham tentang MP3EI. Penulis baru mempelajarinya lebih jauh dari seorang kawan, yang telah melakukan riset berbulan-bulan mengenai MP3EI itu, khususnya di koridor Sulawesi Tengah. Ia juga telah memberikan sebuah buku sebulan lalu. Buku itu adalah hasil riset bersama kawan-kawannya, di seluruh Indonesia, di mana letak MP3EI itu berada.

Baru-baru ini, kebetulan saya menjadi notulensi dalam sebuah FGD (Fokus Group Discussion), dengan tema “Mendalami Krisis Sosial-Ekologi di Tapak Proyek MP3EI”, yang dilaksanakan oleh Sayogyo Institute Bogor, bekerjasama dengan FNPBI. Dalam diskusi terfokus itu, ada beberapa peserta yang hadir mewakili desanya untuk memaparkan, bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi di setiap desa-desa tersebut.

Inilah sedikit catatan dari diskusi terfokus tersebut, yang mencoba saya buatkan satu tulisan, yang entah tulisan apa namanya. Yang jelas, saya akan membuka kedok MP3EI yang sebelumnya, sudah dibuka oleh kawan saya peneliti sosial dan lingkungan itu.

Baiklah, kita akan lanjutkan. MP3EI adalah kependekan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. MP3EI adalah sebuah pola induk perencanaan ambisius dari pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi ini akan didukung berdasarkan potensi demografi dan kekayaan sumber daya alam, dan dengan keuntungan geografis masing-masing daerah.[1] Nah, di Kota Palu, itu biasa disebut sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang dilengkapi satu transportasi, enegri, dan pabrik-pabrik.  

Di Indonesia, masuk beberapa pulau, di antaranya: koridor Sumatera (sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energy nasional); koridor Kalimantan (pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energy nasional); Koridor Sulawesi (pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional); koridor Jawa (pendorong industry dan jasa nasional); koridor Bali-Nusa Tenggara (pintu gerbang pariwisata nasional dan pendukung pangan nasional); koridor Papua-Kepulauan Maluku (pengembangan energy, pangan, perikanan, dan tambang nasional).

Semua koridor itu, untuk mensukseskannya, tentunya perlu diatur kepastian hukumnya, olehnya, SBY, sang presiden penggagas MP3EI, telah menerbitkan sebanyak 27 regulasi untuk menunjangnya. Salah satunya Perpres nomor 32 tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2015. Dari sisi itu, tentunya pemerintahan SBY, harus mensukseskan MP3EI, yang dianggap sebagai penyelamat bangsa dan rakyat Indonesia. Mengapa tidak, proyek ini, digadang-gadang akan membuka lapangan pekerjaan jutaan rakyat Indonesia hingga pada tahun 2025.

Nah, sekarang kita bertanya, MP3EI itu sebenarnya karya siapa? Apakah karya orang genius, atau orang pintarnya pemerintah? Setelah di teliti lebih jauh, ternyata MP3EI itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri di Indonesia. Karya ini, bukanlah karya SBY, namun sampai pada tataran dan kehendak global. Jadi, membaca MP3EI itu, mestinya membaca ruang. Sebab, ini adalah proses ruang produksi global. Dan, untuk mewujudkan semua itu, mesti menghilangkan hambatan-hambatan agar perluasan dan percepatan segera terwujud. Semua itu, kapital-lah yang menjadi satu relasi antara buruh, petani dan segala macam.

Jadi, MP3EI ini adalah agenda global, yang menginvestasikan uangnya ke Indonesia. Kapital, terutama Amerika dan Negara-negara di Eropa, mengalami krisis. Krisis ini, disebut sebagai melimpahnya money, namun tidak ada investasi baru, maka uangnya tidak berkembang atau bertambah. Jadi, krisis itu bukan karena ketiadaan uang. Namun, terkumpul di satu kelompok masyarakat orang-orang kaya. Olehnya, uang itu mesti digerakkan secara terus-menerus, agar tidak mengalami krisis, dalam bentuk investasi.

Mengapa proyek MP3EI itu muncul?

Hal ini disebabkan oleh pergeseran produksi kapital, yang menyasar ke wilayah-wilayah yang memberikan profit lebih. Pada tahun 2008 dibicarakan di tingkat Asean, untuk menangani krisis tersebut. Di Jepang, tiba-tiba ada sekelompok orang, mengantri di Kota Tokyo—untuk mencari pekerjaan, yang kemudian menciptakan kepanikan. Maka terciptalah pertemuan pada tahun 2008 tersebut. Didirkanlah satu lembaga untuk keluar dari krisis. Yang melahirkan CPEA. Document ini dirancang menjadi kawasan pasar bebas Asia. Barang yang diproduksi setiap Negara Asena, bebas dipasarkan.

Mengapa dia bergeser ke Indonesia? Ini juga  bisa dilihat deindustrialisasi di Eropa dan di Amerika. Karena perkembangan yang tidak merata, memungkinkan mereka mereorganisasi. Misalnya gaji buruh di Thailand itu naik. Maka pabrik mesti dipindahkan ke Indonesia. Itu namanya reorganisasi Kapital. Tetapi syaratnya, buruhnya harus murah. Dan ada bahan baku yang melimpah.

Sedehananya, MP3EI itu, dapat mempercepat kemiskinan. Mengapa? Karena MP3EI membutuhkan ruang yang luas. Sehingga, dapat menyingkirkan petani. MP3EI itu, juga dapat mempercepat kerusakan lingkungan.

Dari semua itu, maka MP3EI sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan oleh semua orang, bahwa ia akan betul-betul mensejahterakan seluruh ummat manusia di Indonesia. Ini hanyalah satu agenda global yang mengalami krisis, dan menginvestasikan uangnya ke Negara-negara berkembang.

Bantaya Lanoni, 23 September 2014

 

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Masterplan_Percepatan_dan_Perluasan_Pembangunan_Ekonomi_Indonesia

Leave a Reply